BEKASI, KOMPAS.com – Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat, ijazah tak lagi menjadi satu-satunya bekal untuk membangun karier.
Di era gig economy, kemampuan, portofolio, jaringan profesional, serta kemauan untuk terus belajar menjadi modal yang semakin menentukan.
Gig economy merupakan sistem pasar tenaga kerja yang didominasi oleh kontrak kerja jangka pendek, pekerjaan lepas atau freelance, serta sistem tugas berbasis permintaan.
Lulusan Sarjana Ilmu Sejarah, Andi Muhammad (25), menjadi salah satu anak muda yang membuktikan bahwa keterampilan dapat diubah menjadi sumber penghasilan sejak masih duduk di bangku kuliah.
Berawal dari Kebutuhan Biaya KuliahBerawal dari kebutuhan biaya hidup, ia kini mampu memperoleh penghasilan jutaan rupiah setiap bulan dari pekerjaan freelance.
Baca juga: Menjaga Masyarakat Tidak Pecah Belah Perkara Ijazah
Andi mengaku mulai menjadi freelancer karena ingin memperoleh penghasilan tambahan saat masih berstatus mahasiswa.
Saat itu, ia tidak mendapatkan uang saku secara rutin sehingga memilih mencari pemasukan sendiri melalui pekerjaan berbasis proyek.
"Sebagai mahasiswa tentu tidak semua kebutuhan bisa terpenuhi. Saya juga tidak mendapatkan uang saku secara rutin, sehingga akhirnya mencoba bekerja sebagai freelancer," ujar Andi kepada Kompas.com saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (30/6/2026).
Menurut dia, sistem kerja freelance justru memudahkannya membagi waktu karena pekerjaan diselesaikan berdasarkan target, bukan jam kerja.
Baca juga: Sudah Sarjana tapi Kerjaan Belum Dapat Saat Ibu Temani Anaknya Berburu Kerja
"Biasanya saya mengerjakan proyek pada malam hari atau ketika tidak memiliki jadwal kuliah. Jadi kegiatan kuliah tetap berjalan tanpa terganggu pekerjaan," katanya.
Mengubah Hobi Menjadi PenghasilanKarier freelance Andi berawal dari kegemarannya mendesain sejak SMA.
Memasuki dunia perkuliahan, ia menyadari keterampilan tersebut memiliki nilai ekonomi sehingga mulai menerima berbagai proyek desain.
Pekerjaan yang dikerjakannya pun terus berkembang, mulai dari membuat poster, banner, logo, konten media sosial, copywriting, hingga pengolahan data menggunakan Microsoft Excel dan aplikasi lainnya.
"Masuk kuliah saya melihat kemampuan itu ternyata bisa menghasilkan uang. Dari situ saya mulai menerima pekerjaan membuat banner, logo, dan desain lainnya," ujarnya.
Baca juga: 1 Juta Sarjana Menganggur, Apa Saja yang Perlu Dibenahi?
Sebagian besar kemampuan tersebut dipelajarinya secara otodidak melalui YouTube dan komunitas desain di Facebook.
Setelah memiliki penghasilan sendiri, Andi mulai mengikuti berbagai pelatihan berbayar untuk meningkatkan kompetensinya.
"Kalau memang ingin berkembang, jangan takut mengeluarkan modal untuk meningkatkan kemampuan. Coba aja ikut pelatihan atau upskilling karena manfaatnya akan jauh lebih besar di masa depan," ucapnya.
Tantangan Terbesar adalah Membangun Kepercayaan KlienMenurut Andi, tantangan utama menjadi freelancer bukan menyelesaikan pekerjaan, melainkan memperoleh kepercayaan dari calon klien.
Baca juga: Satu Juta Sarjana Menganggur dan Skills Mismatch di Kampus Kita
Saat pertama memulai pada 2021, ia hanya mendapatkan satu klien dalam sebulan. Kini, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar empat hingga lima klien setiap bulan dengan jenis proyek yang beragam.





