JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca penerbangan untuk periode 6–12 Juli 2026 yang memetakan potensi pertumbuhan awan cumulonimbus (Cb) di sejumlah wilayah daratan dan perairan Indonesia.
Awan cumulonimbus merupakan jenis awan yang kerap berkaitan dengan cuaca buruk, seperti hujan lebat, petir, dan angin kencang.
Meski demikian, potensi pertumbuhan awan Cb tidak berarti cuaca ekstrem pasti terjadi, melainkan menunjukkan peluang yang lebih tinggi sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan kondisi cuaca.
Dalam prakiraan tersebut, BMKG membagi potensi pertumbuhan awan cumulonimbus ke dalam tiga kategori berdasarkan persentase cakupan spasial maksimum.
Kategori pertama adalah ISOL CB (Isolated) dengan cakupan kurang dari 50 persen yang divisualisasikan dengan warna biru muda.
Baca Juga: Kapan Puncak Musim Kemarau Tiba di Indonesia? Ini Prakiraan BMKG
Kategori kedua adalah OCNL CB (Occasional) dengan cakupan antara 50 hingga 75 persen yang ditandai warna ungu.
Sementara kategori ketiga adalah FRQ CB (Frequent) dengan cakupan lebih dari 75 persen dan divisualisasikan dengan warna hijau.
Dari seluruh wilayah yang dipantau, hanya Laut Sulawesi bagian barat yang masuk kategori Frequent (FRQ) atau memiliki potensi cakupan pertumbuhan awan cumulonimbus lebih dari 75 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan peluang yang lebih tinggi terjadinya cuaca buruk, seperti hujan lebat, petir, dan angin kencang, sehingga perlu diwaspadai oleh pelaku pelayaran, nelayan, maupun penerbangan yang melintasi kawasan tersebut.
30 Wilayah Berkategori OccasionalPenulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- BMKG
- awan Cumulonimbus
- awan Cb
- cuaca Indonesia
- cuaca ekstrem
- cuaca penerbangan





