Sampai Kapan Kehidupan di Bumi Mampu Bertahan?

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Bumi tidak dapat bertahan selamanya. Bukan hanya karena berkurangnya daya dukung Bumi akibat makin banyaknya manusia, tetapi Bumi sebagai planet juga terus berevolusi. Pada saat bersamaan, Matahari sebagai sumber energi utama Bumi pun makin menua sehingga akan memberi dampak langsung pada lingkungan antariksa dan keberlangsungan kehidupan di muka Bumi.

Matahari adalah bintang yang ada di pusat Tata Surya. Seiring evolusi Matahari, bintang itu akan semakin terang dan energi yang dihasilkannya pun bertambah besar, sekitar sepertiga lebih banyak, dibandingkan energi saat awal terbentuknya Matahari 4,5 miliar tahun yang lalu. Evolusi menjadi bintang tua itu akan membuat Matahari semakin panas dan akhirnya mati 5 miliar tahun lagi.

Selama proses menuju kematian Matahari itu, Bumi diyakini tidak akan mampu bertahan karena bakal tertelan oleh Matahari yang mengembang menjadi bintang raksasa merah. James Lovelock dan rekan pada 1982 telah memperkirakan bahwa biosfer atau lapisan Bumi tempat seluruh makhluk berinteraksi akan berakhir sekitar 100 juta tahun dari sekarang.

Baca JugaKematian Matahari 5 Miliar Tahun Lagi Tergambarkan

Namun, seperti ditulis Livescience.com, 1 Juli 2026, riset-riset terbaru makin menggeser usia keberlangsungan kehidupan di Bumi itu jauh ke belakang. Perhitungan Fde S Mello dan ACS Friaça di International Journal of Astrobiology, 7 Juni 2019, menyebut berakhirnya kehidupan Bumi akan terjadi secara bertahap.

Tumbuhan C3, yaitu tanaman yang mengikat karbon dioksida menjadi molekul 3-karbon, seperti sebagian besar pepohonan, semak, dan tanaman makanan pokok, akan mencapai batas hidupnya pada 170 juta tahun yang akan datang. Sementara akhir perkembangan tumbuhan C4 yang menyerap karbon dioksida menjadi molekul 4-karbon, seperti rumput, jagung, tebu, dan sorgum, akan terjadi pada 840 juta tahun lagi.

Berikutnya, proses geofisika internal Bumi akan membuat massa air laut tidak memiliki variasi massa. Saat ini, permukaan laut memiliki massa yang lebih rendah dibandingkan massa di laut dalam. Hilangnya variasi massa air laut itu akan berlangsung sekitar 1,5 miliar tahun lagi. Selanjutnya, saat rata-rata suhu Bumi mencapai 100 derajat celsius, yang akan terjadi 1,63 miliar tahun ke depan, maka itulah tanda kepunahan biosfer Bumi.

Evolusi menjadi bintang tua itu akan membuat Matahari semakin panas dan akhirnya mati 5 miliar tahun lagi.

Studi terbaru yang dilakukan J Haqq-Misra dan E Wolf yang dipublikasikan di Journal of Geophysical Research: Atmospheres, 28 Mei 2026, memperkirakan akhir kehidupan tumbuhan akan terjadi 1,8 miliar tahun lagi. Waktu kepunahan tumbuhan itu berlangsung mendekati waktu hilangnya lautan Bumi pada 2 miliar tahun yang akan datang. Hilangnya lautan itu terjadi akibat radiasi yang memecah atom air ataupun penguapan tak terkendali.

”Riset kami menunjukkan, kehidupan Bumi dengan vegetasi yang kompleks dapat bertahan lebih lama dibandingkan riset-riset sebelumnya,” kata Haqq-Misra, ahli astrobiologi dari lembaga amal eksplorasi antariksa Blue Marble Space.

Kepunahan tumbuhan jadi batasan

Sejumlah studi menjadikan kepunahan tumbuhan atau vegetasi sebagai batas akhir karena kehidupan Bumi sangat bergantung pada fotosintesis. Proses fotosintesis digunakan oleh tumbuhan, alga, dan beberapa bakteri untuk mengubah karbon dioksida dan air dengan bantuan sinar matahari menjadi gula atau karbohidrat dan oksigen.

Baca JugaKapan Alam Semesta Akan Berakhir?

Jadi, dua syarat pokok fotosintesis adalah sinar matahari dan karbon dioksida. Masalahnya, fotosintesis tidak bisa berlangsung selamanya. Mesin fotosintesis pada tumbuhan akan berhenti berfungsi pada suhu tertentu.

Saat Matahari membesar, maka energi yang diterima Bumi akan membesar pula. Limpahan sinar matahari itu akan menghangatkan Bumi hingga pada suhu tertentu akan membuat tumbuhan berhenti berfotosintesis. Karena tidak ada lagi tumbuhan, maka tidak ada produsen dalam jaring-jaring makanan sehingga predator yang berada di puncak piramida makanan akan ikut punah.

Persoalan lain, seiring membesarnya Matahari, maka jumlah karbon dioksida di atmosfer Bumi akan semakin berkurang. Dampaknya, tumbuhan akan ”kelaparan” karena kekurangan karbon dioksida. Saat suhu Bumi makin panas, maka Bumi akan menyerap lebih banyak karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya di dalam batuan bawah tanah.

Akhir kehidupan tumbuhan akan terjadi 1,8 miliar tahun lagi. Waktu kepunahan tumbuhan itu berlangsung mendekati waktu hilangnya lautan Bumi pada 2 miliar tahun yang akan datang.

Penyerapan karbon dioksida oleh batuan Bumi itu menjadi penyeimbang dari pemanasan yang terjadi sehingga suhu di Bumi tetap stabil. Mekanisme yang sudah berlangsung di sebagian besar umur Bumi itu membuat makhluk bisa hidup di atas permukaan Bumi.

”Selama hampir 4 miliar tahun umur Bumi, ’termostat bawaan’ yang membuat Bumi bisa menyimpan karbon dioksida menjadikan suhu di permukaan Bumi cukup ramah untuk mendukung kehidupan,” kata ahli keplanetan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, Robert Graham.

Simpanan karbon dioksida itu akan dilepaskan saat terjadi letusan gunung berapi. Namun, penyerapan karbon dioksida itu membuat tumbuhan menjadi ”kelaparan” akan karbon dioksida. Tanpa karbon dioksida, maka fotosintesis tak dapat terjadi dan tumbuhan pun mati. Punahnya tumbuhan akan mengoyak jaring-jaring makanan sehingga seluruh kehidupan pun dipastikan akan musnah.

Baca JugaBagaimana Waktu Bermula dan Berakhir? (Bagian 2-Selesai)
Tumbuhan ekstrem

Dalam studi ini, Haqq-Misra dan Wolf menggunakan 29 model iklim untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada biosfer vegetasi Bumi dalam beberapa skenario. Mereka menggunakan dua kasus ekstrem sebagai batas, yaitu ketika Bumi terlalu panas untuk menopang kehidupan, tetapi kadar karbon dioksidanya stabil, dan sebaliknya, ketika suhu stabil, tetapi tidak cukup karbon dioksida.

Di antara batas ekstrem itu, mereka memasukkan variasi kadar karbon dioksida dan sinar matahari. Cara ini membuat mereka bisa melihat kondisi Bumi seperti apa yang membuat batuan Bumi cukup efisien dalam menarik karbon dioksida dari atmosfer saat suhu mulai naik.

Mereka juga memasukkan informasi tentang berbagai tumbuhan yang berbeda mengingat beberapa tumbuhan mampu bertahan hidup dengan jumlah karbon dioksida relatif kecil. Selain itu, beberapa jenis tumbuhan laut juga dapat melarutkan dan mengakses karbon dioksida di dalam laut.

Apapun model dan asumsi yang digunakan, prediksi akhir kehidupan biosfer Bumi tetaplah merupakan perkiraan umum.

”Pemodelan iklim tiga dimensi yang digunakan dalam studi Haqq-Misra dan Wolf itu menunjukkan bahwa iklim Bumi sepertinya mampu mendukung kehidupan tumbuhan lebih lama dibandingkan prediksi model-model sebelumnya yang lebih sederhana,” tambah Graham, yang juga meneliti soal keberlangsungan kehidupan biosfer Bumi.

Meski studi ini memiliki banyak kemajuan dibandingkan riset-riset sebelumnya, kenyataannya biosfer Bumi merupakan sistem yang kompleks. Dengan segala tekanan dan risikonya, Bumi tetap memiliki ketahanan lingkungan jauh lebih besar dalam menghadapi peningkatan kecerahan Matahari dibandingkan prediksi sebelumnya.

Meski demikian, astrobiolog dari Birkbeck, University of London, Andrew Rushby, mengatakan, apa pun model dan asumsi yang digunakan, prediksi akhir kehidupan biosfer Bumi tetaplah merupakan perkiraan umum. ”Manusia tidak mungkin memprediksi atau mengetahui adaptasi evolusi yang dialami biosfer fotosintetik sebagai respons terhadap peningkatan intensitas sinar matahari dan penurunan kadar karbon dioksida di atmosfer Bumi, apalagi selama miliaran tahun,” ujarnya.

Baca Juga90 Detik Menuju ”Kiamat Bumi”

Batasan yang digunakan untuk menentukan akhir kehidupan Bumi tersebut hanya mencerminkan pengamatan manusia terhadap biosfer Bumi saat ini. Batasan yang berupa tekanan termal dan kadar karbon dioksida itu belum tentu menjadi batasan pasti bagi biosfer Bumi selama nantinya berevolusi. Namun, tidak ada cara yang benar-benar pasti juga untuk mengetahui bagaimana kehidupan di Bumi nantinya beradaptasi dengan keadaan baru.

Hal yang sering sulit diukur adalah Bumi dan manusia sebagai bagian dari biosfer Bumi sejatinya memiliki ketangguhan untuk beradaptasi dengan lingkungan kehidupan baru. Evolusi jutaan tahun manusia telah membuktikan hal itu. Karena itu, Bumi dan manusia bisa jadi mampu bertahan hidup jauh lebih panjang dibandingkan prediksi yang ada sekarang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Julian Nagelsmann Mundur Usai Jerman Tersingkir dari Piala Dunia 2026
• 18 jam lalumedcom.id
thumb
Dokkes Polri Periksa Kesehatan Warga Terdampak Asap Kebakaran TPA Jatiwaringin di Banten
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Tak Naik Sejak 2005, DTKJ Usulkan Tarif Transjakarta Jadi Rp5.000
• 22 jam laludisway.id
thumb
Catchplay+ Rayakan 10 Tahun di Indonesia, Luncurkan K-Drama Vertikal 
• 3 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Hamilton tercepat pada latihan bebas GP Inggris 2026
• 16 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.