Perempuan Penentu Peradaban: Pilar Utama Pencetak Generasi Gemilang

terkini.id
3 jam lalu
Cover Berita
Oleh: Murniati Daeng Matarring, S.Ag

(Ketua LP3M Harakah Bakomubin Sulawesi Selatan & Sekretaris Umum Kohati Badko HMI Sulawesi Tahun 1999)

PERADABAN besar tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari keluarga, dari nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi, dan dari tangan-tangan yang dengan sabar membentuk mentalitas para pembangunnya.

Di antara tangan-tangan itu, ada peran perempuan yang sangat menentukan.

Dalam perjalanan sejarah dan kehidupan sosial, perempuan bukan sekadar pelengkap dalam dinamika masyarakat. Perempuan adalah aktor intelektual, spiritual, dan sosial yang memiliki pengaruh besar terhadap maju mundurnya sebuah bangsa.

Ada ungkapan klasik yang menyatakan, “Perempuan adalah tiang negara. Jika ia baik, maka baiklah negara; dan jika ia rusak, maka rusaklah negara.”

Ungkapan tersebut menggambarkan betapa strategisnya posisi perempuan dalam kehidupan. Perannya tidak hanya berlangsung dalam ranah domestik, tetapi juga menjangkau ruang publik, pendidikan, ekonomi, sosial, keagamaan, bahkan kepemimpinan.

Karena itu, berbicara tentang masa depan peradaban sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari pembicaraan tentang kualitas perempuan.

Fondasi Teologis: Kemuliaan dan Peran Perempuan dalam Islam

Islam menempatkan perempuan pada posisi yang mulia dan terhormat. Perempuan dan laki-laki sama-sama mengemban tanggung jawab untuk membangun kehidupan yang baik serta mewujudkan masyarakat beradab atau khairu ummah.

Allah SWT berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Wal mu’minūna wal mu’minātu ba‘duhum auliyā’u ba‘d, ya’murūna bil ma‘rūfi wa yanhawna ‘anil munkar.

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar”(QS. At-Taubah: 71).

Ayat ini menegaskan bahwa membangun kehidupan yang berlandaskan amar makruf nahi mungkar merupakan tanggung jawab bersama.

Perempuan bukan penonton dalam proses perubahan sosial, melainkan bagian aktif dari ikhtiar membangun peradaban.

Rasulullah ﷺ juga memberikan legitimasi yang kuat terhadap kedudukan perempuan sebagai mitra laki-laki melalui sabdanya:

إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ

Innamannisa’u syaqā’iqur-rijāl.

“Sesungguhnya perempuan adalah saudara kandung laki-laki.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Pesan ini mengandung makna mendalam. Laki-laki dan perempuan bukanlah dua kekuatan yang seharusnya saling meniadakan, melainkan dua unsur yang saling melengkapi dalam membangun kehidupan.

Peradaban tidak mungkin tumbuh secara utuh apabila salah satu di antaranya dilemahkan.

Ibu sebagai Madrasah Pertama

Salah satu peran paling strategis perempuan dalam membangun peradaban terletak pada fungsi edukatifnya di dalam keluarga.

Seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dari rahim, dekapan, tutur kata, keteladanan, dan pendidikan seorang ibu, nilai-nilai dasar kehidupan mulai ditanamkan.

Tauhid, akhlak, keberanian, kedisiplinan, kasih sayang, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap ilmu pertama-tama bertumbuh dari lingkungan keluarga.

Karena itulah, ibu sering disebut sebagai al-madrasatul ula—madrasah pertama.

Penyair besar Mesir, Hafizh Ibrahim, menggambarkan peran tersebut dengan sangat indah:

“Ibu adalah sebuah madrasah. Jika engkau mempersiapkannya dengan baik, berarti engkau telah mempersiapkan sebuah bangsa yang baik.”

Pernyataan ini bukan sekadar ungkapan puitis. Di dalamnya terdapat pesan peradaban yang sangat kuat.

Ketika seorang perempuan memiliki kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, keteguhan moral, dan keluasan wawasan, ia tidak hanya sedang membangun dirinya sendiri. Ia sedang mempersiapkan masa depan generasi.

Ia sedang menyusun cetak biru peradaban

Dari tangan dan pendidikan para ibu, sejarah mencatat lahirnya ulama, pemikir, pejuang, dan pemimpin besar. Nama-nama seperti Imam Syafii, Imam Ahmad bin Hanbal, hingga Muhammad Al-Fatih tidak dapat dilepaskan dari peran keluarga, terutama para ibu yang menanamkan fondasi keimanan, ilmu, dan karakter sejak dini.

Karena itu, pendidikan perempuan bukan semata-mata persoalan hak individu. Pendidikan perempuan adalah investasi peradaban.

Mendidik seorang perempuan berarti membuka kemungkinan lahirnya generasi yang lebih berilmu, berakhlak, dan memiliki visi masa depan.

Perempuan dan Kekuatan Sebuah Bangsa

Urgensi peran perempuan dalam pembangunan peradaban juga mendapat perhatian dari banyak pemikir lintas zaman.

Ibnu Khaldun, melalui pemikirannya tentang masyarakat dan peradaban dalam Muqaddimah, menunjukkan pentingnya lingkungan keluarga dalam pembentukan karakter dan solidaritas sosial. Keluarga menjadi ruang pertama tempat seseorang mengenal nilai, tanggung jawab, dan ikatan sosial.

Dalam ruang itulah perempuan, terutama seorang ibu, memainkan peran yang sangat penting.

Syaikh Muhammad Al-Ghazali juga menegaskan bahwa masyarakat yang mengabaikan potensi perempuan dan membiarkannya terperangkap dalam kebodohan sama saja dengan melumpuhkan sebagian besar kekuatannya sendiri.

Pandangan serupa hadir dalam pemikiran Raden Adjeng Kartini. Ia menyadari bahwa kemajuan bangsa sangat berkaitan dengan kemajuan perempuan.

Kartini menulis:

“Dari tangan ibulah anak pertama-tama menerima didikannya. Oleh karena itu, jiwa perempuan harus dimajukan demi kemajuan bangsa.”

Pesan tersebut tetap relevan hingga hari ini.

Tidak mungkin sebuah bangsa berharap melahirkan generasi unggul apabila perempuan tidak memperoleh akses terhadap pendidikan yang berkualitas.

Tidak mungkin masyarakat menginginkan anak-anak yang cerdas dan berkarakter apabila para ibu dibiarkan menghadapi tugas pendidikan tanpa dukungan ilmu, lingkungan, dan penghargaan yang memadai.

Karena itu, pemberdayaan perempuan seharusnya tidak dipertentangkan dengan ketahanan keluarga.

Perempuan yang berilmu justru dapat menjadi fondasi keluarga yang lebih kuat. Perempuan yang berdaya dapat melahirkan generasi yang lebih percaya diri. Perempuan yang matang secara spiritual dan intelektual dapat menjadi penjaga nilai sekaligus penggerak perubahan.

Jejak Perempuan Pengukir Peradaban

Sejarah Islam memberikan banyak bukti bahwa perempuan memiliki peran besar dalam membangun dan menjaga peradaban.

Khadijah binti Khuwailid merupakan salah satu contoh paling monumental. Ia bukan hanya istri Rasulullah ﷺ, tetapi juga perempuan dengan kemandirian ekonomi, kecerdasan sosial, dan keteguhan spiritual yang luar biasa.

Pada masa-masa awal dakwah Islam yang penuh tekanan, Khadijah menjadi benteng psikologis dan pendukung utama perjuangan Rasulullah ﷺ. Harta, pikiran, ketenangan, dan keimanannya menjadi bagian penting dari fondasi awal dakwah Islam.

Kemudian ada Aisyah binti Abu Bakar, salah satu intelektual perempuan terbesar dalam sejarah Islam. Ia menjadi rujukan para sahabat dan generasi setelahnya dalam berbagai bidang, mulai dari hadis, hukum, hingga persoalan kehidupan sosial.

Kehadirannya membuktikan bahwa perempuan memiliki ruang yang sangat luas dalam tradisi keilmuan Islam.

Sejarah juga mengenal Fatima al-Fihri, perempuan Muslim yang mendirikan Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, pada abad ke-9. Namanya menjadi simbol betapa perempuan dapat meninggalkan warisan besar dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Ketiga sosok tersebut memperlihatkan satu kenyataan penting: perempuan tidak pernah berada di pinggiran sejarah.

Mereka hadir sebagai penggerak ekonomi, penjaga nilai, pendidik, intelektual, dan pembangun institusi.

Mereka adalah bagian dari jantung peradaban.

Tantangan Perempuan di Era Modern

Di tengah perubahan zaman, tantangan yang dihadapi perempuan semakin kompleks.

Arus informasi yang begitu cepat, perubahan nilai dalam masyarakat, tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, serta perkembangan teknologi telah mengubah pola kehidupan keluarga.

Perempuan modern sering kali dituntut menjalankan banyak peran sekaligus. Ia diharapkan mampu menjadi ibu, pendidik, istri, pekerja, profesional, aktivis, dan anggota masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, persoalan utamanya bukan memilih antara ranah domestik dan publik.

Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memastikan perempuan tetap memiliki akses terhadap ilmu, ruang pengembangan diri, perlindungan, penghormatan, dan dukungan sosial yang memadai.

Perempuan tidak boleh dipaksa memilih antara menjadi ibu yang baik atau menjadi manusia yang berkembang.

Keduanya dapat berjalan beriringan apabila keluarga, masyarakat, dan negara membangun ekosistem yang adil dan mendukung.

Pada saat yang sama, kemajuan perempuan juga harus dibangun di atas fondasi moral dan spiritual yang kuat. Kecerdasan tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Kebebasan tanpa tanggung jawab dapat menjauhkan manusia dari tujuan mulianya.

Karena itu, perempuan masa depan harus menjadi perempuan yang berilmu sekaligus beradab, mandiri sekaligus memiliki kepedulian sosial, serta mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dan jati dirinya.

Perempuan adalah Arsitek Peradaban

Perempuan bukan sekadar penghuni peradaban. Perempuan adalah salah satu arsitek utamanya.

Ketika perempuan memperoleh pendidikan yang berkualitas, dihormati hak-haknya, diberi ruang untuk mengembangkan potensi, serta diperkuat perannya sebagai al-madrasatul ula, maka generasi yang lahir akan memiliki fondasi yang lebih kokoh.

Dari perempuan yang berilmu akan lahir generasi yang mencintai pengetahuan.

Dari perempuan yang berakhlak akan lahir generasi yang mengenal nilai.

Dari perempuan yang tangguh akan lahir generasi yang tidak mudah menyerah.

Dari perempuan yang memiliki visi akan lahir generasi yang mampu menatap masa depan.

Sebaliknya, sebuah bangsa akan menghadapi ancaman serius apabila perempuan dijauhkan dari pendidikan, direndahkan martabatnya, dilemahkan moralnya, atau dibiarkan menghadapi tanggung jawab besar tanpa dukungan yang memadai.

Karena itu, membangun perempuan bukanlah agenda perempuan semata.

Ia adalah agenda keluarga.

Ia adalah agenda umat.

Ia adalah agenda bangsa.

Mewujudkan perempuan yang berilmu, beradab, berdaya, dan berakhlak merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan umat manusia.

Sebab, di balik generasi gemilang, hampir selalu ada perempuan yang menanamkan nilai, menjaga harapan, dan tidak pernah berhenti mendidik.

Perempuan adalah penentu peradaban. Ketika perempuan tumbuh dalam ilmu dan kemuliaan, masa depan sebuah bangsa pun menemukan fondasinya.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Sungguminasa, 5 April 2026

Catatan Referensi

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya.

Hadis Riwayat Ahmad dan Abu Dawud tentang perempuan sebagai syaqā’iq ar-rijāl.

Diwan Hafizh Ibrahim, bait puisi mengenai pentingnya pendidikan perempuan dan peran ibu sebagai madrasah.

Muhammad al-Ghazali, As-Sunnah an-Nabawiyyah baina Ahlil Fiqhi wa Ahlil Hadits, Darul Syuruq.

Surat-surat Raden Adjeng Kartini yang dihimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
HPSL All-Stars 2025/26 Matchday 1 Diwarnai Persaingan Sengit dan Adu Mental
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Kapal Kargo Diserang di Laut Merah Dekat Yaman, UKMTO Lakukan Penyelidikan
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pria Asal Pasuruan Ditemukan Tewas di Sawah, Polisi Selidiki Dugaan Luka pada Tubuh Korban
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
PM Singapura Lawrence Wong Bertemu Presiden Prabowo Besok
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Krisis Integritas Pendidikan: Mengukur Mutu dari Kejujuran, Bukan Sekadar Nilai
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.