EtIndonesia.com Genap seminggu sejak dua gempa bumi dahsyat mengguncang Venezuela, jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 2.295 orang. Tim penyelamat mengatakan harapan untuk menemukan korban selamat semakin kecil, sementara para penyintas kini menghadapi krisis pangan yang serius serta ancaman merebaknya wabah penyakit.
Menurut laporan AFP, Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, menulis melalui Telegram bahwa: “Venezuela sangat berduka atas hilangnya begitu banyak nyawa akibat gempa bumi yang menghancurkan ini.”
Ia juga mengumumkan masa berkabung nasional selama tujuh hari.
Di La Guaira, wilayah yang terletak di utara ibu kota Caracas dan menjadi daerah yang paling parah terdampak bencana, sebagian besar bangunan yang runtuh kini telah diberi tanda huruf “D” (Deceased/meninggal dunia). Tanda tersebut menunjukkan bahwa tim penyelamat telah menyelesaikan pencarian di bangunan tersebut dan tidak menemukan tanda-tanda kehidupan.
Tim pencarian dan penyelamatan dari berbagai negara juga terus berdatangan untuk membantu operasi kemanusiaan. Panglima Komando Selatan Amerika Serikat (U.S. Southern Command), Francis Donovan, mengatakan bahwa saat ini sekitar 2.000 personel Amerika Serikat telah dikerahkan untuk membantu upaya penanggulangan bencana.
Karena tatanan kehidupan masyarakat lumpuh akibat bencana, kebutuhan paling mendesak bagi para korban kini bukan lagi penyelamatan, melainkan bertahan hidup. Banyak orang kehilangan tempat tinggal, sementara persediaan makanan dan air bersih semakin menipis.
Banyak korban juga mengungkapkan kemarahan atas lambatnya respons pemerintah dalam menangani dampak bencana.
Daniela Armas, seorang pedagang berusia 18 tahun, mengatakan setelah mengantri untuk mendapatkan makanan di sebuah tempat penampungan:
“Di sini memang ada pembagian bantuan, tetapi kadang-kadang orang-orang hampir berkelahi demi mendapatkan makanan, seperti ayam yang sedang diadu.”
Ancaman Wabah Penyakit Semakin MengkhawatirkanSelain krisis pangan, munculnya wabah penyakit pasca gempa juga menjadi kekhawatiran besar.
Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Christian Lindmeier, mengatakan bahwa sistem layanan kesehatan Venezuela saat ini menghadapi tekanan yang sangat besar.
Ia menjelaskan bahwa karena tingkat vaksinasi di Venezuela sudah rendah sebelum gempa terjadi, risiko merebaknya penyakit menular seperti campak dan difteri kini meningkat dengan cepat.
Dua gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5 yang terjadi secara beruntun pada pekan lalu menghantam Venezuela dan menyebabkan kerusakan parah, terutama di kota pesisir La Guaira.
Seluruh permukiman berubah menjadi puing-puing, sementara gedung apartemen bertingkat, pusat perbelanjaan, dan sekolah runtuh akibat guncangan kuat.
Hingga saat ini:
- 2.295 orang dilaporkan meninggal dunia.
- Lebih dari 11.000 orang mengalami luka-luka.
- Hampir 13.000 orang kehilangan tempat tinggal.
Menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar 50.000 orang masih dinyatakan hilang.
Sementara itu, hasil analisis awal citra satelit yang dirilis oleh Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukkan bahwa kedua gempa tersebut kemungkinan telah merusak atau menghancurkan sekitar 58.870 bangunan.
Sumber : NTDTV.com





