Pantau - Tradisi bertani masyarakat adat Badui di Kabupaten Lebak, Banten, terus menghasilkan panen padi huma yang melimpah sehingga mampu menjaga ketahanan pangan masyarakat, termasuk saat menghadapi musim kemarau.
Ribuan Lumbung Jadi Cadangan PanganTetua Adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Jaro Oom, mengatakan ketersediaan pangan masyarakat Badui hingga kini tetap aman.
"Sampai saat ini ketersediaan pangan masyarakat Badui aman," ujar Jaro Oom.
Masyarakat Badui menyimpan hasil panen padi huma di ribuan lumbung atau leuit sebagai cadangan pangan keluarga.
Setiap panen yang dilakukan setahun sekali, gabah disimpan untuk mengantisipasi musim kemarau panjang, bencana alam, maupun serangan hama.
"Karena itu, masyarakat Badui hingga kini belum pernah mengalami kerawanan pangan maupun kelaparan," ungkapnya.
Jaro Oom memperkirakan terdapat sekitar 8.000 leuit yang dimiliki sekitar 4.000 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 13.309 jiwa.
Dengan rata-rata kapasitas tiga ton per lumbung, total cadangan gabah diperkirakan mencapai 24 ribu ton.
"Kami meyakini stok pangan yang ada di lumbung itu bisa terjaga untuk pertahanan pangan keluarga," katanya.
Tradisi Dipertahankan Turun-TemurunWarga Badui bernama Santa mengatakan lumbung miliknya masih menyimpan sekitar tujuh ton gabah hasil panen selama enam tahun.
" Kami sampai hari ini kebutuhan konsumsi berasnya dengan cara membeli juga ada bantuan pangan dari Bulog, sehingga gabah hasil panen yang disimpan di lumbung atau leuit belum pernah digunakan," jelasnya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengapresiasi tradisi masyarakat Badui yang menyimpan hasil panen sebagai cadangan pangan.
"Kami mengapresiasi masyarakat Badui hingga kini ketahanan pangan terjaga dan setiap panen padi tidak dijual," ujarnya.
Tradisi tersebut dinilai mampu menjaga ketahanan pangan masyarakat secara berkelanjutan di tengah berbagai tantangan.




