Bagi Deka Darma, garis finis bukan sekadar penanda berakhirnya perlombaan. Setiap ajang lari yang ia ikuti merupakan bagian dari perjalanan panjang yang telah dimulai sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
Pria berusia 25 tahun asal Bali itu kembali menambah pengalaman dengan mengikuti nomor 10 kilometer pada Kostrad Run 2026. Meski kini bekerja di Cikeas, Bogor, Deka mengaku ajang tersebut menjadi pengalaman pertamanya mengikuti lomba lari di Jakarta.
"Mulai lari karena saya dari kecil suka lari ya, mulai dari SMP lah sering lari," kata Deka kepada kumparan usai menyelesaikan lomba 10 kilometer, Minggu (5/7).
Kebiasaan itu terus dipertahankannya hingga kini. Hampir setiap hari, Deka menyempatkan diri berlatih agar tetap siap mengikuti berbagai ajang lari.
Persiapan menuju Kostrad Run pun tidak dilakukan secara instan. Selama sepekan terakhir, ia rutin menjalani berbagai menu latihan, mulai dari lari 5 kilometer, 10 kilometer, long run, hingga sprint.
Rutinitas tersebut membuat jarak 10 kilometer bukan lagi tantangan yang berat baginya. Bahkan, dalam latihan ia kerap menempuh jarak yang lebih jauh.
"Latihannya paling long run 21 kilo, pernah juga 42. Ya, lebih sering 10 kilo sih. Ya, enteng lumayan sih. He eh, enteng sekali," ujarnya.
Konsistensinya membuahkan hasil. Deka memperkirakan medali dari nomor 10 kilometer di Kostrad Run menjadi medali ke-9 atau ke-10 yang ia raih pada kategori tersebut. Sementara jika dihitung dari seluruh ajang lari yang pernah diikutinya, koleksi medalinya kini telah mencapai sekitar 20.
"Medali 10K ini mungkin ke-9 atau ke-10 kali. Kalau total mungkin 20-an. Kebanyakan di Bali," katanya.
Sebagian besar pengalaman itu ia peroleh saat mengikuti berbagai event lari di Bali. Setelah pindah bekerja ke Bogor, Deka mulai menjajal sejumlah lomba di Pulau Jawa, termasuk Kostrad Run yang menjadi pengalaman pertamanya berlari di Jakarta.
Menurut Deka, tantangan terbesar di lintasan kali ini bukan berasal dari jarak tempuh, melainkan kontur jalan yang memiliki beberapa tanjakan.
"Untuk pengaturan lalu lintas segala macam sangat bagus, mulai dari TNI, Polri, segala macam kayak gitu. Untuk jalannya juga oke, bagus. Menanjak ada, penurunan juga, lurus juga ada gitu," ujarnya.
"Untuk tantangannya sih mungkin jalan nanjaknya itu aja ya," sambungnya.
Di luar lintasan, Deka menilai penyelenggaraan Kostrad Run memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan sejumlah ajang yang pernah diikutinya.
Ia mengapresiasi keberadaan water station, banyaknya relawan dan cheering yang terus memberikan semangat kepada para pelari, hingga pengaturan lalu lintas yang melibatkan personel TNI dan Polri. Menurutnya, fasilitas pendukung seperti tempat ibadah dan kamar mandi juga tersedia dengan baik.
"Ketika waktu kita lari juga banyak cheering yang menyemangati kita, dan juga water station juga lumayan oke, bagus," jelasnya.
Hal lain yang membuat Kostrad Run berkesan baginya adalah adanya pameran alat utama sistem persenjataan (alutsista) setelah peserta menyelesaikan lomba.
Deka mengaku tertarik melihat berbagai perlengkapan militer yang dipamerkan karena pengalaman seperti itu jarang ditemui dalam ajang lari.
"Ya, sangat menarik. Mulai dari alutsista yang menarik sekali dan canggih sekali juga, dan ada pameran dari TNI. Itu sangat menarik sih, menambah minat masyarakat yang terhibur lah untuk acara hari ini," ujarnya antusias.
Bagi Deka, berlari bukan lagi sekadar olahraga, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup. Ada kepuasan tersendiri setiap kali berhasil menaklukkan lintasan, bertemu sesama pelari, hingga mengoleksi medali dari berbagai kota.
"Karena lari itu dibilang olahraga yang murah juga enggak, dibilang mahal ya juga mahal, karena modal sepatu aja. Terus saya dulu sering ikut event lari, jadi atlet juga, jadi memicu adrenalin. Menarik lah untuk lari ini," tuturnya.
Setelah menuntaskan ajang lari pertamanya di Jakarta, Deka berencana menikmati waktu sejenak di ibu kota sebelum kembali menjalani rutinitas pekerjaannya pada hari berikutnya.





