Sebagai salah satu negara kecil di Asia Tenggara, Brunei Darussalam terus mempersolek daya tarik pariwisatanya. Negeri Petro Dollar itu menunjukkan kinerja pariwisata yang signifikan.
Dalam laporan “Travel and Tourism Global Trends (2025)”, Brunei Darussalam masuk dalam 10 besar negara dengan pertumbuhan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto. Pada 2025, pariwisata Brunei Darussalam tumbuh 33,2 persen dibanding tahun sebelumnya dalam periode yang sama.
Di tengah isu geopolitik di Timur Tengah, Brunei Darussalam masih terus menggarap pariwisatanya. Baik kawasan timur maupun barat, negara-negara itu menjadi target utama Brunei Darussalam. Selain Asia Tenggara, Australia, Jepang, China, Uni Emirat Arab, India, dan Inggris menjadi pangsa pasar utama Brunei. Negara tersebut juga menargetkan pasar baru, seperti Jerman, Italia, Perancis, Kanada, dan Amerika Serikat.
“Brunei mungkin bukan sebuah destinasi untuk semua orang karena mereka mungkin tidak memahami apa yang ditawarkan negara ini. Itulah mengapa selama 20 tahun terakhir, kami mempromosikan Brunei sebagai pasar niche (khusus),” ujar Strategic Partnership and Market Access Unit Tourism Development Department Ministry of Primary Resources and Tourism Adilah Rahman dalam Travel Meet Asia 2026 di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Berdasarkan data terakhir pada 2025, Adilah mengatakan, jumlah perjalanan terbanyak melalui jalur udara tercatat dari Malaysia dengan total 71.412 kedatangan. Posisi itu diikuti China (44.598), Indonesia (31.747), Singapura (22.781), dan Filipina (19.054). Masih didominasi oleh Asia-Pasifik, Jepang tercatat dengan 13.200 kedatangan, disusul Australia (10.257), Inggris (9.054), Korea Selatan (7.914), serta India (7.041).
“Jadi memang orang-orang tertentu yang memang berniat ke Brunei. Kami tidak fokus pada mass tourism (pariwisata massal) karena negara-negara lain dapat melakukan itu. Namun, tidak dengan Brunei karena kami tahu kapasitas kami,” tutur Adilah.
Dengan populasi sekitar 400.000 jiwa, Pemerintah Brunei tidak mampu memenuhi jutaan turis. Alhasil, mereka memahami kemampuannya, sehingga wisatawan perlu ditargetkan ke kelompok tertentu.
Ketika mempromosikan Brunei, Adilah melanjutkan, penting untuk mengidentifikasi target-target pasar agar lebih teridentifikasi. Ketika Brunei menawarkan sesuatu untuk semua orang, pengalaman yang sejalan dengan pengunjung-pengunjung yang tepat memastikan perjalanan mereka lebih bermakna.
Brunei mengemas pariwisatanya dalam tiga bentuk, yakni budaya, petualangan, dan alam. Untuk kebudayaan, Brunei menawarkan makanan-makanan lokal dan budaya, termasuk kampanye mempromosikan pariwisata Islam.
Aspek pengalaman berfokus pula menggarap pasar-pasar khusus. Beberapa di antaranya adalah kegiatan menyelam (diving), golf, dan mengamati burung (birdwatching). Aspek alam menekankan pada lanskap keindahan alam dan tempat-tempat indah tersembunyi.
“Hanya orang-orang yang benar-benar menyukai tiga sektor tersebut yang mungkin akan menikmati Brunei dan hal-hal lain yang bisa kami tawarkan. Jadi Brunei dapat hanya menjadi mono destination (fokus pada satu destinasi), tetapi kami juga dapat memasangkannya dengan negara-negara lain,” ujar Adilah.
Kondisi geopolitik yang memanas sejak akhir Februari lalu tidak menyurutkan Pemerintah Brunei untuk tetap mempromosikan pariwisatanya. Ragam medium dilakukan, seperti melalui agen perjalanan daring serta melakukan ragam pameran.
Inisiatif pemasaran digital dengan banyak metode, seperti menggandeng pemengaruh media sosial serta travel blogger banyak dilakukan. Mereka diharapkan mampu menarik segmen pasar pelaku perjalanan kebugaran (wellness travelers), pengembara digital (digital nomads), dan turis-turis sadar lingkungan.
Dalam kesempatan yang sama, Executive Director Messe Berlin Asia Pacific Darren Seah mengatakan, Brunei menawarkan para wisatawan sebuah kombinasi destinasi. Destinasi itu mencakup warisan budaya yang otentik, hutan-hutan yang masih lestari, pengalaman berbasis alam, serta pelayanan kelas dunia.
“Partisipasi Brunei sebagai mitra negara resmi mencerminkan komitmen bangsa untuk memperkuat eksistensinya dalam pasar wisata regional dan internasional,” kata Darren.
Pemerintah Brunei makin fokus menggarap pariwisatanya setelah pandemi Covid-19 dan ragam disrupsi global. Strategi pariwisatanya diarahkan pada praktik-praktik berkelanjutan, termasuk menekankan wisata regeneratif yang fokus pada keberlanjutan lingkungan, pelestarian budaya, dan pengalaman berbasis komunitas, seperti dikutip dari The ASEAN Magazine.
Berdasarkan data Juli 2025, Brunei mencatat lebih dari 438.000 kedatangan turis, naik 21 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Pertumbuhan itu terlihat dari seluruh gerbang kedatangan, baik udara yang naik 8 persen, darat yang meningkat 26 persen, serta laut yang melonjak 92 persen.
“Brunei Darussalam membidik untuk memposisikan dirinya sebagai oase kedamaian dan ketenangan di Asia Tenggara, dikenal karena budayanya, alamnya, dan kegiatan petualangannya,” kata Minister of Primary Resources and Tourism Abdul Manaf Bin Metussin dalam The Asean Magazine.
Brunei memiliki peta jalan industri pariwisata 2024-2035 yang menekankan negaranya sebagai destinasi yang mudah diakses di kawasan. Negara itu juga memberikan pengalaman perjalanan yang mulus, berdampingan dengan upaya diversifikasi wisata sekaligus destinasi berkualitas tinggi dan ramah lingkungan. Peta jalan ini juga paralel dengan Visi Brunei 2035, dengan pariwisata sebagai salah satu kunci yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan untuk mendukung perekonomian.
Brunei Darussalam memang mengakui bahwa negaranya memiliki ragam keterbatasan, sehingga mengoptimalkan aspek-aspek alam dan warisan budayanya. Dalam perspektif lain, kondisi ini memberi tantangan lain bagi negara tersebut untuk memikat wisatawan.
Menurut Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani, pekerjaan rumah Brunei cukup berat. Sebab, tidak banyak opsi destinasi yang bisa dilihat di negara tersebut.
“Kalau dari sisi minat wisatawan, menurut saya agak berat. Orang masih pilih ke Malaysia atau Thailand atau Vietnam. Sekarang Vietnam sangat bagus (kemasan pariwisatanya). Orang sudah mulai malas ke Singapura karena kemahalan, perkembangan Filipina juga stagnan,” ujar Hariyadi.
Selain destinasi Brunei yang terbatas, penerbangan ke negara penghasil minya tersebut juga terbatas. Salah satu maskapai penerbangan andalannya adalah Royal Brunei Airlines.
Meski demikian, ragam upaya Brunei untuk menggarap pariwisatanya tetap perlu diacungi jempol. Sebagai negara yang selama ini bergantung pada minyak bumi, sektor lain mulai menjadi acuan untuk menggerakkan roda perekonomiannya. Peta jalan, bahkan khusus pariwisata, telah disusun. Konsistensi dan “buah” menuju rencana jangka menengah dan panjang patut dinanti.





