Aktivitas Gunung Anak Krakatau Meningkat, Status Naik ke Level III Siaga

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS – Aktivitas Gunung Anak Krakatau atau GAK di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, bergejolak dalam beberapa hari terakhir. Setelah mengalami erupsi disertai semburan abu vulkanik setinggi 200 meter dari atas puncak pada Kamis (2/7/2026), status gunung api itu dinaikkan dari level II atau waspada ke level III atau siaga.

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Kamis (2/7/2026) pada pukul 14.05 WIB. Erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitude maksimum 23 milimeter dan durasi selama 20 detik. GAK mnegeluarkan kolom abu setinggi 200 meter dari atas puncak berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal juga terlihat jelas.

Saat dikonfirmasi, Andi Suardi selaku Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, mengatakan, aktivitas Gunung Anak Krakatau memang meningkat selama beberapa hari terakhir. Sepanjang Kamis, gunung api itu  tercatat mengalami satu kali erupsi.

Menurut dia, peningkatan aktivitas GAK membuat tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dinaikkan. ”Status Gunung Anak Krakatau naik dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB,” kata Andi saat dihubungi pada Jumat (3/7/2026).

Dengan adanya peningkatan status itu, radius bahaya juga diperluas dari sebelumnya dua kilometer menjadi tiga kilometer dari kawah aktif. Selain itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

”Masyarakat, pengunjung, wistawatan, atau pendaki dilarang mendekat atau beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif, katanya.

Beberapa hari sebelum erupsi, GAK sudah terpantau mengeluarkan asap putih yang berasal dari furamol atau celah pada kerak bumi. Asap putih tebal terlihat muncul dari dalam kawah.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam laporan khusus terkait dengan peningkatan aktivitas GAK mengungkapkan, aktivitas gunung api itu mulai terpantau meningkat sejak Juni 2026. Berdasarkan pengamatan melalui Satelit Sentinel, terlihat adanya emisi gas belerang dioaksida dan anomali panas, serta pemunculan titik api di kawah GAK pada 10 Juni 2026.

Gejala ini disertai dengan pemunculan asap dari kawah dengan intesitas cukup tinggi, dan peningkatan jumlah gempa yang berasosiasi dengan gempa vulkanik dangkal, meliputi gempa hembusan, hybrid/fase banyak, dan low frequency secara signifikan.

Pada 18-19 Juni 2026, jumlah gempa Hembusan, Hybrid/Fase Banyak, dan Low Frequency meningkat drastis dengan rerata kejadian lebih dari 50 kali dalam setiap hari. Meskipun tidak disertai dengan peningkatan gempa vulkanik yang berasosiasi gempa dalam dan deformasi, peningkatan gempa yang berasosiasi dengan gempa vulkanik dangkal mengindikasikan adanya dinamika magma gunung api Anak Krakatau di bagian permukaan.

Baca JugaAnak Krakatau Ditutup, Wisata Alternatif Pulau Sebesi Ditawarkan Jelang Tahun Baru
Ratusan Gempa

Selama periode 16 Juni 2026 hingga  2 Juli 2026, terekam 740 kali gempa hembusan, 24 kali gempa harmonik, 247 kali gempa low frequency, dan 520 kali gempa hybrid atau fase banyak. Selain itu, terjadi 16 kali gampa tremor menerus, 2 kali gempa vulkanik dangkal, 3 kali gempa vulkanik dalam,  1 kali gempa tektonik lokal, dan 5 kali gempa tektonik jauh. 

Pada 26 Juni 2026, intensitas gempa hembusan semakin meningkat disertai dengan peningkatan intensitas asap kawah, berwarna kelabu dengan muatan abu vulkanik tipis mengarah ke barat dan barat laut. Asap ini terdeteksi satelit yang dioperasikan oleh Volcanic Ash Advisory Centres (VAAC) Darwin, Australia. 

Hingga Kamis (2/7/2026) pukul 14.05, GAK mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu setinggi 200 meter di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah barat laut. Hasil analisis secara menyeluruh itulah yang membuat Badan Geologi meningkatkan status aktivitas GAK dari level II (waspada) ke level III (siaga).

Dari catatan Kompas, Gunung Anak Krakatau pernah mengalami erupsi dan memicu tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018. Sebelum tsunami terjadi, aktivitas vulkanik Anak Krakatau sudah terpantau meningkat. Gunung api itu tercatat erupsi sejak Juni 2018 atau enam bulan sebelum sebagian tubuhnya runtuh.

Setelah erupsi pada 2018, aktivitas GAK terus bergejolak. Gunung api itu sempat tenang hingga 2024 sebelum erupsi kembali pada 2 Juli 2026.

Baca JugaAnak Krakatau Erupsi Belasan Kali, Semburkan Abu Vulkanik hingga 2.000 Meter
Ditutup 

Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu Itno Itoyo juga mengatakan, kawasan Cagar Alam dan Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau tertutup untuk kegiatan wisata massal. Berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 sebagaimana telah diubah dengan UU No 32 tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, cagar alam berfungi sebagai kawasan perlindungan ekosistem.

“Cagar alam hanya untuk kegiatan terbatas, seperti penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya,” katanya.  

Pekan lalu, petugas BKSDA bersama sejumlah instansi terkait melakukan patroli dan sosialisasi pada masyarakat sekitar. Saat itu, petugas masih menemukan sejumlah wisatawan yang ingin berlibur ke Kepulauan Gunung Anak Krakatau. Petugas pun melarang wisatawan mendarat di Kepulauan Krakatau.

Menurut dia, wisatawan biasanya datang ke kawasan GAK melalui dua akses, yakni melalui Lampung dan Banten. Mereka biasanya menyewa kapal motor untuk bisa mendarat ke sana. Wisatawan yang berkunjung kebanyakan berasal dari wilayah Jabodetabek.

Itno mengatakan, petugas telah memasang larangan berwisata ke Kepulauan Krakatau di sejumlah titik. Masyarakat diminta tidak nekat berwisata ke gunung api tersebut karena saat ini aktivitasnya terus meningkat.

Baca JugaGunung Anak Krakatau Keluarkan Asap, Wisatawan Dilarang Mendekat

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemko Medan dan PWPM Bersinergi Angkat UMKM Lokal, Ajak Masyarakat Bangga Gunakan Produk Daerah
• 3 jam lalumediaapakabar.com
thumb
[Foto] Petugas Berjibaku Padamkan Api yang Melalap TPA Jatiwaringin
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
Alami Dehidrasi, Tahanan Polresta Tangerang Meninggal Dunia
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Anggota Komisi XI Apresiasi BNN-Bea Cukai Bongkar 3,37 Ton Ganja: Awasi Ketat
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Peserta JKN Tembus 282,7 Juta Jiwa, Tiap Hari Hampir 2 Juta Orang Berobat Pakai BPJS Kesehatan
• 21 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.