JAYAPURA, KOMPAS — Melkiana Duwitau, seorang ibu hamil, tewas tertembak di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Kamis (2/7/2026). Muncul dugaan bahwa tembakan tersebut berasal dari operasi penindakan terhadap kelompok bersenjata. Namun, TNI menyatakan tembakan itu berasal dari kelompok bersenjata.
Peristiwa itu dilaporkan terjadi di rumah orangtua korban di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, ibu kota Kabupaten Intan Jaya, Kamis sekitar pukul 19.30 WIT. Lokasi kejadian berada tidak jauh dari sejumlah kantor pemerintahan serta pos dan markas TNI.
Dalam video yang dibagikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Intan Jaya, kejadian pertama kali dilaporkan Ketua Tim Penanganan Konflik Intan Jaya, Misael Sondegau. Dalam laporannya, Misael menyatakan, sejumlah tembakan ke rumah korban diduga berasal dari arah kawasan markas TNI setempat.
Salah satu peluru menembus dinding kayu rumah dan mengenai bagian kepala Melkiana. Korban yang sedang hamil delapan bulan itu tewas di tempat.
Pada malam kejadian, Melkiana kemudian dibawa ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawa bayi dalam kandungannya. Namun, upaya operasi yang dilakukan keesokan harinya tidak dapat menyelamatkan nyawa bayinya.
Pada Jumat (3/7/2026), diperkirakan ratusan hingga ribuan warga meluapkan kekecewaan dengan turun ke jalan mengawal jenazah Melkiana dan bayinya berkeliling Sugapa. Warga menuntut keadilan atas kematian dua nyawa yang tidak bersalah tersebut.
Pada Jumat sore, kedua jenazah dimakamkan. Adapun aksi lanjutan rencananya masih akan dilakukan pada Sabtu (4/7/2026).
Dalam keterangan persnya, Bupati Intan Jaya Aner Maisini menyatakan sangat terpukul atas peristiwa yang merenggut nyawa warganya itu. Dia berharap pihak terkait segera mengungkap secara menyeluruh penyebab insiden tersebut.
Aner menyayangkan konflik bersenjata di daerahnya masih terus merenggut nyawa warga sipil. "(Akibat konflik bersenjata), tetapi dampaknya kepada masyarakat kami yang tidak bersalah," kata Aner dalam keterangannya, Jumat.
Sementara itu, TNI melalui Komando Operasi (Koops) Habema membantah terlibat dalam penembakan pada malam kejadian. Menurut TNI, tembakan justru berasal dari kelompok bersenjata.
"Berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, dan pemetaan lokasi, gangguan tembakan dilakukan oleh kelompok bersenjata pimpinan Peles Tigau dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit," kata Kepala Penerangan Koops Habema Letnan Kolonel Wirya Arthadiguna, Sabtu (4/7/2026).
Wirya menyatakan, tembakan pertama terjadi sekitar pukul 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga. Lima menit kemudian kembali terdengar tembakan dari titik berbeda di kawasan perbukitan di depan Koramil Sugapa. Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai.
Selama rangkaian kejadian tersebut, Wirya mengklaim personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan..
"Kondisi hujan, kabut tebal, dan jarak pandang yang sangat terbatas membuat personel memilih menempati posisi perlindungan sambil memantau situasi guna menghindari risiko terhadap masyarakat sipil," ujarnya.
Hasil analisis spasial, lanjut Wirya, menunjukkan ketiga sumber tembakan berada di titik yang berbeda dengan jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter. Sementara itu, lokasi korban berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama serta berjarak lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI.
"Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses analisis kejadian yang masih terus didalami bersama fakta-fakta lapangan lainnya," katanya.
Sementara itu, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, kembali menuding militer Indonesia sebagai pelaku penembakan tersebut. Namun, dalam keterangannya, Sebby belum menyebutkan apakah pasukan TPNPB-OPM turut terlibat dalam kontak tembak.
Sepanjang akhir Juni hingga awal Juli 2026, sejumlah insiden yang menewaskan warga sipil terjadi di Intan Jaya. Di sejumlah titik di wilayah tersebut, aparat keamanan tengah memburu kelompok bersenjata.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua dijadwalkan bertemu dengan pihak Pemkab Intan Jaya pada Sabtu siang untuk memulai rangkaian pemantauan atas rentetan dugaan pelanggaran HAM di Intan Jaya.
Dalam catatan Komnas HAM Papua, pada 27 Juni 2026 terjadi kontak tembak antara TNI dan TPNPB-OPM di Distrik Agisiga. Dalam peristiwa itu, seorang prajurit TNI tewas dan tiga lainnya terluka.
Setelah insiden tersebut, sejumlah peristiwa lain yang turut merenggut nyawa warga sipil kembali dilaporkan. Dalam sehari, tepatnya pada 29 Juni 2026, insiden terjadi di tiga kampung berbeda di Intan Jaya.
Komnas HAM Papua menerima laporan tewasnya seorang warga bernama Okto Tigau di Kampung Mamba, Distrik Sugapa. Selain itu, terdapat laporan bahwa Elianus Agimbau, seorang pelayan gereja, tewas tertembak di Kampung Kupia, Distrik Agisiga.
Masih pada hari yang sama, di Kampung Titigi, Distrik Sugapa, terjadi dua insiden penembakan. Penembakan pertama melukai dua pekerja pembangunan Gereja Paroki Titigi.
Adapun penembakan kedua menyasar kendaraan yang ditumpangi tim pastoral Paroki Bilogai bersama para pekerja pembangunan gereja. Beruntung, seluruh penumpang, termasuk Pastor Dekanat Moni Puncak Yanuarius Yance Yogi, dinyatakan selamat.





