Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai prospek ekspor Indonesia pada semester II 2026 masih dibayangi sejumlah tantangan, mulai dari dampak kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) hingga tekanan harga komoditas global.
Yusuf, saat dihubungi di Jakarta, Jumat (3/7/2026), mengatakan dampak penuh kebijakan tarif impor AS diperkirakan baru akan terasa pada paruh kedua tahun ini karena penyesuaian pesanan dari importir membutuhkan waktu beberapa bulan.
Menurut dia, selain dampak tarif AS, Indonesia juga perlu mengantisipasi risiko pengalihan pesanan ekspor ke negara-negara pesaing seperti Vietnam dan Meksiko yang dinilai memiliki daya saing lebih tinggi di pasar Amerika.
Di sisi lain, harga sejumlah komoditas ekspor utama seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) juga masih menghadapi tekanan siklus.
Sementara itu, permintaan logam industri dari China belum sepenuhnya pulih karena stimulus ekonomi negara tersebut berjalan lebih lambat dari perkiraan.
Meski demikian, Yusuf melihat masih terdapat faktor penopang yang dapat menjaga kinerja ekspor Indonesia.
Ia mencatat ekspor nonmigas Indonesia ke China sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih tumbuh 17,7 persen secara tahunan, sehingga menjadi bantalan terhadap pelemahan permintaan di pasar lainnya.
Selain itu, selama permintaan terhadap produk turunan nikel tetap terjaga, peluang pertumbuhan ekspor Indonesia dinilai masih terbuka.
"Dengan kondisi tersebut, saya memperkirakan pertumbuhan ekspor pada semester kedua akan berada di kisaran nol sampai dua persen dengan risiko yang cenderung mengarah ke bawah apabila negosiasi tarif dengan Washington tidak menghasilkan pelonggaran," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat saat ini masih dikenakan tarif universal sebesar 10 persen yang berlaku selama 150 hari hingga 24 Juli 2026.
Tarif tersebut merupakan pengganti sementara kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat yang sebelumnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.
Setelah masa berlaku tarif universal berakhir, Pemerintah AS akan menetapkan kebijakan tarif baru yang akan berlaku bagi negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia.
Pemerintah menyatakan terus melakukan pendekatan dan negosiasi dengan AS untuk memperoleh tarif yang lebih kompetitif, termasuk mendorong agar sejumlah komoditas mendapatkan tarif 0 persen.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Mei 2026 mencapai 22,45 miliar dolar AS atau mengalami kontraksi 4,5 persen dibandingkan Mei 2025.
Kontraksi tersebut terutama dipengaruhi penurunan ekspor logam mulia dan perhiasan atau permata, bijih logam, terak dan abu, serta besi dan baja.
Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas masih didominasi industri pengolahan dengan nilai 19,05 miliar dolar AS, namun mengalami kontraksi 3,59 persen secara tahunan.
Sementara itu, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 20,43 persen menjadi 500 juta dolar AS, sedangkan ekspor sektor pertambangan dan lainnya turun 7,03 persen menjadi 2,89 miliar dolar AS.
Baca juga: Ekonom menilai fondasi ekspor Indonesia masih cukup kuat
Baca juga: INDEF sarankan strategi pendorong ekspor dari sektor manufaktur
Baca juga: Indef dorong kualitas pertanian tangkap peluang tarif nol persen ke AS
Yusuf, saat dihubungi di Jakarta, Jumat (3/7/2026), mengatakan dampak penuh kebijakan tarif impor AS diperkirakan baru akan terasa pada paruh kedua tahun ini karena penyesuaian pesanan dari importir membutuhkan waktu beberapa bulan.
Menurut dia, selain dampak tarif AS, Indonesia juga perlu mengantisipasi risiko pengalihan pesanan ekspor ke negara-negara pesaing seperti Vietnam dan Meksiko yang dinilai memiliki daya saing lebih tinggi di pasar Amerika.
Di sisi lain, harga sejumlah komoditas ekspor utama seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) juga masih menghadapi tekanan siklus.
Sementara itu, permintaan logam industri dari China belum sepenuhnya pulih karena stimulus ekonomi negara tersebut berjalan lebih lambat dari perkiraan.
Meski demikian, Yusuf melihat masih terdapat faktor penopang yang dapat menjaga kinerja ekspor Indonesia.
Ia mencatat ekspor nonmigas Indonesia ke China sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih tumbuh 17,7 persen secara tahunan, sehingga menjadi bantalan terhadap pelemahan permintaan di pasar lainnya.
Selain itu, selama permintaan terhadap produk turunan nikel tetap terjaga, peluang pertumbuhan ekspor Indonesia dinilai masih terbuka.
"Dengan kondisi tersebut, saya memperkirakan pertumbuhan ekspor pada semester kedua akan berada di kisaran nol sampai dua persen dengan risiko yang cenderung mengarah ke bawah apabila negosiasi tarif dengan Washington tidak menghasilkan pelonggaran," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat saat ini masih dikenakan tarif universal sebesar 10 persen yang berlaku selama 150 hari hingga 24 Juli 2026.
Tarif tersebut merupakan pengganti sementara kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat yang sebelumnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.
Setelah masa berlaku tarif universal berakhir, Pemerintah AS akan menetapkan kebijakan tarif baru yang akan berlaku bagi negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia.
Pemerintah menyatakan terus melakukan pendekatan dan negosiasi dengan AS untuk memperoleh tarif yang lebih kompetitif, termasuk mendorong agar sejumlah komoditas mendapatkan tarif 0 persen.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Mei 2026 mencapai 22,45 miliar dolar AS atau mengalami kontraksi 4,5 persen dibandingkan Mei 2025.
Kontraksi tersebut terutama dipengaruhi penurunan ekspor logam mulia dan perhiasan atau permata, bijih logam, terak dan abu, serta besi dan baja.
Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas masih didominasi industri pengolahan dengan nilai 19,05 miliar dolar AS, namun mengalami kontraksi 3,59 persen secara tahunan.
Sementara itu, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 20,43 persen menjadi 500 juta dolar AS, sedangkan ekspor sektor pertambangan dan lainnya turun 7,03 persen menjadi 2,89 miliar dolar AS.
Baca juga: Ekonom menilai fondasi ekspor Indonesia masih cukup kuat
Baca juga: INDEF sarankan strategi pendorong ekspor dari sektor manufaktur
Baca juga: Indef dorong kualitas pertanian tangkap peluang tarif nol persen ke AS





