Adu Kuat Bank Kecil Milik Konglomerat pada Kuartal II/2026, Intip Prospek Kinerjanya

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah bank beraset menengah hingga kecil yang berada di bawah kelompok usaha konglomerat mencatatkan pertumbuhan laba pada kuartal I/2026. 

Adapun bank mini milik konglomerat seperti PT Super Bank Indonesia Tbk. (Superbank), PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU), PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA), PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP), PT Bank Sahabat Sampoerna, hingga Bank Mega Syariah. 

Perbaikan tersebut ditopang oleh ekspansi kredit, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), serta kenaikan pendapatan bunga bersih yang memperkuat profitabilitas.

Kinerja hingga Mei 2026 pun, mayoritas bank kembali membukukan kenaikan laba, aset, maupun penghimpunan dana masyarakat sehingga membuka peluang kinerja semester I/2026 ditutup lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Apakah momentum tersebut cukup kuat untuk menopang kinerja pada kuartal II di tengah persaingan likuiditas dan biaya dana yang masih menjadi tantangan industri perbankan?

Berikut ulasan lengkapnya.

Baca Juga

  • Beda Strategi Bank Negara & Swasta
  • Segini Setoran Minimal Tabungan Pelajar di Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA dan BSI
  • Cara Tukar Uang Rusak dengan Uang Baru di Bank Indonesia, dan Syaratnya
Superbank: Laba Melonjak Puluhan Ribu Persen, Pertumbuhan Berlanjut hingga Mei

Superbank menjadi bank dengan lonjakan laba paling spektakuler pada kuartal I/2026. Bank digital berkode saham SUPA tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp78,19 miliar atau melonjak sekitar 31.000% dibandingkan laba Rp251 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan laba ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang mencapai Rp503,32 miliar atau meningkat 91,4% dibandingkan Rp262,99 miliar pada kuartal I/2025.

Pendapatan bunga bruto naik hampir dua kali lipat menjadi Rp724,65 miliar dari sebelumnya Rp366,45 miliar seiring ekspansi penyaluran kredit dan investasi pada efek-efek. Di sisi lain, beban bunga juga meningkat menjadi Rp221,32 miliar dari Rp103,46 miliar akibat meningkatnya penghimpunan dana.

Momentum tersebut berlanjut pada kuartal II. Hingga Mei 2026, laba sebelum pajak Superbank mencapai Rp187,86 miliar atau melesat 906,4% secara tahunan. Laba bersih setelah pajak juga telah mencapai Rp146,39 miliar.

Di sisi neraca, total aset tumbuh 73,3% menjadi Rp25,5 triliun. Penyaluran kredit meningkat 59,1% menjadi Rp13,1 triliun, sementara DPK melonjak lebih tinggi sebesar 94,9% menjadi Rp15,5 triliun. Pendapatan bunga bersih juga naik 76,7% menjadi Rp837,08 miliar.

Perseroan menilai pertumbuhan tersebut ditopang strategi ekspansi berbasis ekosistem digital, termasuk integrasi produk Pinjaman Atur Sendiri (PAS) melalui Grab dan OVO serta kolaborasi kartu bersama KakaoBank. Hingga akhir Mei, jumlah nasabah Superbank telah melampaui 6 juta.

Bank Nobu: Fee Based Income Melonjak, Profitabilitas Semakin Kokoh

PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU) juga membukukan kinerja yang positif pada kuartal I/2026. Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp154 miliar atau tumbuh 39,82% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba tersebut didukung ekspansi bisnis yang merata. Total aset meningkat 10,72% menjadi Rp41 triliun. Penyaluran kredit tumbuh 15,49% menjadi Rp24 triliun, sedangkan DPK naik 19,25% menjadi Rp29 triliun.

Menariknya, pendapatan berbasis komisi atau fee based income melonjak 81,53% menjadi Rp173 miliar. Hal itu menunjukkan sumber pendapatan perseroan semakin terdiversifikasi dan tidak hanya bergantung pada pendapatan bunga.

Memasuki kuartal II, tren pertumbuhan masih berlanjut. Hingga Mei 2026, Bank Nobu membukukan laba bersih Rp273,55 miliar dengan laba sebelum pajak mencapai Rp350,42 miliar.

Total aset meningkat menjadi Rp43,58 triliun, sedangkan penyaluran kredit mencapai Rp24,95 triliun. DPK juga bertambah menjadi sekitar Rp30,59 triliun yang terdiri atas giro Rp10,30 triliun, tabungan Rp1,96 triliun, dan deposito Rp18,33 triliun.

Dari sisi profitabilitas, pendapatan bunga mencapai Rp1,12 triliun dengan beban bunga Rp603,86 miliar sehingga menghasilkan NII sebesar Rp515,51 miliar hingga Mei 2026.

Bank Ina Perdana: CASA Meningkat Tajam, Biaya Dana Semakin Efisien

PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA) mencatat salah satu pertumbuhan laba tertinggi pada kuartal I/2026. Perseroan membukukan laba bersih Rp52,98 miliar atau melonjak 268% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp14,4 miliar.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan total aset sebesar 26,69% menjadi Rp31,30 triliun dan DPK yang meningkat 21,51% menjadi Rp25,04 triliun.

Salah satu indikator yang mencuri perhatian adalah peningkatan rasio CASA menjadi 40,07% dibandingkan hanya 28,32% pada Maret 2025. Kenaikan dana murah tersebut mendorong penurunan biaya dana sehingga membantu meningkatkan profitabilitas bank.

Di sisi kualitas aset, rasio NPL gross tercatat 3,13% dan NPL net 1,83%, sedangkan CAR berada pada level 18,39% sehingga dinilai masih cukup kuat untuk menopang ekspansi bisnis.

Kinerja tersebut terus berlanjut hingga Mei. Bank Ina membukukan laba bersih Rp64,66 miliar dengan aset Rp32,38 triliun.

Penyaluran kredit mencapai Rp15,44 triliun, sedangkan DPK meningkat menjadi sekitar Rp27,84 triliun. Perseroan juga membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp299,38 miliar hingga akhir Mei.

MNC Bank: Laba Terus Bertambah di Tengah Pertumbuhan Intermediasi

PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP) juga mencatatkan pertumbuhan bisnis sepanjang awal 2026. Pada kuartal I, perseroan membukukan laba bersih Rp18,33 miliar dengan total aset sebesar Rp21,38 triliun. Pendapatan bunga tercatat Rp376,63 miliar.

Hingga Mei 2026, laba bersih meningkat menjadi Rp34,58 miliar dengan laba sebelum pajak Rp43,85 miliar.

Penyaluran kredit mencapai Rp12,28 triliun, sementara aset berada di level Rp20,73 triliun. DPK mencapai sekitar Rp14,64 triliun yang didominasi deposito.

Perseroan juga membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp221,47 miliar. Selain itu, pendapatan berbasis komisi, provisi, dan administrasi mencapai Rp59,04 miliar sehingga turut menopang laba operasional yang mencapai Rp40,63 miliar.

Bank Sahabat Sampoerna: Profit Tumbuh, Permodalan Tetap Solid

PT Bank Sahabat Sampoerna membukukan laba bersih Rp8,9 miliar pada kuartal I/2026 atau meningkat 68% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,3 miliar.

Memasuki kuartal II, laba bersih perseroan meningkat menjadi Rp11,86 miliar hingga Mei 2026.

Bank mencatat total aset sebesar Rp17,21 triliun dengan penyaluran kredit Rp10,93 triliun. DPK mencapai sekitar Rp13,05 triliun yang sebagian besar masih berasal dari deposito.

Dari sisi permodalan, total ekuitas mencapai Rp3,28 triliun sehingga dinilai masih memadai untuk mendukung ekspansi bisnis. Perseroan juga tetap menjaga pencadangan risiko melalui pembentukan CKPN sebesar Rp339,61 miliar.

Bank Mega Syariah: Laba Tumbuh Meski Beban CKPN Meningkat

Di kelompok bank syariah, Bank Mega Syariah juga mencatatkan kinerja yang positif sepanjang awal 2026. Perseroan membukukan laba bersih Rp62,37 miliar pada kuartal I/2026 atau naik 51,67% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan setelah distribusi bagi hasil sebesar 20,37% menjadi Rp191,59 miliar. Meski demikian, pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai meningkat tajam hingga 287,12% menjadi Rp30,82 miliar.

Memasuki Mei 2026, laba bersih Bank Mega Syariah meningkat menjadi Rp94,70 miliar dengan laba sebelum pajak Rp121,41 miliar.

Total aset mencapai Rp14,31 triliun dengan pembiayaan sebesar Rp9,99 triliun dan DPK Rp9,41 triliun. Pendapatan setelah distribusi bagi hasil meningkat menjadi Rp321,95 miliar sehingga mampu menopang laba operasional sebesar Rp122,36 miliar meskipun perseroan masih membentuk CKPN sebesar Rp58,05 miliar.

Kinerja enam bank kecil yang dimiliki kelompok konglomerat tersebut menunjukkan tren yang relatif seragam.

Pertumbuhan laba pada kuartal I tidak hanya ditopang ekspansi kredit, tetapi juga peningkatan pendapatan bunga bersih, efisiensi biaya dana, hingga bertambahnya pendapatan berbasis komisi.

Data hingga Mei 2026 pun mengindikasikan momentum tersebut masih berlanjut sehingga prospek kinerja kuartal II diperkirakan tetap positif, dengan catatan kualitas aset dan biaya dana tetap terjaga di tengah persaingan penghimpunan dana yang masih berlangsung.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mbappe Sebut Prancis Mampu Bermain Keras Usai Singkirkan Paraguay dan Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Ramalan Zodiak Hari Ini, Minggu 5 Juli 2026: Cinta Leo Makin Berbunga, Pisces Wajib Kendalikan Pengeluaran
• 20 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Ada Motor Tertabrak KA Bandara, Perjalanan KRL Arah Bekasi Terganggu
• 13 jam laludetik.com
thumb
Betrand Peto Tampil di Pesta Timuran Jaksel, Ruben Onsu Datang Beri Dukungan
• 16 jam lalumedcom.id
thumb
PN Semarang Izinkan Pendukung Sudewo Gelar Aksi, Syaratnya Tidak Ganggu Jalannya Persidangan
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.