Bisnis.com, JAKARTA — Pusat pertumbuhan industri asuransi global diperkirakan akan bergeser dalam 10 tahun ke depan. Jika selama beberapa dekade Amerika Utara menjadi episentrum industri asuransi dunia, ke depan Asia diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan bisnis asuransi jiwa. Sebaliknya, Amerika diperkirakan tetap mempertahankan dominasinya pada lini asuransi umum yang ditopang tingginya kebutuhan perlindungan aset dan meningkatnya kompleksitas risiko.
Pergeseran tersebut mencerminkan perubahan lanskap ekonomi global yang semakin terfragmentasi. Ketegangan geopolitik, perubahan demografi, meningkatnya biaya kesehatan, hingga frekuensi bencana alam mengubah kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan sekaligus menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru bagi industri asuransi.
Allianz Research memperkirakan total premi asuransi global akan meningkat dari EUR6,87 triliun pada 2025 menjadi EUR12,13 triliun pada 2036, atau tumbuh rata-rata 5,3% per tahun. Selama periode tersebut, tambahan premi diperkirakan mencapai EUR5,26 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi global.
Meski industri secara keseluruhan masih bertumbuh, sumber pertumbuhannya akan semakin berbeda antarsegmen. Pada bisnis asuransi jiwa, Asia diproyeksikan menjadi penyumbang terbesar. Allianz Research memperkirakan lebih dari separuh tambahan premi asuransi jiwa dunia selama satu dekade mendatang akan berasal dari kawasan tersebut.
Dari tambahan premi asuransi jiwa global sebesar EUR1,99 triliun hingga 2036, sekitar EUR1,00 triliun diperkirakan berasal dari Asia. Nilai itu jauh melampaui gabungan tambahan premi dari Amerika Utara sebesar EUR416 miliar dan Eropa Barat sebesar EUR402 miliar.
Dominasi Asia didorong oleh perubahan demografi yang meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan dan dana pensiun, tingginya tingkat tabungan rumah tangga, serta belum komprehensifnya sistem pensiun publik di banyak negara. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap produk asuransi jiwa diperkirakan terus meningkat.
Tren tersebut sudah terlihat pada 2025 ketika premi asuransi jiwa di Asia tumbuh 9,9%, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 6,9%. Cina bahkan mencatat pertumbuhan 11,4% dan tetap menjadi pasar asuransi jiwa terbesar di dunia.
Sebaliknya, pertumbuhan asuransi umum diperkirakan masih bertumpu pada Amerika Utara. Allianz Research memperkirakan premi asuransi umum global tumbuh rata-rata 4,7% per tahun hingga 2036. Dari tambahan premi sebesar EUR1,51 triliun selama periode tersebut, sekitar 44% diperkirakan berasal dari Amerika Utara.
Dominasi tersebut ditopang besarnya nilai aset yang diasuransikan di kawasan itu, mulai dari properti, kendaraan, hingga infrastruktur, serta meningkatnya kebutuhan perlindungan terhadap bencana alam, inflasi biaya klaim, dan berbagai risiko baru.
Walaupun pertumbuhan premi asuransi umum di Amerika Utara melambat menjadi 2,2% pada 2025 dari 9,7% pada tahun sebelumnya, kawasan tersebut masih menguasai sekitar 52% pasar asuransi umum global. Perlambatan lebih mencerminkan normalisasi siklus harga setelah beberapa tahun mengalami kenaikan premi yang tinggi, bukan melemahnya permintaan perlindungan.
Laporan Allianz juga menilai fragmentasi geopolitik akan menjadi faktor yang semakin menentukan arah industri asuransi. Perubahan pola perdagangan, rantai pasok global, dan meningkatnya risiko politik membuat perusahaan asuransi dituntut mengembangkan model bisnis yang lebih adaptif serta menghadirkan produk perlindungan baru, termasuk untuk infrastruktur, keamanan energi, dan risiko politik.
Chief Economist sekaligus Chief Investment Officer Allianz Ludovic Subran mengatakan fragmentasi geopolitik telah membalik banyak asumsi yang selama puluhan tahun menjadi fondasi perekonomian global. Menurut dia, ketahanan kini mulai menggantikan efisiensi sebagai prinsip utama dalam pengambilan keputusan sehingga industri asuransi memiliki peran yang semakin strategis, tidak hanya sebagai mekanisme transfer risiko, tetapi juga sebagai penopang investasi, inovasi, dan kepercayaan ekonomi.
Di tengah pergeseran tersebut, Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Allianz Research mencatat premi asuransi nasional tumbuh 11% menjadi EUR15,8 miliar pada 2025. Dengan tingkat penetrasi baru sekitar 1,3% terhadap produk domestik bruto (PDB), pasar asuransi Indonesia diperkirakan mampu tumbuh rata-rata 8,2% per tahun hingga 2036, melampaui proyeksi pertumbuhan industri asuransi global sebesar 5,3% per tahun.
Sementara itu di Tanah Air, berdasarkan Allianz Global Insurance Report 2026, pasar asuransi Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar +11,0%, dengan total pendapatan premi mencapai EUR15,8 miliar.
“Indonesia memiliki ruang pertumbuhan yang signifikan untuk memperluas akses proteksi bagi lebih banyak masyarakat. Seiring dengan terus meningkatnya biaya layanan kesehatan, menjaga premi asuransi kesehatan agar tetap berkelanjutan dan terjangkau menjadi semakin penting untuk memastikan akses jangka panjang terhadap perlindungan yang berkualitas,” ujar Alexander Grenz, Country Manager & Direktur Utama Allianz Life Indonesia dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (4/7/2026).





