HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Sebuah kecelakaan tragis terjadi di Provinsi Mukdahan, Thailand, Kamis (2/7/2026). Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang berkebutuhan khusus mengendarai mobil pikap milik orang tuanya. Dia menabrak rombongan biksu Buddha yang sedang melakukan perjalanan ziarah keagamaan.
Insiden tersebut menewaskan sembilan biksu dan melukai 10 orang lainnya dengan luka serius, sementara beberapa korban lainnya mengalami cedera ringan. Kecelakaan ini mengguncang masyarakat setempat dan menimbulkan keprihatinan mendalam terkait pengawasan anak dan keselamatan di jalan raya.
Menurut salah seorang biksu yang selamat, Phra Sompong, tabrakan terjadi sangat cepat sehingga sebagian besar rombongan tidak sempat menyelamatkan diri. Ia menjelaskan bahwa saat kejadian, dirinya sedang melafalkan “Buddho, Buddho” ketika kendaraan melaju kencang ke arah mereka.
“Saya melihat seorang anak mengemudikan mobil pikap mendekat,” katanya dalam video yang diunggah oleh tim penyelamat setempat.
Phra Sompong menambahkan, “Tiba-tiba truk itu menabrak kami dengan kecepatan tinggi. Beruntung saya dan seorang biksu lainnya sempat melompat menghindar. Namun, sembilan biksu yang berada di barisan paling depan selamat dari benturan langsung, sementara biksu lainnya terpental ke udara.”
Penyelidikan PolisiKepala Kepolisian Provinsi Mukdahan, Mayor Jenderal Pairoj Thaiphutra, menjelaskan bahwa bocah berusia 11 tahun tersebut membawa mobil pikap dari rumah keluarganya tanpa sepengetahuan orang tua dan mengemudi sekitar 10 kilometer sebelum kecelakaan terjadi.
“Pengemudi, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun dengan kebutuhan khusus, membawa mobil pikap dari rumah keluarganya dan mengemudi sekitar 10 kilometer sebelum menabrak rombongan biksu,” jelasnya kepada wartawan.
Polisi telah mengamankan kendaraan untuk pemeriksaan forensik dan meminta orang tua anak tersebut hadir guna menentukan siapa yang bertanggung jawab atas pengawasan anak tersebut sehingga proses hukum dapat dilanjutkan.
“Hingga saat ini belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka karena penyidik masih mengumpulkan fakta-fakta di lapangan,” beber Pairoj.
Rekaman CCTV sekitar lokasi memperlihatkan rombongan biksu sedang berjalan di sisi jalan sebelum terdengar suara benturan keras yang menghentikan prosesi ziarah mereka. Awalnya, lima biksu dinyatakan meninggal di lokasi kejadian, sementara tiga lainnya meninggal di rumah sakit. Pemerintah Provinsi Mukdahan kemudian mengonfirmasi kematian satu korban tambahan sehingga total korban jiwa menjadi sembilan orang.
Selain korban meninggal, otoritas kesehatan melaporkan empat biksu dalam kondisi kritis dan sekitar 10 orang mengalami luka berat. Korban lainnya masih menjalani perawatan akibat luka ringan.
Kejadian ini menjadi peringatan keras akan pentingnya pengawasan anak-anak dan keselamatan pejalan kaki, terutama dalam kegiatan keagamaan yang melibatkan kelompok rentan seperti para biksu.





