Mengapa ”Heatstroke” di Indonesia Kian Berisiko?

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
  1. Seberapa bahaya panas ekstrem di Indonesia saat ini bagi kesehatan?
  2. Mengapa panas ekstrem di Indonesia kini semakin sering dan berbahaya?
  3. Bagaimana suhu laut memanas memengaruhi temperatur dan cuaca global?
  4. Seberapa besar ancaman panas ekstrem global dalam beberapa tahun mendatang?
Seberapa bahaya panas ekstrem di Indonesia saat ini bagi kesehatan?

Panas ekstrem kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan keselamatan di Indonesia. Dalam waktu berdekatan, dua kematian yang diduga akibat heat stroke terjadi pada aktivitas berbeda: pelatihan militer di Kalimantan Timur dan ajang lari Jakarta International Marathon.

Kedua kasus menunjukkan bahwa paparan panas saat aktivitas fisik berat di ruang terbuka, terutama dalam kondisi lembab, dapat berujung fatal. Panas tidak lagi sekadar soal kenyamanan, melainkan risiko kesehatan nyata.

Kenaikan suhu rata-rata Indonesia yang tampak kecil—sekitar 0,5 derajat Celsius di atas normal klimatologis—dapat berdampak besar bagi tubuh manusia. Dalam iklim tropis yang lembab, peningkatan suhu memperberat tekanan panas (heat stress) dan meningkatkan risiko heat stroke. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat panas ekstrem sebagai ”pembunuh senyap” karena dapat memperburuk penyakit yang sudah ada, memicu serangan jantung, stroke, gangguan pernapasan, hingga gagal ginjal, bahkan pada orang muda dan sehat.

Bahaya panas tidak hanya ditentukan oleh suhu udara, tetapi juga oleh kelembapan, radiasi matahari, dan sirkulasi angin. Karena itu, para ahli menggunakan indikator wet bulb globe temperature (WBGT) untuk menilai risiko panas secara lebih akurat.

Penelitian menunjukkan bahwa ketika kombinasi panas dan kelembaban melampaui ambang toleransi tubuh, mekanisme pendinginan alami gagal bekerja. Dalam kondisi ini, aktivitas fisik berat dapat dengan cepat meningkatkan suhu inti tubuh hingga memicu kegawatdaruratan medis.

Sebagian besar kematian akibat exertional heat stroke sebenarnya dapat dicegah melalui manajemen risiko yang baik. Di banyak negara, risiko panas diperlakukan sebagai risiko operasional yang dapat diprediksi dan dikendalikan, melalui penyesuaian jadwal, pembatasan intensitas aktivitas, kecukupan air minum, waktu istirahat, serta penghentian kegiatan saat ambang bahaya terlampaui. Di tengah perubahan iklim dan makin seringnya hari panas-lembab, Indonesia perlu menjadikan keselamatan dari panas sebagai standar utama agar aktivitas luar ruang tidak lagi berujung pada hilangnya nyawa.

Baca JugaPanas Membunuh, Pelajaran dari Kematian Peserta Diklatsarmil dan Maraton
Mengapa panas ekstrem di Indonesia kini semakin sering dan berbahaya?

Panas yang dirasakan masyarakat Indonesia saat ini bukan lagi panas ”biasa” khas negara tropis. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah hari panas dan lembab berbahaya di Indonesia telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan era 1970-an. Jika lima dekade lalu rata-rata terdapat 82 hari panas-lembab berbahaya per tahun, kini jumlahnya mencapai 174 hari. Sekitar dua pertiga dari peningkatan ini merupakan dampak langsung perubahan iklim akibat aktivitas manusia, menandakan bahwa panas ekstrem telah menjadi bagian dari keseharian, bukan kejadian langka.

Ancaman panas ini bukan sekadar soal rasa gerah, melainkan persoalan kesehatan serius. Ketika suhu tinggi bertemu dengan kelembaban udara yang tinggi, tubuh kesulitan membuang panas melalui keringat. Kondisi ini meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, gangguan pernapasan, penyakit jantung, hingga heat stroke yang dapat berujung kematian. Climate Central mengategorikan suhu bola basah 25 derajat celsius atau lebih sebagai kondisi panas-lembab berbahaya, di mana risiko penyakit terkait panas meningkat tajam.

Indonesia termasuk negara dengan paparan panas-lembab ekstrem tertinggi di dunia. Sepuluh kota besar Indonesia masuk dalam 50 kota global dengan jumlah hari panas-lembab berbahaya terbanyak selama periode 2016–2025. Bahkan, Pekanbaru, Medan, dan Surabaya masuk 10 besar dunia, dengan lebih dari 300 hari panas-lembab berbahaya. Data BMKG juga menunjukkan tren pemanasan yang konsisten: suhu rata-rata Indonesia meningkat sekitar 1 derajat celsius dalam empat dekade terakhir, dengan anomali suhu Mei 2026 tercatat 0,5 derajat lebih panas dari rata-rata klimatologis.

Dampak panas tidak dirasakan secara merata. Kelompok paling rentan adalah bayi, anak-anak, perempuan hamil, dan warga lanjut usia. Warga lansia dan anak memiliki kemampuan terbatas dalam mengatur suhu tubuh, lebih mudah mengalami dehidrasi, serta rentan terhadap penyakit kronis yang diperparah panas ekstrem. Para ahli menegaskan bahwa apa yang kini dialami Indonesia bukan anomali cuaca sementara, melainkan bagian dari krisis iklim yang menjadikan panas sebagai ancaman kesehatan publik nyata, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruang dan tinggal di kawasan perkotaan.

Baca JugaHari Panas dan Lembab di Indonesia Meningkat, Tak Lagi Sama dari Era 1970-an
Bagaimana suhu laut memanas memengaruhi temperatur dan cuaca global?

Lautan dunia mencatat rekor baru sebagai yang terpanas dalam sejarah pada Juni 2026. Data Layanan Kelautan Copernicus Uni Eropa menunjukkan suhu permukaan laut rata-rata global mencapai 20,98 derajat celsius, melampaui rekor tahun 2023 dan 2024. Rekor ini menutup enam bulan pemanasan laut yang luar biasa sepanjang paruh pertama 2026, ditandai gelombang panas laut berkepanjangan yang jarang terjadi sebelumnya.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa pemanasan ini berpotensi berlanjut dan bahkan meningkat akibat kemunculan El Niño yang kuat, bersamaan dengan dampak perubahan iklim. El Niño memanaskan perairan Samudra Pasifik dan melepaskan panas ke atmosfer, memengaruhi pola cuaca global serta meningkatkan risiko cuaca ekstrem. Pemanasan laut saat ini dinilai sebagai kombinasi antara fenomena alami El Niño dan pemanasan jangka panjang akibat emisi gas rumah kaca manusia.

Dampak laut yang semakin hangat sangat luas. Lautan menyerap sekitar 90 persen panas berlebih akibat perubahan iklim, sehingga ketika suhunya meningkat, kelembaban atmosfer ikut naik dan memperkuat siklon tropis serta hujan ekstrem. Pemanasan laut juga berkontribusi langsung pada kenaikan permukaan laut dan mengancam ekosistem seperti terumbu karang, yang rentan memutih dan mati selama gelombang panas laut.

Peringatan ini sejalan dengan laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang memprediksi suhu rata-rata global periode 2026–2030 berada jauh di atas tingkat praindustri, dengan peluang besar munculnya tahun terpanas baru sebelum 2030. Kawasan Arktik diperkirakan memanas jauh lebih cepat dari rata-rata global, mempercepat pencairan es laut. Perubahan di kutub ini berdampak global, termasuk meningkatkan intensitas El Niño, mengubah pola hujan, dan memperbesar risiko cuaca ekstrem, yang juga berpengaruh hingga ke Indonesia.

Baca JugaEl Nino Mendidihkan Lautan, Memecahkan Rekor
Seberapa besar ancaman panas ekstrem global dalam beberapa tahun mendatang?

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa dan India menjadi penanda bahwa pemanasan global telah memasuki fase yang lebih berbahaya. Rekor suhu pecah di berbagai negara, dengan panas datang lebih awal akibat fenomena heat dome dan diperkuat pembakaran bahan bakar fosil. Perserikatan Bangsa-Bangsa menegaskan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat gelombang panas semakin sering, lebih intens, dan lebih mematikan, sebagaimana terlihat dari meningkatnya korban jiwa di Eropa dan India.

Ancaman panas ini diperkirakan akan berlanjut. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksikan suhu rata-rata global periode 2026–2030 berada 1,3–1,9 derajat Celsius di atas era praindustri, dengan peluang sangat besar munculnya tahun terpanas baru sebelum 2030. Kecenderungan munculnya El Niño pada akhir 2026 meningkatkan risiko 2027 menjadi tahun terpanas berikutnya. Melampaui ambang pemanasan 1,5 derajat Celsius akan memperbesar risiko kematian, kerusakan ekosistem, dan hilangnya spesies.

Pemanasan global juga berlangsung tidak merata. Kawasan Arktik memanas jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata dunia, mempercepat pencairan es laut dan mengganggu sistem iklim global. Perubahan di kutub ini berdampak luas, mulai dari kenaikan muka laut hingga peningkatan intensitas cuaca ekstrem dan penguatan El Niño, yang efeknya dirasakan hingga ke wilayah tropis seperti Indonesia.

Bagi Indonesia, ancaman panas ke depan sangat nyata meski tidak selalu hadir sebagai gelombang panas ekstrem seperti di Eropa. El Niño diproyeksikan memicu kemarau lebih panjang dan kering, meningkatkan risiko kebakaran hutan, kekeringan, krisis air, serta gangguan pangan. Suhu udara dan laut terus meningkat, malam hari terasa lebih panas, dan cuaca makin sulit diprediksi. Krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kondisi yang sudah berlangsung sekarang dan berpotensi memburuk dalam beberapa tahun mendatang jika adaptasi dan mitigasi tidak dipercepat.

Baca JugaBumi Terasa Panas? Lima Tahun ke Depan Bakal Mencapai Rekor

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bupati Purwakarta Dikecam Gegara Ciptakan Lagu yang Merendahkan Perempuan
• 11 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pramono Anung Curhat Dipelototi Istri Gegara Tak Pilah Sampah: Kamu yang Buat Aturan!
• 8 jam laludisway.id
thumb
Wakil Ketua DPR Sari Yuliati Jenguk Korban Penyekapan-Penganiayaan di Bandung | KOMPAS PETANG
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Hotman 911 Sebut Oknum Aparat yang Siksa Perempuan Sudah Ditahan di Polda Jateng
• 23 jam laluokezone.com
thumb
OTT Lagi, KPK Tangkap Bupati Langkat Syah Afandin
• 13 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.