Beberapa hari terakhir, video pendakian sejumlah warga ke Gunung Merapi melalui wilayah Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, viral di media sosial. Kegiatan itu banyak diperbincangkan warganet, salah satunya lantaran pendakian ke Gunung Merapi yang berstatus Siaga tersebut masih dilarang demi alasan keselamatan.
Pada Selasa (30/6/2026), sejumlah warga mendaki Gunung Merapi melalui jalur Selo. Jumlah pendaki sekitar 200 orang yang merupakan warga lereng Merapi dan sekitarnya.
Video salah satunya diunggah oleh akun @laharbara pada Selasa. Video itu pun mendapatkan reaksi yang beragam dari warganet. Sebagian mendukung pendakian yang kembali dilakukan setelah beberapa tahun terakhir ditutup tersebut. Namun, sebagian warganet menyayangkan kegiatan tersebut karena khawatir dengan keselamatan warga. Hingga kini, jalur pendakian ke Gunung Merapi masih ditutup karena status Siaga yang disandang oleh gunung itu masih berlaku.
Lahar (40), pegiat pendakian Gunung Merapi yang merupakan pemilik akun @laharbara, menyebut, kegiatan warga pada Selasa adalah bagian dari geladi resik sebelum melakukan pembukaan jalur pendakian mandiri.
”Sebelumnya, warga sudah mencoba berdiskusi dengan pihak taman nasional supaya mengizinkan (jalur pendakian) dibuka. Tapi waktu itu belum ada tindak lanjut, jadi selama menunggu kepastian, warga melakukan geladi bersih pembukaan jalur pendakian via Selo tersebut,” kata Lahar saat dihubungi, Kamis (2/7/2026).
Lahar menyebut, warga menginginkan pendakian ke Gunung Merapi melalui Selo segera dibuka secara resmi. Sebab, selama ini, warga sering kali mendapati sejumlah orang mendaki Gunung Merapi secara ilegal.
Jika dibuka secara resmi, warga berharap, mereka bisa turut mengedukasi pendaki mengenai standar keamanan di Gunung Merapi, potensi bahaya dan mitigasinya, hingga mengenalkan fungsi peralatan mitigasi bencana yang ada di gunung. Sebab, warga punya ketakutan bahwa pendaki yang tidak teredukasi merusak peralatan mitigasi bencana di gunung tersebut.
Selain itu, warga juga berharap pemerintah mewajibkan pendaki didampingi oleh pemandu dari warga setempat supaya kemungkinan pendaki tersesat atau masuk ke area-area yang berbahaya bisa ditekan.
Selain untuk melindungi para pendaki dari potensi bahaya, pembukaan pendakian ke Gunung Merapi melalui Selo juga diharapkan bisa mendongkrak perekonomian warga. Selama delapan tahun terakhir, sekitar 200 keluarga yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas pendakian mengalami hambatan ekonomi. Mereka beralih mata pencarian ke sektor pertanian untuk bertahan hidup.
”Selain para guide (pemadu), penutupan pendakian juga berdampak pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Selo dan wilayah penyangganya. Sehingga, mayoritas warga itu berharap supaya pendakian bisa kembali dibuka,” ucap Lahar.
Terkait alasan keamanan di balik penutupan jalur pendakian Gunung Merapi, Lahar menyebut, warga optimistis jalur pendakian dari Selo tergolong aman. Selama ini, mulut magma gunung itu berada di bagian barat daya. Adapun jalur pendakian via Selo, disebut Lahar berada di bagian utara gunung.
Kemudian, jalur pendakian via Selo, dikatakan Lahar, tidak masuk ke dalam Kawasan Rawan Bencana III meski jaraknya dalam radius 3 kilometer (km) dari puncak. Akibatnya, warga berkukuh untuk perlunya pendakian segera dibuka.
Jika larangan mendaki tidak bisa ditawar, warga disebut Lahar bakal menurut. Namun, mereka juga mengharapkan ada alternatif solusi yang ditawarkan.
”Solusi lain yang diharapkan warga, salah satunya diizinkan untuk mengadakan soft-trekking atau pendakian dengan batas tertentu. Jadi tidak sampai atas, tapi maksimal sampai Pos II. Kegiatan soft-trekking ini, kan, di wilayah lain juga sebenarnya sudah dilakukan dan itu diperbolehkan,” ujar Lahar.
Lahar juga meminta pihak-pihak terkait untuk mengevaluasi kembali status siaga pada Gunung Merapi. Menurut dia, status siaga yang ditetapkan pada Gunung Merapi selama 6 tahun terlalu lama.
Dihubungi terpisah, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Agus Budi Santoso mengatakan, masyarakat dan para pendaki perlu memahami dinamika aktivitas Gunung Merapi yang sedang berada dalam fase erupsi efusif, ditandai dengan keluarnya magma ke permukaan secara perlahan. Dalam kondisi itu, potensi terjadinya erupsi eksplosif sewaktu-waktu tetap tinggi.
”Apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik dapat terlempar hingga mencapai radius 3 km dari puncak. Jangkauan ini mencakup area yang biasanya menjadi jalur maupun batas akhir pendakian. Sehingga, sangat mengancam nyawa siapa pun yang berada di zona tersebut,” kata Agus.
Bahaya lain juga bisa timbul apabila ada sumbatan pada jalan keluar magma secara tiba-tiba. Sumbatan tersebut bakal menyebabkan akumulasi tekanan gas yang sangat kuat di dalam kawah. Kondisi itu disebut bisa memicu pelepasan energi berupa erupsi eksplosif secara mendadak.
”Kewaspadaan ini bukanlah tanpa alasan, melainkan didasarkan pada data historis aktivitas vulkanik Gunung Merapi itu sendiri. Dalam catatan tiga abad terakhir, Gunung Merapi pernah menunjukkan lima tipe erupsi yang berbeda, dan faktanya, tipe erupsi yang bersifat eksplosif adalah yang paling sering terjadi. Bahkan, pascaerupsi tahun 2010, tercatat terdapat 32 kali erupsi eksplosif yang didominasi oleh erupsi freatik,” ucap Agus.
Agus menilai, bahaya lontaran material bisa ke segala arah, tidak hanya arah tertentu. Akibatnya, daerah potensi bahaya yang ditetapkan mengacu pada radius. Pada status Siaga, aktivitas dilarang pada radius 3 km dari puncak. Jangkauan itu mencakup area yang biasanya menjadi jalur maupun batas akhir pendakian.
Pendakian Gunung Merapi tidak direkomendasikan sejak 22 Mei 2018. Itu berdasarkan adanya peningkatan aktivitas dari Level I atau Normal ke Level Il atau Waspada. Kemudian, imbauan untuk tidak mendaki diperketat, seiring peningkatan aktivitas Gunung Merapi dari Waspada menjadi Level IIl atau Siaga pada 5 November 2020.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi T Heri Wibowo mengatakan, pihaknya telah menanggapi surat pemberitahuan mengenai kegiatan pendakian dalam rangka persiapan pembukaan jalur pendakian secara mandiri yang dikirimkan oleh warga Selo. Dalam surat yang dikirim pada Selasa, pihak balai menyatakan tidak merekomendasikan pendakian tersebut.
Menurut Heri, jalur pendakian Gunung Merapi melalui Selo sampai ke puncak masuk dalam radius 3 km, yang tidak direkomendasikan oleh BPPTKG dan berpotensi membahayakan keselamatan. Heri menyebut, pintu gerbang jalur itu berada pada radius 2,3 km, Pos I berada pada radius 2,64 km, Pos II berada pada radius 1,25 km, dan Pasar Bubrah berada pada radius 0,7 km.
”Terkait adanya pendaki ilegal, selama 2026 ini, kami sudah menangkap sekitar 66 pendaki ilegal. Jadi, mereka kami tangkap, kami periksa, kemudian kami beri sanksi. Tapi, sanksinya memang tidak langsung ke sanksi hukum, melainkan sanksi sosial dulu,” ujar Heri.
Sanksi sosial yang dimaksud Heri adalah meminta pendaki ilegal untuk membuat surat dan video pernyataan bahwa telah bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya mendaki secara ilegal. Kemudian, mereka diminta melakukan kerja sosial, berupa bersih-bersih di tempat wisata yang dikelola Balai Taman Nasional Gunung Merapi sebanyak 2 kali dalam sepekan selama 24-48 kali.
Selain itu, ada juga pendaki ilegal yang dihukum untuk menanam pohon di wilayah Balai Taman Nasional Gunung Merapi. Setiap satu orang diminta menanam 25-30 batang pohon.
Apabila kedapatan mengulangi perbuatannya, para pendaki ilegal yang sudah diberi sanksi sosial bakal diproses pidana. Upaya itu diharapkan bisa membuat para pendaki mematuhi aturan yang telah ditetapkan demi menjaga keselamatan.
Terkait dengan pengajuan pembukaan soft-trekking oleh warga Selo, disebut Heri telah dikaji oleh Balai Taman Nasional Gunung Merapi. Permintaan itu, menurut Heri, belum bisa diakomodasi. Sebab, jalur untuk soft-trekking yang diajukan berada dalam radius 3 km.
Adapun kegiatan wisata soft-trekking yang selama ini diperbolehkan beroperasi di wilayah lain, disebut Heri berada dalam radius aman. Wisata soft-trekking di Taman Nasional Gunung Merapi, seperti di Obyek Wisata Alam Kalitalang, berada pada radius 3,3 km dari Pos IV atau pos terakhir.
Selama ini, Heri menyebut, pihaknya telah melakukan kajian di wilayah Selo. Meski tak menyebut secara pasti jumlahnya, Heri mengatakan, lebih banyak warga yang menginginkan jalur pendakian tetap ditutup daripada warga yang menginginkan jalur pendakian dibuka.
Soal perekonomian warga yang selama ini bergantung pada wisata pendakian, kata Heri, sebagian besar sudah beralih dan hidup dari aktivitas pertanian. ”Di daerah Selo itu kan daerah dingin, untuk perkebunan bisa berjalan dengan baik,” ucap Heri.
Tahun ini, Balai Taman Nasional Gunung Merapi akan melatih warga untuk memproduksi pupuk kompos. Hal itu karena banyak peternak sapi di wilayah tersebut. Melalui penjualan pupuk kompos, perekonomian warga diharapkan bisa turut terdongkrak.





