jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyampaikan keprihatinan atas kebakaran yang terjadi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin.
Menurutnya, peristiwa tersebut kembali menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi dapat mengandalkan sistem pengelolaan sampah yang bertumpu pada penimbunan di TPA.
BACA JUGA: Eddy Soeparno Paparkan Program Prioritas Ketahanan Energi Nasional
Oleh karena itu, sudah tepat bahwa pengelolaan sampah nasional dilaksanakan melalui mekanisme Waste-to-Energy (WTE) yang tengah didorong Pemerintah.
“Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi alarm bahwa kapasitas pengelolaan sampah kita sudah berada di titik yang membutuhkan perubahan mendasar. Termasuk di dalamnya adalah memproses sampah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk menjadi energi listrik,” ujar Eddy Soeparno.
BACA JUGA: MPR Goes to Campus ke-50 di Unhan, Eddy Soeparno: Ketahanan Energi Mandat Konstitusi
Menurut Eddy, selama ini Indonesia menghasilkan 56 juta ton sampah setiap tahun, sedangkan sebagian besar masih berakhir di tempat pemrosesan akhir dengan sistem penimbunan.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran akibat akumulasi gas metana, memperbesar pencemaran lingkungan, sekaligus menyia-nyiakan potensi energi dan ekonomi yang terkandung di dalam sampah.
BACA JUGA: Pemerintah Tak Naikkan Tarif Listrik, Eddy Soeparno Berkomentar Begini
Oleh karena itu, Waketum PAN ini mendukung penuh langkah Presiden Prabowo yang tengah mempercepat pembangunan fasilitas Waste-to-Energy (WTE) di berbagai daerah sebagai bagian dari pembenahan pengelolaan sampah nasional.
“Program Waste-to-Energy merupakan salah satu solusi strategis karena mampu menjawab dua tantangan sekaligus, yakni mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA dan menghasilkan energi listrik yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Inilah bentuk nyata ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah,” tuturnya.
Eddy menegaskan bahwa teknologi WTE telah diterapkan secara luas di berbagai negara maju dengan standar lingkungan yang ketat.
Dia menyampaikan akan terus mengawal seluruh proses pembangunan dan operasionalnya memenuhi ketentuan lingkungan hidup, menggunakan teknologi terbaik yang tersedia, serta dilakukan secara transparan.
“Pelaksanaan program ini harus memastikan bahwa teknologi yang digunakan memenuhi standar emisi internasional, diawasi secara ketat, dan menghasilkan energi bersih yang kita butuhkan dalam rangka transisi energi," katanya.
Eddy menekankan bahwa pengurangan sampah dari sumber tetap harus menjadi prioritas melalui pemilahan sampah rumah tangga, peningkatan daur ulang, penguatan bank sampah, dengan melakukan edukasi masyarakat secara aktif.
“Waste-to-Energy bukan berarti kita mengabaikan upaya pengurangan sampah. Justru WTE menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi harus didaur ulang terlebih dahulu, sedangkan residunya dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi,” imbuhnya.
Eddy berharap kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi alarm untuk mempercepat transformasi sistem pengelolaan sampah nasional.
Menurutnya, Indonesia harus beralih dari pendekatan landfill oriented menuju pengelolaan sampah modern yang mengedepankan teknologi, ekonomi sirkular, dan energi bersih.
“Persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan memperluas TPA. Kita membutuhkan keberanian melakukan lompatan kebijakan melalui percepatan pembangunan Waste-to-Energy sebagai bagian dari strategi nasional menuju Indonesia yang lebih bersih, lebih sehat, sekaligus lebih mandiri dalam penyediaan energi. Momentum ini harus kita manfaatkan agar kejadian seperti kebakaran TPA Jatiwaringin tidak terus berulang di masa mendatang,” tutup Anggota Komisi XII DPR RI ini. (jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Waka MPR Eddy Puji Komitmen Prabowo Jadikan Sampah Prioritas Nasional, Penting
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Dedi Sofian, JPNN.com




