Lagi capek kuliah, susah fokus, atau sering overthinking sedikit, tiba-tiba muncul pikiran, ‘Jangan-jangan aku anxiety?’ Fenomena seperti ini semakin sering ditemukan, terutama di kalangan remaja dan generasi Z . Ditambah dengan banyaknya konten kesehatan mental di media sosial, istilah psikologis kini menjadi sesuatu yang akrab dalam percakapan sehari-hari. Namun, apakah semua kondisi emosional bisa langsung disebut sebagai gangguan mental?. Fenomena ini dikenal dengan istilah self-diagnose atau diagnosis diri sendiri.
Kenapa fenomena ini bisa terjadi?Fenomena self-diagnose sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, terutama setelah seseorang melihat konten kesehatan mental di media sosial. Banyak orang mulai menghubungkan perasaan atau kebiasaan yang dialaminya dengan gangguan psikologis tertentu tanpa pemeriksaan profesional.
Misalnya, ketika seseorang sering merasa khawatir, banyak berpikir, atau sulit tenang, ia langsung menganggap dirinya mengalami anxiety disorder. Padahal, rasa cemas dan overthinking sebenarnya merupakan emosi yang normal dialami setiap orang dalam situasi tertentu. Gangguan kecemasan baru dapat didiagnosis apabila gejalanya berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari (American Psychiatric Association, 2013).
Contoh lainnya adalah ketika seseorang sulit fokus saat belajar atau mudah terdistraksi, lalu menyimpulkan dirinya memiliki ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Padahal, kesulitan konsentrasi juga bisa dipengaruhi oleh kurang tidur, kelelahan, stres akademik, atau penggunaan media sosial yang berlebihan.
Selain itu, perasaan sedih berkepanjangan sering kali langsung dikaitkan dengan depresi. Meskipun kesedihan merupakan salah satu gejala depresi, diagnosis gangguan depresi tidak dapat ditentukan hanya dari satu kondisi emosional saja. Dalam psikologi, diperlukan evaluasi lebih lanjut mengenai intensitas, durasi, dan pengaruhnya terhadap kehidupan seseorang.
Banyaknya konten kesehatan mental yang tersebar di media sosial membuat berbagai istilah psikologis kini semakin akrab di kalangan remaja dan generasi muda. Istilah seperti anxiety, trauma, burnout, ADHD, hingga overthinking sudah sering muncul dalam video pendek, unggahan, maupun percakapan sehari-hari di platform seperti TikTok. Penyampaian informasi yang singkat, menarik, dan mudah dipahami membuat konten-konten tersebut cepat diterima oleh masyarakat, terutama remaja yang aktif menggunakan media sosial hampir setiap hari.
Tidak sedikit orang yang kemudian merasa dirinya “relate” dengan gejala atau pengalaman yang dijelaskan dalam video tersebut. Ketika mereka merasa sering cemas, sulit fokus, mudah lelah, atau sedih berkepanjangan, mereka mulai menghubungkan kondisi tersebut dengan gangguan mental tertentu yang dibahas di internet. Akibatnya, banyak individu mulai menyimpulkan sendiri kondisi psikologisnya tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada tenaga profesional.
Fenomena ini semakin berkembang karena media sosial memberikan ruang bagi pengguna untuk saling berbagi pengalaman pribadi mengenai kesehatan mental. Pengalaman-pengalaman tersebut sering kali membuat orang lain merasa memiliki kondisi yang sama, meskipun setiap individu sebenarnya memiliki latar belakang dan kondisi psikologis yang berbeda. Selain itu, algoritma media sosial juga dapat terus menampilkan konten serupa kepada pengguna, sehingga seseorang semakin yakin terhadap diagnosis yang ia buat sendiri.
Di satu sisi, meningkatnya konten kesehatan mental memberikan dampak positif karena masyarakat menjadi lebih sadar akan pentingnya menjaga kondisi psikologis. Namun, di sisi lain, informasi yang diterima tanpa pemahaman yang tepat juga dapat memunculkan kesalahpahaman mengenai gangguan mental dan mendorong terjadinya fenomena self-diagnose.
Dalam bidang psikologi, diagnosis tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan satu atau dua gejala yang dirasakan seseorang. Perasaan cemas, sedih, sulit fokus, atau mudah lelah merupakan kondisi yang dapat dialami siapa saja dalam kehidupan sehari-hari. Namun, suatu kondisi baru dapat dikategorikan sebagai gangguan psikologis apabila gejalanya berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas individu.
Apa yang perlu dilakukan?Dalam proses psikodiagnostik, seorang psikolog biasanya melakukan wawancara, observasi, dan penggunaan alat tes psikologi untuk memahami kondisi individu secara lebih mendalam.
Media sosial memang membantu meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental, tetapi informasi yang beredar tetap perlu disikapi dengan bijak. Memahami diri sendiri adalah hal yang baik, namun diagnosis tetap memerlukan bantuan profesional agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap kondisi psikologis yang dialami.




