VIVA –Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei di Tehran, Minggu 5 Juli 2026 menjadi sorotan luas publik. Dalam acara itu, seorang pembawa acara menyerukan kematian Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di hadapan ratusan ribu pelayat.
Pernyataan tersebut menjadi seruan langsung pertama yang ditujukan kepada Trump dalam prosesi pemakaman. Sebelumnya, berbagai poster dan coretan bertuliskan ajakan untuk membunuh Trump serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah banyak terlihat di lokasi.
Seruan seperti itu telah lama disuarakan kelompok garis keras di Iran, meskipun pemerintah Iran masih menjalani perundingan dengan Amerika Serikat terkait upaya mengakhiri perang secara permanen, konflik yang juga berdampak pada pasokan energi global.
Dalam acara tersebut, penyair Iran Mohammad Rasouli memimpin massa meneriakkan slogan "Matilah Amerika!" dan "Matilah Israel!".
Melalui pengeras suara, Rasouli kemudian melontarkan pertanyaan yang merujuk kepada Trump.
"Mengapa manusia paling bejat di dunia itu masih hidup?" ujarnya dikutip dari laman NDTV, Senin 6 Juli 2026.
Ucapan tersebut langsung disambut sorak-sorai para pelayat. Massa kembali bersorak ketika Rasouli mengatakan bahwa dunia sudah bukan lagi tempat yang baik bagi Trump.
Sebagai informasi, jumlah pelayat yang menghadiri prosesi pemakaman pada Minggu jauh lebih besar dibandingkan sehari sebelumnya. Ribuan warga yang mengenakan pakaian serba hitam berjalan menuju lokasi sambil membawa spanduk dan bendera untuk menghormati Khamenei.
Sejumlah peserta juga membawa poster yang berisi seruan agar Trump dibunuh. Pada saat yang sama, Trump tengah menyampaikan pidato di Washington dalam rangka peringatan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat.
"Dalam beberapa waktu terakhir kami meraih keberhasilan yang luar biasa. Lihat Venezuela, lihat Iran. Kami menghancurkannya, kami melumpuhkan kekuatan militernya,"kata Trump saat berbicara mengenai kekuatan militer Amerika Serikat.
Otoritas federal Amerika Serikat telah memantau berbagai ancaman dari Iran terhadap Trump dan sejumlah pejabat pemerintahannya selama beberapa tahun terakhir. Ancaman tersebut berkaitan dengan keputusan Trump pada 2020 yang memerintahkan serangan hingga menewaskan Jenderal Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds yang merupakan bagian dari Garda Revolusi Iran.





