Kamu pernah gak bermasalah dengan rekan kerja, teman kampus, pacar, atau bahkan keluarga, dan masalah itu menjadikan pikiranmu buyar. Masalah itu membuat wajah kamu lesu karena kamu menahan banyak beban di pikiran kamu. Terus ada seseorang bertanya kepada kamu begini: “Are you okay?” Tapi kamu malah menjawab: “Aku gak apa-apa kok.” Kita merasa kuat menahan semua beban masalah tersebut, dan tidak perlu menceritakannya kepada orang lain.
Hal ini disebut Emotional Stoicism (Stoisisme Emosional) yang berakar dari filosofi Stoikisme. Dalam konteks psikologis, emotional stoicism merujuk pada kecenderungan seseorang untuk menahan, menyembunyikan, dan mengendalikan emosinya sendiri tanpa mengekspresikannya ke luar. Orang dengan sifat ini percaya bahwa mengeluh atau menceritakan masalah tidak akan mengubah keadaan, sehingga mereka memilih untuk menanggungnya dalam diam. Ini membuat seseorang memilih memakai topeng untuk menutup masalah yang dia hadapi. Tapi apakah kamu benar-benar bisa menanggungnya sendiri? Apa kamu benar-benar tidak perlu bercerita? Apakah dengan mengatakan “aku gak apa-apa kok” dapat melegakan diri kamu?
Dibesarkan untuk Terlihat Kuat
Sejak kecil, kita diajari untuk hidup sempurna dan kuat menghadapi segala situasi walaupun sendiri. Kita didoktrin bahwa kesalahan atau masalah itu harus dihadapi sendiri. Hal ini membuat kita bertumbuh dengan pikiran bahwa kita dapat mengatasinya sendiri. Dan tanpa kita sadari, pikiran kita sendiri membentuk pola hidup yang bisa hidup mandiri. Kita menganggap bahwa ketika kita bercerita kepada orang lain, itu merupakan suatu kelemahan dan tidak perlu ditunjukkan. Dan di sisi lain, kita juga menganggap bahwa ketika kita bercerita tentang masalah hidup kita, itu akan membebani orang lain.
Takut dihakimi juga merupakan faktor yang tanpa kita sadari membuat kita jadi enggan untuk bercerita kepada orang lain. Anticipatory Stigma (Stigma Antisipatif) adalah situasi ketika seseorang mengantisipasi respons negatif orang lain sebelum mereka sempat bercerita. Mereka sudah membayangkan di dalam kepala bahwa orang lain pasti akan menghakimi, meremehkan, atau memberi label "lemah" pada masalah mereka. Ketakutan ini membuat mereka melakukan sensor mandiri (self-censorship).
Budaya "Harus Baik-Baik Saja"
Dalam psikologi, kondisi ini bukan sekadar "berpura-pura", melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri dan tuntutan sosial yang memiliki nama dan dampak tersendiri.
Berikut adalah beberapa konsep psikologis yang menjelaskan kondisi tersebut:
1. Smiling Depression (Depresi Tersenyum): ini adalah istilah nonklinis untuk menggambarkan seseorang yang hidup dengan kecemasan atau depresi di dalam diri, namun tampil sangat bahagia, sukses, dan aktif di luar.
2. Emotional Labor (Kerja Emosional): konsep ini pertama kali dikemukakan oleh sosiolog Arlie Hochschild. Ini adalah kondisi di mana kamu harus meregulasi dan menampilkan emosi tertentu demi profesionalisme atau memenuhi ekspektasi lingkungan, meskipun bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya
3. High-Functioning Anxiety / Burnout: kamu tetap produktif meski hampir habis tenaga karena didorong oleh rasa takut: takut mengecewakan, takut dianggap lemah, atau takut gagal. Produktivitas di sini sering kali menjadi mekanisme koping untuk mengalihkan rasa lelah atau cemas yang menumpuk.
Mengakui Bukan Berarti Menyerah
Sering kita berpikir bahwa bercerita tentang masalah yang kita hadapi adalah suatu kelemahan. Seakan ketika kita berkata “iya, aku tidak baik-baik saja” adalah hal yang sangat memalukan dalam hidup ini. Dalam dunia psikologis, hal ini adalah yang paling berani dan sangat membantu hidup ketika kita dalam masalah.
Ketika kita berkata “iya, aku tidak baik-baik saja” dan kemudian langsung bercerita tentang masalah yang kita hadapi kepada seseorang, ada tiga hal yang sedang terjadi tanpa kita sadari:
1. Validasi Diri (Self-Validation): Saat kamu mulai jujur untuk bercerita tentang masalah hidupmu, ini merupakan langkah awal untuk menerobos ketakutan yang selama ini menghantui kita. Ini seperti pertolongan pertama terhadap diri kita yang selama ini menahan semua beban mental yang selama ini kita simpan.
2. Melepaskan beban (Emotional Release): Melepaskan semua beban di pikiran dengan bercerita kepada orang lain; hal ini seperti menumpahkan air kotor yang sudah sangat lama ada dalam ember. Akan terasa lebih lega dan lebih ceria kembali.
3. Upaya Bertahan Hidup (Survival Mechanism): Ini seperti membuang sampah dari dalam rumah kita. Sampah itu akan membawa kerusakan dalam rumah, karena itu kita membuang sampah tersebut sebagai bentuk mempertahankan rumah kita dari hal-hal kotor. Sama halnya dengan sampah, masalah juga perlu kita buang dari pikiran kita dengan bercerita kepada orang lain, sebagai bentuk menjaga kewarasan mental kita.
Menjadi manusia yang kuat adalah hal yang diinginkan semua orang. Bercerita tentang masalah yang kita hadapi kepada orang lain tidak akan membuat kita lemah. Memang orang lain mungkin tidak bisa membantu kita dengan memberikan solusi terhadap masalah yang kita hadapi. Tetapi dengan bercerita kita bisa merasa hidup kembali. IYA, AKU TIDAK BAIK-BAIK SAJA. MULAILAH BERCERITA.





