Galeri Emiria Soenassa di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dipenuhi deretan foto beraneka warna. Tidak ada kesan kaku. Dinding-dinding yang berkelok mengarahkan langkah pengunjung menyusuri ribuan cerita kecil tentang Indonesia. Mulai dari penari tradisional, pedagang pasar, upacara adat, hingga keseharian masyarakat, semuanya terekam manis melalui sudut pandang anak-anak.
Sejak Jumat (3/7/2026), pameran fotografi Awan Cerah 2026 resmi dibuka. Semua karya yang dipamerkan lahir dari kreativitas peserta berusia 6-16 tahun. Berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, mereka memotret kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang mereka lihat, temui, dan alami sendiri.
Seorang anak mengamati karya fotografi dalam pameran Awan Cerah 2026. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Pengunjung mengabadikan deretan foto karya anak-anak dan remaja. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Seorang ayah dan kedua anaknya melintas di antara deretan karya fotografi. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Mengusung tema ”Yang Muda, yang Berbudaya”, pameran besutan komunitas Asuh Watak Asah Nalar (AWAN) ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak sekadar mewarisi kebudayaan. Mereka juga mampu merekam, menafsirkan, dan menceritakannya kembali melalui bahasa visual. Dari mata mereka, budaya hadir dalam wujud yang lebih jujur dan dekat dengan keseharian.
Tidak ada proses kurasi dalam pameran ini. Komunitas AWAN memilih memamerkan semua foto yang diterima sebagai bentuk penghargaan atas usaha setiap peserta. Bagi mereka, proses merencanakan, memotret, hingga berani mengirimkan karya merupakan pencapaian yang layak diapresiasi. Oleh karena itu, setiap foto memperoleh kesempatan yang sama untuk dinikmati pengunjung.
Keputusan tersebut membuat jumlah karya yang dipajang tahun ini jauh lebih banyak. Saat pertama kali digelar pada 2023, Awan Cerah diikuti sekitar 175 peserta dengan 219 karya. Tiga tahun kemudian, antusiasme meningkat tajam menjadi 700 peserta yang mengirimkan 1.285 karya.
Selain dipamerkan, semua karya juga diikutsertakan dalam lomba yang terbagi ke dalam dua kategori usia, yakni 6-11 tahun dan 12-16 tahun. Ribuan foto yang mengangkat benang merah tentang kebudayaan akan dinilai oleh juri lintas disiplin, yaitu fotografer Davy Linggar dan Beawiharta, komponis Peni Candra Rini, arsitek Yori Antar, serta Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie.
Pengunjung berswafoto dengan karya fotografi dalam pameran Awan Cerah 2026. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Deretan foto karya anak-anak dan remaja Indonesia. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Pengunjung mengamati karya fotografi dalam pameran Awan Cerah 2026. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Menyusuri ruang pamer terasa seperti membaca kumpulan kisah pendek tanpa kata. Meski setiap foto berdiri sendiri, deretan karya itu seolah merangkai gambaran utuh tentang Indonesia. Sebagian foto bahkan tampil dengan pencahayaan, warna, dan komposisi yang matang, menunjukkan bahwa kepekaan visual tidak selalu ditentukan oleh usia.
Pengalaman menikmati pameran semakin kuat berkat rancangan ruang yang ramah anak. Dinding yang sedikit miring dan jalur sirkulasi yang tidak sepenuhnya lurus membuat pengalaman berjalan terasa lebih dinamis. Sementara itu, tinggi bidang pajang disesuaikan dengan rata-rata tinggi anak sehingga karya lebih nyaman dinikmati, terutama oleh para pembuat karya itu sendiri.
Untuk mengembangkan identitas visual pameran, komunitas AWAN menggandeng Nusaé, studio desain yang berbasis di Bandung, Jawa Barat. Rancangannya berangkat dari tema ”Yang Muda, yang Berbudaya”, yang menekankan anak-anak dan remaja sebagai penjaga sekaligus penerus kebudayaan Indonesia.
Melalui konsep visual bertajuk ”Merangkai dan Merawat Budaya”, gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam perpaduan tipografi nama ”Awan Cerah” dengan berbagai unsur budaya Nusantara. Dengan demikian, tipografi tidak hanya berfungsi sebagai tulisan, tetapi juga menjadi elemen visual yang turut menyampaikan cerita.
Pengunjung membicarakan karya fotografi yang dipamerkan. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Karakter yang terbuat dari kardus turut mempercantik pameran. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Deretan foto karya anak-anak dan remaja Indonesia. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Identitas visual itu kemudian dilengkapi empat karakter ilustrasi khas Awan Cerah. Andi Rahmat, sang desainer, menggambar anak-anak dan remaja yang sedang menikmati pameran, mulai dari membaca cerita, mengamati karya fotografi, hingga berinteraksi dengan ruang pamer. Kehadiran ilustrasi tersebut membuat suasana pameran terasa hangat, akrab, dan dekat dengan dunia anak.
Sejak awal, komunitas AWAN menjadikan fotografi sebagai salah satu media pembelajaran karakter. Melalui kegiatan kreatif di luar sekolah, mereka mendorong anak-anak menjadi pribadi yang lebih peka, kreatif, sekaligus mencintai kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu, dalam pameran yang berlangsung hingga 1 Agustus 2026 ini, fotografi hadir bukan sekadar sebagai bingkai momen, melainkan sebagai cara anak-anak memandang dan memahami Indonesia.





