Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas logam mulia diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada pekan depan, namun setiap koreksi dinilai justru menjadi peluang akumulasi, terutama di tengah meningkatnya pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia.
Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan secara teknikal, harga logam mulia memiliki support pertama di level Rp2.650.000 per gram dan support kedua di Rp2.550.000 per gram.
"Sementara itu, apabila menguat, harga logam mulia berpotensi menguji resistance pertama di Rp2.690.000 per gram, sebelum berpeluang naik menuju Rp2.780.000 per gram," ujarnya, Minggu (5/7/2026).
Dari sisi fundamental, Ibrahim menyebut permintaan emas fisik dari bank sentral global masih menjadi penopang utama harga. Hingga Mei 2026, Ibrahim menyebut bank sentral dunia tercatat telah menambah cadangan emas batangan sekitar 41 ton.
China, sebutnya, masih menjadi salah satu pembeli terbesar dengan tambahan sekitar 10 ton sehingga total cadangan emasnya mencapai sekitar 2.331 ton. Selain China, pembelian juga dilakukan oleh Uzbekistan, Kazakhstan, Singapura, Republik Ceko, hingga Yordania.
Menurut analisisnya aksi pembelian tersebut menunjukkan banyak bank sentral memanfaatkan setiap pelemahan harga emas sebagai momentum memperbesar cadangan devisa berbasis logam mulia.
"Ketika harga mengalami koreksi, justru menjadi kesempatan bagi bank sentral global melakukan akumulasi karena mereka melihat prospek harga emas masih positif dalam jangka panjang," katanya.
Prospek tersebut juga didukung ekspektasi penurunan suku bunga Amerika Serikat yang berpotensi meningkatkan daya tarik aset safe haven seperti emas.
Berdasarkan data dari laman resmi logam mulia pada 5 Juli 2026, harga emas antam telah mencapai Rp2.650.000 per gram. Harga emas terendah untuk ukuran 0,5 gram mencapai Rp1.385.000 sedangkan harga emas termahal ukuran 1.000 gram telah mencapai Rp2,610 miliar.





