Jakarta: Inflasi Indonesia kembali meningkat pada Juni 2026, didorong oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi serta tekanan harga sejumlah komoditas pangan.
Kondisi tersebut dinilai mencerminkan mulai menguatnya tekanan biaya produksi yang berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Analis Mirae Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mengatakan inflasi bulanan pada Juni 2026 mencapai 0,4 persen secara bulanan (month-on-month/mtm), lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,3 persen.
Menurut Jessica, kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi bulanan dengan kontribusi sebesar 0,26 poin persentase.
Peningkatan tersebut dipicu oleh dua kali penyesuaian harga BBM nonsubsidi sepanjang Juni, yakni kenaikan harga Pertamax Turbo sebesar 4 persen pada 1 Juni dan Pertamax sebesar 32 persen pada 10 Juni.
"Penyesuaian harga BBM memberikan dampak langsung terhadap kenaikan biaya transportasi sehingga menjadi faktor utama yang mendorong inflasi selama Juni," ujar Jessica dalam risetnya.
Selain transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut memberikan andil sebesar 0,06 poin persentase terhadap inflasi bulanan. Kenaikan harga bawang merah, bawang putih, dan beras menjadi pemicu utama akibat terganggunya pasokan serta mulai meningkatnya tekanan inflasi impor.
Jessica menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah sekitar 7,4 persen sejak awal tahun, ditambah kenaikan biaya impor global, mulai tercermin pada harga sejumlah komoditas pangan di dalam negeri.
Secara tahunan, inflasi Indonesia tercatat naik menjadi 3,3 persen pada Juni 2026 dari 3,1 persen pada bulan sebelumnya. Dengan demikian, inflasi kumulatif sepanjang semester pertama tahun ini telah mencapai 1,8 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan kontribusi 1,36 poin persentase. Peningkatan harga ikan segar, beras, dan minyak goreng menjadi faktor utama yang menopang kenaikan tersebut.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi menjadi kontributor terbesar kedua terhadap inflasi seiring masih tingginya harga emas.
Di sisi lain, Jessica mencatat penurunan harga ayam dan telur membantu meredam tekanan inflasi. Sepanjang tahun berjalan, harga ayam turun sekitar 11,5 persen, sedangkan harga telur terkoreksi 10,8 persen.
Kelompok transportasi juga memberikan kontribusi sebesar 0,55 poin persentase terhadap inflasi tahunan. Menurut Jessica, kondisi ini merupakan dampak lanjutan dari lonjakan harga minyak dunia yang sempat meningkat lebih dari 58 persen pada Maret lalu.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak global umumnya baru diteruskan ke tingkat konsumen sekitar tiga bulan kemudian melalui penyesuaian harga BBM domestik maupun tarif transportasi udara.
Lebih lanjut, Jessica mengatakan inflasi inti, di luar komponen emas, meningkat menjadi 1,8 persen secara tahunan pada Juni. Kenaikan tersebut telah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut dan menunjukkan bahwa tekanan inflasi kini lebih banyak berasal dari kenaikan biaya produksi dibandingkan peningkatan permintaan masyarakat.
Pandangan tersebut juga didukung oleh meningkatnya inflasi harga perdagangan besar (Wholesale Price Index/WPI) menjadi 6,5 persen secara tahunan. Tekanan terbesar berasal dari sektor pertambangan, penggalian, barang-barang transportabel, serta sektor pertanian.
"Meningkatnya tekanan biaya di tingkat produsen mengindikasikan inflasi masih akan didorong oleh faktor sisi penawaran dalam beberapa bulan mendatang, terutama di tengah dampak El Niño dan harga energi yang masih tinggi," kata Jessica.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda





