Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak mengakhiri perdagangan pekan ini dengan penguatan yang cukup solid. Berdasarkan data Refinitiv, harga perak pada Jumat (3/7/2026) ditutup di US$62,40 per troy ons, naik dari US$59,16 pada penutupan pekan sebelumnya. Secara mingguan, kenaikannya mendekati 5,5% dan membawa logam mulia ini kembali ke level tertinggi dalam hampir dua pekan terakhir.
Perjalanan harga selama sepekan berlangsung bertahap. Setelah sempat melemah ke kisaran US$58 pada awal pekan, perak perlahan bergerak naik hingga menembus US$61 pada Kamis, kemudian ditutup di atas US$62 pada Jumat. Penguatan tersebut berlangsung di tengah perubahan ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Perhatian investor pekan ini tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Laporan nonfarm payrolls mencatat penambahan 57.000 tenaga kerja sepanjang Juni, lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar yang berada di kisaran 110.000. Angka itu menjadi pertumbuhan lapangan kerja paling rendah dalam empat bulan terakhir.
Data tersebut mendorong pelaku pasar kembali menghitung peluang langkah Federal Reserve pada pertemuan berikutnya. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun ke sekitar 50%, lebih rendah dibandingkan sebelum data tenaga kerja dirilis. Kondisi seperti ini biasanya memberikan ruang bagi logam mulia untuk bergerak lebih stabil karena tekanan dari tingkat suku bunga mulai berkurang.
Pada saat yang sama, dolar Amerika Serikat bergerak melemah dan mencatat penurunan mingguan terbesar sejak April. Pelemahan dolar ikut menjaga minat terhadap aset-aset logam mulia, termasuk perak, yang secara historis cenderung bergerak berlawanan arah dengan mata uang tersebut.
Komentar Ketua Federal Reserve Kevin Warsh juga menjadi perhatian pasar. Ia menyampaikan bahwa ekspektasi inflasi terus bergerak lebih moderat, sembari menegaskan komitmen bank sentral menjaga stabilitas harga. Pernyataan itu hadir ketika pelaku pasar sedang mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang.
Meski mencatat reli sepanjang pekan ini, posisi harga perak masih berada di bawah level satu bulan lalu. Namun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, kenaikannya masih mendekati 69%. Artinya, tren jangka panjang logam ini masih relatif kuat meskipun volatilitas dalam beberapa pekan terakhir cukup tinggi.
Pergerakan perak selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, terutama indikator yang berkaitan dengan inflasi dan pasar tenaga kerja. Selama ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter tetap terjaga, ruang penguatan harga perak masih terbuka meski pergerakannya diperkirakan akan tetap fluktuatif.
CNBC Indonesia Research
(emb/luc) Add as a preferredsource on Google




