Bisnis.com, JAKARTA - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) menilai peluang ekspor baja masih cukup optimal pada semester II/2026 di tengah gelombang proteksionisme dan kenaikan standar emisi di pasar global. Sejumlah strategi pun telah disiapkan perusahaan guna mengatasi tantangan tersebut.
Corporate Secretary KRAS Rachman Hidayat mengatakan salah satu tantangan utama ekspor baja pada paruh kedua 2026 adalah meningkatnya kebijakan perlindungan perdagangan di berbagai negara.
Dia memaparkan, sejumlah negara kini memperkuat instrumen pengamanan perdagangan untuk melindungi industri baja domestiknya dari serbuan produk impor murah, terutama dari negara dengan kapasitas produksi besar seperti China.
Menurutnya, berbagai kebijakan seperti anti-dumping, safeguard, hingga pengawasan impor semakin luas diterapkan di pasar global.
Di sisi lain, negara-negara Eropa juga memperketat standar emisi melalui penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang mendorong hanya produk baja beremisi rendah yang dapat masuk ke pasar kawasan tersebut.
"Selain CBAM, Eropa juga menerapkan Tariff Rate Quota (TRQ) yang semakin memperkuat sistem pengamanan perdagangan," kata Rachman kepada Bisnis, dikutip Minggu (5/7/2026).
Baca Juga
- Krakatau Steel (KRAS) Lepas Aset Hotel Rp312 Miliar ke PT HIN dan InJourney
- Krakatau Steel (KRAS) Redam Gelombang PHK saat Gejolak Geopolitik
- Krakatau Steel Jual 940.000 Ton Baja Sepanjang 2025
Di tengah tantangan tersebut, dia menilai prospek ekspor baja pada paruh kedua 2026 tetap akan ditentukan oleh sejumlah faktor utama, mulai dari pergerakan harga baja global, biaya bahan baku, biaya logistik, nilai tukar, hingga permintaan sektor konstruksi dan manufaktur dunia.
Kebijakan perdagangan di negara tujuan ekspor juga akan menjadi faktor penting yang memengaruhi kinerja penjualan luar negeri industri baja.
Dengan mempertimbangkan berbagai dinamika tersebut, KRAS akan menerapkan strategi yang lebih selektif dalam menentukan pasar tujuan ekspor.
“Kami akan memprioritaskan negara tujuan yang memiliki permintaan stabil, risiko perdagangan yang terkendali, dan memberikan margin yang sehat bagi perusahaan,” katanya.
Untuk mendongkrak ekspor pada semester II/2026, KRAS akan berfokus pada penguatan pasar yang sudah berjalan sekaligus menjajaki peluang di negara-negara baru.
Selain itu, KRAS akan mengoptimalkan penjualan produk baja yang memiliki daya saing tinggi dan permintaan kuat di pasar internasional.
Perseroan juga terus memperkuat kerja sama dengan mitra dagang domestik maupun internasional, meningkatkan keandalan pasokan, serta memastikan seluruh produk ekspor memenuhi standar kualitas dan persyaratan yang berlaku di negara tujuan.
Rachman menambahkan ekspor tetap menjadi salah satu pilar penting dalam strategi pertumbuhan perusahaan pada tahun ini.
Sejalan dengan target pertumbuhan produksi sebesar 38% pada 2026, KRAS membidik kontribusi ekspor sebesar 10% hingga 15% dari target pendapatan konsolidasi senilai US$1,6 miliar.
Menurutnya, peningkatan ekspor diperlukan untuk memperluas penetrasi pasar, mengoptimalkan utilisasi kapasitas produksi, sekaligus menciptakan portofolio penjualan yang lebih seimbang antara pasar domestik dan internasional.
“Ekspor menjadi salah satu pilar strategi perseroan untuk memperluas penetrasi pasar, mengoptimalkan utilisasi kapasitas produksi, serta menciptakan portofolio penjualan yang lebih seimbang antara pasar domestik dan internasional,” ujar Rachman.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





