Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah meyakini neraca dagang dalam waktu dekat akan kembali surplus usai mencetak defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026.
Defisit neraca dagang Mei 2026 ini merupakan yang pertama kali setelah tren surplus berturut-turut selama enam tahun terakhir sejak Mei 2020. Defisit perdagangan migas sebesar US$3,76 miliar menjadi pemicu utama neraca dagang Indonesia akhirnya membukukan defisit setelah 72 bulan.
Kemenko Perekonomian menyampaikan, tren penurunan harga minyak dunia belakangan ini diharapkan bisa menjadi katalis neraca dagang dalam beberapa bulan ke depan untuk kembali surplus.
"Ke depan mudah-mudahan kan ini harga minyak sudah mulai turun, sehingga defisit migas mudah-mudahan mulai berkurang. Perhitungan kami sih mestinya di bulan-bulan depan mulai bisa balik lagi ke surplus. Seharusnya ya, karena harga minyaknya sudah mulai turun," kata Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Namun demikian, hal ini tidaklah mudah. Pria yang akrab disapa Susi ini juga mengakui bahwa impor minyak selama Juni 2026 masih mengacu ke harga bulan sebelumnya. Saat itu, harga minyak belum turun ke level sekitar US$73 per barel seperti saat ini.
Di sisi lain, neraca perdagangan nonmigas tetap mencetak surplus sebesar US$2,14 miliar. Namun, nilainya merupakan yang terendah sejak satu tahun terakhir. Pada Mei 2025 lalu, surplus neraca nonmigas tercatat masih US$5,83 miliar.
Baca Juga
- Apindo Memandang Defisit Neraca Dagang RI Tak Terhindarkan
- Surplus Neraca Perdagangan RI Januari-Mei 2026 Anjlok 73,8%
- Breaking! Neraca Dagang RI Defisit US$1,61 Miliar Mei 2026
Indikator ekonomi lainnya yang juga menunjukkan tren moderasi ekonomi yakni Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur. Pada Juni 2026, PMI turun ke level 46,9 dari posisi Mei yakni 50,0. Artinya, PMI kembali masuk ke fase kontraksi.
Akan tetapi, Susi menilai penurunan ini sejalan dengan tren di negara-negara Asean tidak terkecuali Vietnam. Musababnya adalah suplai maupun harga barang yang dibutuhkan industri terganggu selama konflik AS-Iran.
"Sementara untuk sisi output-nya industri, demand export kan juga mengalami penyesuaian dengan tekanan-tekanan global seperti ini. Jadi sebenarnya memang karena sejalan dengan tren penurunan di Asean juga turun semuanya termasuk kalau boleh dianggap kompetitor Vietnam kan juga turun," pungkasnya.





