Jakarta (ANTARA) - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf meminta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 2026 menjadi forum evaluasi yang terbuka untuk mengidentifikasi berbagai kekurangan dalam penyelenggaraan haji sebagai dasar perbaikan pelayanan.
“Rapat Kerja Nasional Evaluasi Penyelenggaraan Haji tahun 2026 ini tentu menjadi peluang, kesempatan untuk kita bisa menemukan berbagai kekurangan-kekurangan yang telah dan sedang kita laksanakan untuk menjadi bagian perbaikan pelayanan haji ke depan,” kata Menhaj Irfan saat membuka Rakernas Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji di Jakarta, Sabtu.
Rakernas tersebut diikuti oleh seluruh pejabat Kemenhaj pusat dan daerah serta dipusatkan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, hingga beberapa hari ke depan.
Menurut dia, seluruh kekurangan perlu diungkap secara terbuka dengan tujuan memperbaiki kualitas pelayanan haji, bukan untuk mencari pihak yang harus disalahkan. Dengan demikian penyelenggaraan haji mendatang lebih siap dan optimal.
Baca juga: Menhaj fokuskan evaluasi haji 2026 pada layanan kesehatan jamaah
Menhaj Irfan mengatakan salah satu aspek yang masih memerlukan perhatian serius adalah layanan kesehatan jamaah. Meski angka kematian jamaah haji tahun ini berhasil ditekan sekitar 25 persen dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya, jumlah tersebut masih dinilai tinggi.
"Angka kematian 350 (orang) sekian masih besar. Karena itu, salah satu PR (Pekerjaan Rumah) nanti adalah terkait dengan istitha’ah kesehatan,” katanya.
Selain evaluasi, Menhaj Irfan menilai penyelenggaraan haji tahun ini juga mencatat sejumlah kemajuan melalui berbagai inovasi pelayanan.
Ia menyebut sejumlah inovasi telah diterapkan, antara lain alokasi kuota haji provinsi yang lebih berkeadilan, penurunan biaya haji sekitar Rp2 juta, serta penerapan Kartu Nusuk yang dibagikan kepada jamaah sejak di Tanah Air.
Baca juga: KBIHU: Manasik kesehatan jadi bagian penting pembinaan calon haji
Menurut dia, berbagai pembaruan tersebut telah memberikan manfaat yang langsung dirasakan oleh jamaah dan perlu terus disempurnakan melalui evaluasi.
Menhaj Irfan juga menyoroti pelayanan di Mina, Arab Saudi, yang masih menjadi salah satu titik lemah dalam operasional haji tahun ini. Karena itu ia meminta peserta Rakernas merumuskan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan layanan di kawasan tersebut.
“Kita tahu Mina menjadi salah satu titik kelemahan kita dalam pelayanan kemarin. Apapun yang bisa kita lakukan untuk perbaikan Mina tentu harus kita rumuskan pada Rakernas evaluasi ini,” kata Menhaj.
Selain agenda evaluasi, Menhaj Irfan mengatakan Kemenhaj juga akan menggelar retret bagi jajaran kementerian sebagai upaya memperkuat kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM), baik dari sisi fisik, mental, maupun membangun kekompakan antar-personel dalam menghadapi penyelenggaraan ibadah haji berikutnya.
Baca juga: Komisi VIII minta Kemenhaj sempurnakan sistem haji secara menyeluruh
“Rapat Kerja Nasional Evaluasi Penyelenggaraan Haji tahun 2026 ini tentu menjadi peluang, kesempatan untuk kita bisa menemukan berbagai kekurangan-kekurangan yang telah dan sedang kita laksanakan untuk menjadi bagian perbaikan pelayanan haji ke depan,” kata Menhaj Irfan saat membuka Rakernas Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji di Jakarta, Sabtu.
Rakernas tersebut diikuti oleh seluruh pejabat Kemenhaj pusat dan daerah serta dipusatkan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, hingga beberapa hari ke depan.
Menurut dia, seluruh kekurangan perlu diungkap secara terbuka dengan tujuan memperbaiki kualitas pelayanan haji, bukan untuk mencari pihak yang harus disalahkan. Dengan demikian penyelenggaraan haji mendatang lebih siap dan optimal.
Baca juga: Menhaj fokuskan evaluasi haji 2026 pada layanan kesehatan jamaah
Menhaj Irfan mengatakan salah satu aspek yang masih memerlukan perhatian serius adalah layanan kesehatan jamaah. Meski angka kematian jamaah haji tahun ini berhasil ditekan sekitar 25 persen dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya, jumlah tersebut masih dinilai tinggi.
"Angka kematian 350 (orang) sekian masih besar. Karena itu, salah satu PR (Pekerjaan Rumah) nanti adalah terkait dengan istitha’ah kesehatan,” katanya.
Selain evaluasi, Menhaj Irfan menilai penyelenggaraan haji tahun ini juga mencatat sejumlah kemajuan melalui berbagai inovasi pelayanan.
Ia menyebut sejumlah inovasi telah diterapkan, antara lain alokasi kuota haji provinsi yang lebih berkeadilan, penurunan biaya haji sekitar Rp2 juta, serta penerapan Kartu Nusuk yang dibagikan kepada jamaah sejak di Tanah Air.
Baca juga: KBIHU: Manasik kesehatan jadi bagian penting pembinaan calon haji
Menurut dia, berbagai pembaruan tersebut telah memberikan manfaat yang langsung dirasakan oleh jamaah dan perlu terus disempurnakan melalui evaluasi.
Menhaj Irfan juga menyoroti pelayanan di Mina, Arab Saudi, yang masih menjadi salah satu titik lemah dalam operasional haji tahun ini. Karena itu ia meminta peserta Rakernas merumuskan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan layanan di kawasan tersebut.
“Kita tahu Mina menjadi salah satu titik kelemahan kita dalam pelayanan kemarin. Apapun yang bisa kita lakukan untuk perbaikan Mina tentu harus kita rumuskan pada Rakernas evaluasi ini,” kata Menhaj.
Selain agenda evaluasi, Menhaj Irfan mengatakan Kemenhaj juga akan menggelar retret bagi jajaran kementerian sebagai upaya memperkuat kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM), baik dari sisi fisik, mental, maupun membangun kekompakan antar-personel dalam menghadapi penyelenggaraan ibadah haji berikutnya.
Baca juga: Komisi VIII minta Kemenhaj sempurnakan sistem haji secara menyeluruh





