Amerika Serikat (AS) dan Iran mengakhiri putaran terbaru perundingan tidak langsung di Doha, Qatar, pada Rabu (2/7). Namun, kedua negara belum menunjukkan kemajuan berarti menuju kesepakatan damai permanen.
Menurut sejumlah sumber yang mengetahui jalannya perundingan, delegasi kedua negara selama dua hari terakhir lebih banyak membahas implementasi kesepakatan sementara yang dicapai dua pekan lalu. Fokus pembicaraan mencakup lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz serta pencairan kembali dana milik Iran yang sempat dibekukan.
Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan putaran perundingan berikutnya akan digelar setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang dijadwalkan berlangsung pada 9 Juli.
Juru bicara Kemlu Qatar menyebut pembahasan di Doha menghasilkan kemajuan positif terkait implementasi nota kesepahaman yang mengakhiri perang pada Juni lalu. Menurutnya, perundingan tersebut juga melanjutkan hasil pembahasan dalam pertemuan sebelumnya di Swiss.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengklaim pembicaraan mengenai kemungkinan pembatasan program nuklir Iran berjalan positif.
"Denuklirisasi Iran berjalan dengan baik. Mereka telah menggelar pertemuan yang sangat baik, dan kita lihat nanti hasilnya," kata Trump kepada wartawan, seperti dikutip dari Reuters.
Namun, sumber Reuters menyebut isu program nuklir justru tidak dibahas dalam perundingan di Doha karena pembicaraan kali ini bersifat teknis.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan isu nuklir akan menjadi agenda pada tahap negosiasi berikutnya.
"Jelas kami mengkhawatirkan isu nuklir, dan kami akan mulai membicarakannya," ujar Vance.
Dalam perundingan tersebut, delegasi AS dan Iran tidak bertemu secara langsung. Kedua pihak menggelar pertemuan terpisah dengan mediator dari Qatar dan Pakistan.
Menantu Trump, Jared Kushner, serta utusan khusus AS Steve Witkoff yang sebelumnya dikirim ke kawasan Timur Tengah juga tidak menghadiri sesi pembicaraan tersebut. Kushner merupakan menantu Trump.
Ketua delegasi Iran yang juga Wakil Menteri Luar Negeri, Kazem Gharibabadi, memastikan perundingan telah berakhir. Namun, baik Iran maupun AS tidak mengungkap apakah keduanya berhasil mempersempit perbedaan dalam negosiasi.
Salah satu isu utama yang masih menjadi perdebatan adalah status Selat Hormuz.
Berdasarkan kesepakatan sementara, Iran dan AS sepakat membuka kembali jalur pelayaran di selat strategis tersebut yang sebelum perang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Meski aktivitas pelayaran mulai pulih, status Selat Hormuz masih belum sepenuhnya jelas. Pekan lalu, AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan setelah terjadi serangan Iran terhadap sebuah kapal kargo.
Dua pejabat senior Iran mengatakan pemerintahnya tetap bertekad memperoleh pengakuan internasional atas kendalinya terhadap Selat Hormuz, termasuk bila harus ditempuh dengan kekuatan militer.
Iran juga berulang kali menyatakan akan mulai mengenakan tarif bagi kapal yang melintas mulai pertengahan Agustus, setelah masa bebas biaya sesuai kesepakatan sementara berakhir.
Di sisi lain, Trump menilai peluang kembalinya perang terbuka dengan Iran semakin kecil.
"Saya pikir mereka telah membuat kemajuan yang jauh," ujarnya.





