Saat Panas Terlalu Menyengat, Air Justru Menjadi Ancaman

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Ada ironi yang sulit diabaikan dari gelombang panas yang sedang melanda Eropa.

Saat suhu menembus lebih dari 40 derajat Celsius dan udara terasa seperti membakar, banyak orang mencari tempat yang selama ini identik dengan keselamatan: air. Sungai, danau, kanal, dan waduk menjadi tujuan. Namun di Prancis, puluhan orang justru kehilangan nyawa saat berusaha menyejukkan diri.

Mereka tidak meninggal karena kebakaran hutan. Tidak pula karena badai atau banjir. Mereka tenggelam saat mencoba melarikan diri dari panas.

Sekilas, keputusan itu terasa wajar. Ketika rumah terasa gerah, jalanan memantulkan hawa panas, dan malam tidak lagi membawa kesejukan, air terlihat seperti jawaban paling sederhana. Namun cuaca ekstrem ternyata menciptakan risiko yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Menteri Olahraga dan Kepemudaan Prancis, Marina Ferrari, sampai mengingatkan bahwa terlalu banyak orang masuk ke sungai dan kanal tanpa memperhitungkan bahayanya. Arus yang kuat, kedalaman yang tidak diketahui, serta area yang tidak diawasi petugas berubah menjadi jebakan yang mematikan.

Di balik tragedi itu, ada persoalan yang lebih besar. Gelombang panas yang melanda Eropa bukan lagi kejadian langka. Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa perubahan iklim membuat suhu ekstrem menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih ganas. Eropa bahkan menjadi kawasan yang memanas lebih cepat dibanding rata-rata dunia.

Akibatnya, yang berubah bukan hanya angka pada termometer. Cara manusia hidup juga ikut berubah. Jalur kereta terganggu karena rel tidak kuat menahan panas ekstrem. Museum dan tempat wisata mengurangi jam operasional. Pembangkit listrik harus menyesuaikan aktivitasnya. Dan masyarakat mencari cara baru untuk bertahan dari cuaca yang semakin tidak bersahabat.

Tragedi tenggelam di Prancis menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim sering kali datang melalui jalan yang tidak kita duga. Ancamannya tidak selalu berupa api yang membakar hutan atau kekeringan yang memecah tanah. Kadang ia muncul saat seseorang melompat ke air untuk mencari kesejukan.

Kita sering menganggap air sebagai penyelamat ketika cuaca panas. Namun gelombang panas di Eropa mengajarkan satu hal: ketika iklim berubah terlalu cepat, bahkan tempat yang selama ini dianggap aman pun dapat berubah menjadi ancaman.

Dan mungkin itulah ironi terbesar dari musim panas tahun ini. Orang-orang tidak kehilangan nyawa karena menjauhi air, tetapi karena mencarinya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Panas! Rusia Tembak Jatuh Puluhan Rudal Ukraina di Kota Kelahiran Putin
• 23 jam laludetik.com
thumb
Dirut PSIM Liana Tasno Ingin Spirit Mataram Is Love Hidup Lagi, Sedih Persis Turun Kasta
• 5 jam lalubola.com
thumb
Lionel Messi Beri Pelukan dan Pesan Menyentuh untuk Kiper Cape Verde, Vozinha
• 31 menit lalutabloidbintang.com
thumb
Bakom Sebut Latar Belakang Beragam Komisaris BUMN Bisa Lahirkan Ide dan Gagasan Baru
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Bukan Main! Para Raksasa Korea Mau Tebar Duit Rp3.661 T di Lokasi Ini
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.