Oleh: Aktivis perempuan dan Direktur Digital Momi Indonesia, Lia Najib
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko bukan sekadar turnamen empat tahunan yang biasa digelar oleh induk sepak bola dunia, FIFA.
Dalam edisi tahun ini, terdapat banyak perubahan yang dilakukan oleh FIFA salah satunya bertambahnya jumlah peserta turnamen sepak bola paling bergengsi di kolong langit itu.
Baca Juga
Momen Langka Piala Dunia, Penyerang Timnas Australia Ini Masuk Islam Jelang Laga Lawan Mesir
Konferensi Herzliya Simpulkan Israel Berada di Ambang Kehancuran Akibat Perang
Rahasia Negosiator Iran Menguras Kesabaran Lawan, bahkan Diplomat AS hingga Menangis
Mulai pertama kali digelar di tiga negara, peserta Piala Dunia 2026 juga penambahan yang tadinya hanya berjumlah 32 negara, kini bertambah menjadi 48 negara peserta.
Presiden FIFA Gianni Infantino dalam keterangannya di forum World Economic Forum di Davos, Swiss pada Januari 2026 lalu mengatakan, keputusan pihaknya memperluas jumlah peserta ini karena menganggap sepak bola seharusnya milik semua orang.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sebab menurut dia, dari total 211 negara yang menjadi anggota resmi FIFA, sebagian besar di antaranya hanya bisa menonton dari layar kaca ajang Piala Dunia tersebut.
"Ada 211 negara yang menjadi anggota FIFA. Kami ingin memberi mereka momen kegembiraan dan kebahagiaan. Ketika seorang anak menendang bola, mereka tidak memikirkan masalah dalam hidup mereka," ujar Infantino dinukil dari situs resmi FIFA.com.
Penambahan peserta Piala Dunia ini otomatis banyak negara-negara debutan bermunculan dari berbagai konfederasi, tak terkecuali Asia.
Salah satu yang cukup menuai sorotan, hadirnya Uzbekistan yang sedari ajang Kualifikasi memang sudah menunjukan taji-nya bahwa mereka memang layak untuk lolos ke putaran final.
Suasana seremoni pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Kamis (11/6/2026). - (EPA/JOSE MENDEZ)
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.