Teh hijau menjadi salah satu minuman yang direkomendasikan ahli gizi untuk membantu mengelola sindrom metabolik, yakni kumpulan gangguan kesehatan yang meliputi tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, kolesterol tidak normal, serta penumpukan lemak di area perut.
Meski bukan pengobatan utama, konsumsi teh hijau secara rutin dinilai dapat mendukung kesehatan metabolik apabila disertai pola hidup sehat.
Dilansir dari Antara pada Minggu (5/7/2026), sekitar 26 persen pria dan 31 persen perempuan di dunia mengalami sindrom metabolik.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, seperti penyakit jantung, stroke, hingga diabetes tipe 2.
Violeta Morris ahli gizi mengatakan, teh hijau merupakan pilihan sederhana yang dapat dimasukkan ke dalam pola makan harian untuk membantu memperbaiki kesehatan metabolik, terutama pada orang yang telah mengalami sindrom metabolik.
Salah satu manfaat utama teh hijau berasal dari kandungan antioksidan katekin yang mencapai sekitar 30 persen dari komposisinya.
Di antara berbagai jenis katekin, epigallocatechin gallate (EGCG) menjadi senyawa yang paling banyak diteliti karena berperan dalam membantu mengendalikan kadar gula darah.
Stacey Woodson ahli gizi menjelaskan, EGCG membantu meningkatkan kemampuan sel tubuh menyerap glukosa sehingga sensitivitas insulin menjadi lebih baik.
Senyawa tersebut juga diketahui berpotensi mengurangi stres oksidatif, menekan peradangan, mengurangi resistensi insulin, serta mendukung kesehatan usus dan fungsi mitokondria.
Selain membantu mengontrol gula darah, konsumsi teh hijau juga dikaitkan dengan perbaikan profil kolesterol.
Morris mengatakan sejumlah penelitian menunjukkan bahwa minum teh hijau secara rutin dapat membantu menurunkan kadar kolesterol total, termasuk kolesterol low-density lipoprotein (LDL) atau yang dikenal sebagai kolesterol jahat.
Perbaikan kadar kolesterol tersebut berkontribusi terhadap penurunan risiko penyakit jantung.
Manfaat lain yang juga mendapat perhatian adalah kemampuannya membantu mengurangi lemak visceral, yaitu lemak yang mengelilingi organ-organ dalam tubuh dan menjadi salah satu faktor utama penyebab sindrom metabolik.
Sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 10.000 orang dewasa di Korea Selatan menemukan bahwa konsumsi teh hijau berkaitan dengan risiko obesitas abdominal yang lebih rendah, terutama pada perempuan.
Meski demikian, para ahli mengingatkan agar teh hijau tidak dikonsumsi dengan tambahan gula, sirup, madu, maupun pemanis lainnya dalam jumlah berlebihan karena justru dapat meningkatkan kadar gula darah dan memicu kenaikan berat badan.
Untuk mendapatkan manfaat yang optimal, ahli gizi merekomendasikan konsumsi dua hingga tiga cangkir teh hijau tanpa gula setiap hari.
Minuman ini juga disarankan dikonsumsi sebelum atau sesudah makan karena kandungan polifenolnya dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin sekaligus memberikan rasa kenyang yang mendukung pengendalian berat badan.
Bagi yang ingin memperoleh kandungan antioksidan lebih tinggi, Morris menyarankan memilih matcha, yaitu bubuk teh hijau yang dibuat dari daun teh utuh yang dihaluskan.
Karena seluruh bagian daun dikonsumsi, matcha mengandung antioksidan, vitamin, dan mineral dalam jumlah lebih tinggi dibandingkan teh hijau seduh biasa.
Meski memiliki berbagai manfaat, para ahli menegaskan bahwa teh hijau bukanlah solusi tunggal untuk mengatasi sindrom metabolik. (ant/saf/ham)




