Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bergerak cepat memangkas disparitas fasilitas pendidikan di wilayah pelosok tanah air. Kementerian bersiap membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) secara masif di sekolah-sekolah yang berada di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Kami akan membangun PLTS bagi sekolah-sekolah di daerah 3T yang belum memiliki jaringan listrik," kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti di Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, dilansir Antara, Kamis, 2 Juli 2026.
Baca Juga :
PLN Pastikan Tak Ada Lagi Pemadaman Listrik di JawaAbdul Mu'ti menjelaskan bahwa proyek strategis ini dieksekusi lewat kemitraan erat bersama PT PLN (Persero). Kolaborasi lintas sektor ini menjadi wujud nyata komitmen pemerintah dalam merevitalisasi sekolah-sekolah di seluruh penjuru Indonesia, khususnya bagi wilayah terpencil yang selama puluhan tahun belum terjamah gardu listrik konvensional.
"Kita berharap sekolah-sekolah khususnya di daerah 3T yang belum memiliki jaringan listrik untuk menyampaikan bantuan pembangunan PLTS ini, agar pembelajaran anak didik bisa lebih baik," ujar Abdul Mu'ti .
Pembangunan infrastruktur PLTS ini juga diproyeksikan sebagai fondasi utama untuk memperluas penetrasi layanan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi masyarakat adat dan terpencil. Dengan pasokan listrik yang stabil, sekolah-sekolah di pelosok dapat mulai didukung oleh akses internet, pembentukan sekolah terbuka, hingga optimalisasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
"Saat ini kita masih menghadapi berbagai kesenjangan pendidikan di Indonesia. Kesenjangan tersebut tidak hanya menyangkut akses, tetapi juga mutu pendidikan terutama di daerah-daerah 3T ini," tutur Abdul Mu'ti.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti. Foto: Metrotvnews.com/Fachri Audhia Hafiez.
Menurut dia, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak anak-anak bangsa yang terenggut kesempatan belajarnya akibat jeratan keterbatasan ekonomi, tantangan kondisi geografis yang ekstrem, disabilitas, hingga hambatan sosial dan budaya.
Guna mereduksi masalah klasik tersebut, Presiden Prabowo Subianto melalui mandat Asta Cita keempat dan amanat konstitusi telah menginstruksikan kementerian terkait untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara berkeadilan tanpa ada yang tertinggal.
"Program ini kita fokuskan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar, agar anak-anak bangsa di daerah 3T ini mendapatkan akses pendidikan bermutu dengan mudah," ucap Abdul Mu'ti.




