Setelah berhenti melayani penerbangan komersial pada 29 Oktober 2023, Bandara Husein Sastranegara di Bandung, Jawa Barat (Jabar) hanya beroperasi secara terbatas. Layanannya khusus pada pesawat komersial baling-baling atau propeler, pesawat militer, dan aktivitas sekolah penerbangan.
Penghentian operasional itu tak lepas dari upaya pemerintah untuk memusatkan layanan penerbangan komersial ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka, Jabar. Namun, hingga kini, bandara itu masih minim mobilitas penumpang (Kompas.id, 28/5/2026).
Di tengah minimnya mobilitas penumpang, BIJB Kertajati perlu menutup biaya operasional sekitar Rp 70 miliar per tahun. Sejauh ini, biaya tersebut dikucurkan dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Barat yang berkisar Rp 150 miliar per tahun. Pada saat yang sama, BIJB Kertajati masih memiliki total utang bank serta utang vendor dan konstruksi sekitar Rp 2 triliun (Kompas.id, 20/10/2025).
Sejak tahun lalu pula, berembus rencana pemerintah untuk mengaktifkan kembali Bandara Husein Sastranegara. Kini, rencana percepatan aktivasi Bandara Husein Sastranegara terus dilakukan melalui serangkaian langkah teknis dan operasional bersama seluruh pemangku kepentingan.
Persiapan reaktivasi telah dilakukan pada sisi udara (air side) dan sisi darat (land side) dalam dua hingga tiga pekan terakhir. Berdasarkan rencana yang disusun, Bandara Husein Sastranegara ditargetkan mampu melayani operasional pesawat jet pada 17 September 2026.
Meski demikian, Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah menyiapkan skenario percepatan reaktivasi pada 17 Agustus 2026, sesuai arahan Menteri Pertahanan. Waktu pelaksanaan reaktivasi akan disepakati bersama antara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub dengan Komandan Pangkalan Udara Husein Sastranegara.
“Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara akan dilaksanakan secara bertahap dengan mengedepankan prinsip keselamatan, keamanan, dan kepatuhan terhadap seluruh regulasi penerbangan sipil. Kami telah menyetujui kajian operasional dan safety assessment sebagai dasar pelaksanaan reaktivasi,” tutur Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F Laisa di Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Saat ini, Bandara Husein Sastranegara masih memiliki sejumlah tantangan dalam proses reaktivasinya. Pertama, luas lahan terbatas karena kepadatan permukiman di sekitar bandara. Kedua, panjang landasan pacu sepanjang 2.220 x 45 meter yang tak memungkinkan diperpanjang.
Ketiga, keterbatasan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP). Keempat, penggunaan bersama dengan TNI Angkatan Udara.
Guna mendukung pelayanan pesawat kategori kritis, seperti Boeing 737-800 dan Airbus A320, Lukman melanjutkan, perlu ada peningkatan infrastruktu. Beberapa di antaranya pelapisan ulang (overlay) landasan pacu dan taxiway, rekonstruksi apron rigid, dan overlay apron fleksibel.
Personel juga perlu ditambah, diikuti fasilitas terminal berupa perbaikan atap serta perbaikan fasilitas layanan penumpang.
Semua kebutuhan peralatan pendukung akan dipenuhi melalui mobilisasi aset dari Bandara Kertajati, tanpa pengadaan baru. Salah satunya memindahkan alat pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran dari Bandara Kertajati, setelah operasional pemulangan jemaah haji tuntas. Harapannya, proses reaktivasi dapat berjalan lebih efisien.
Ditjen Perhubungan Udara menyiapkan dua pilihan operasional reaktivasi. Pertama, Bandara Husein Sastranegara hanya melayani pesawat ATR72-500 atau berukuran relatif kecil berkapasitas 68-74 kursi, penerbangan bisnis, serta penerbangan carter.
Kedua, Bandara Husein Sastranegara digunakan melayani pesawat Boeing 737-800 dan Airbus A320 dengan penerapan sistem slot management. Hal ini dilakukan untuk mengatur kapasitas operasional secara aman dan efektif.
“Kami berkomitmen agar proses reaktivasi berjalan sesuai standar keselamatan penerbangan internasional. Seluruh persiapan dilakukan secara cermat, melalui koordinasi intensif dengan seluruh pemangku kepentingan, agar bandara kembali melayani secara aman, nyaman, dan andal,” ujar Lukman.
Sebelumnya dalam kegiatan temu media pada Jumat (26/6/2026), Menhub Dudy Purwagandhi mengatakan, Bandara Husein Sastranegara tidak pernah ditutup. Sebab, bandara tersebut masih melayani pesawat-pesawat propeler atau baling-baling.
“Ketika ada keinginan untuk mengaktifkan kembali bandara tersebut untuk melayani pesawat jet, Ditjen Perhubungan Udara mensyaratkan beberapa hal untuk dilakukan perbaikan fasilitas bandara yang sudah lama tak digunakan,” tutur Dudy.
Dua di antaranya adalah runway yang sudah lama tak digunakan diperbaiki sehingga bisa melayani pesawat besar. Kemudian, kapasitas terminal penumpang yang saat ini minim, perlu diperbaiki pula untuk bisa menampung lebih banyak orang.
“Jadi mungkin kalau September (mulai beroperasi), saya rasa tidak terlalu jauh (dari sekarang). Jadi, kami berikan waktu kepada pengelola Bandara Husein Sastranegara untuk mempersiapkan segala sesuatunya,” ujar Dudy.
Isu mengenai aktifnya kembali Bandara Husein Sastranegara telah mencuat sejak tahun lalu karena tidak optimalnya kinerja BIJB Kertajati. Sebab, beragam upaya telah dilakukan demi menghidupkan bandara tersebut, walau tak kunjung berbuah manis.
Situasi yang dialami BIBJ Kertajati ini tampaknya tergambar dalam sunk cost theory. Teori biaya hangus itu merujuk pada hilangnya waktu, uang, atau biaya yang tidak dapat kembali lagi. Jika seseorang membiarkan hal ini terjadi, maka pengambilan keputusan pada masa mendatang dapat terpengaruh pula, seperti dikutip dari Investopedia.
Kondisi itu yang tampaknya terjadi pada pemerintah selama ini, menurut Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) Alvin Lie. Pemerintah, baik pusat maupun Provinsi Jabar telah berupaya dengan ragam cara guna mempertahankan Bandara Kertajati karena besarnya investasi yang telah digelontorkan.
“Saya menilai, sepertinya pemerintah sekarang sudah menemukan titik terang, Bandara Kertajati itu akan dibuat untuk pemeliharaan, perbaikan, dan operasi (MRO) pesawat. Sebab, seluruh upaya untuk melayani penerbangan reguler sudah dilakukan dan tidak berhasil. Akan sia-sia melawan kekuatan pasar,” tuturnya.
Rencana pemerintah menggunakan BIJB Kertajati sebagia pusat MRO diharapkan berbuah baik, walau sebagian bandara itu akan menjadi pusat pemeliharaan pesawat Hercules milik Angkatan Udara Amerika Serikat. Nantinya, daerah itu akan menjadi kawasan ekslusif mereka.
Sedangkan untuk Husein Sastranegara, Alvin menilai, memang sudah selayaknya bandara itu diaktifkan kembali karena potensi pasar dan kebutuhannya ada.
Selama ini, penumpang Bandung lebih memilih terbang dari Jakarta melalui Bandara Halim Perdanakusuma dan Banten melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, alih-alih ke BIJB Kertajati.
“Jadi Jabar rugi dua kali kalau BIJB Kertajati terus dipertahankan (untuk penerbangan komersial). Kertajati tidak hidup, (pasar) Bandung juga hilang diambil Jakarta dan Banten,” ucap Alvin.





