Analisis: Xi Jinping Terjebak dalam Kondisi Terisolasi, Kutukan Dinasti Xia Beredar di Kalangan Pejabat Tiongkok

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Sejak Xi Jinping berkuasa, ia dinilai menghadapi krisis politik dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam pidatonya pada 1 Juli lalu, Xi beberapa kali menyebut istilah seperti “gelombang badai yang dahsyat” dan “risiko serta tantangan”. 

Sejumlah pengamat menilai bahwa sentralisasi kekuasaan dan pembersihan politik yang dilakukan Xi telah membuat para pejabat hidup dalam ketakutan sekaligus memicu perlawanan di dalam Partai Komunis Tiongkok (PKT). Menurut mereka, Xi kini berada dalam posisi yang semakin terisolasi dan kehilangan dukungan dari banyak pihak.

EtIndonesia.com Pada 29 Juni malam, PKT menggelar konser peringatan yang disebut sebagai perayaan hari jadi partai ke-105 di Beijing. Xi Jinping bersama tujuh anggota Komite Tetap Politbiro, sejumlah pejabat tinggi setingkat negara, serta perwakilan dari berbagai kalangan partai, pemerintah, militer, dan organisasi masyarakat menghadiri acara tersebut. Media pemerintah mengklaim lebih dari 3.000 orang hadir.

Namun, perhatian publik tertuju pada pengamanan yang sangat ketat. Sejak Xi memasuki arena hingga sepanjang acara berlangsung, ia dikelilingi banyak petugas berpakaian hitam yang berjaga di segala arah.

Mantan pejabat Komisi Pusat Inspeksi Disiplin PKT, Wang Youqun, dalam artikel yang diterbitkan The Epoch Times pada 3 Juli, menilai ada tiga alasan mengapa pengamanan terhadap Xi begitu ketat. Pertama, Xi sangat mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri. Kedua, ia masih dibayangi kekhawatiran akan kemungkinan serangan mendadak dari tokoh militer seperti Zhang Youxia dan Liu Zhenli. Ketiga, kondisi PKT sendiri dinilai sedang berada dalam situasi yang sangat genting.

Menjelang peringatan 1 Juli, tepatnya pada 26 Juni, sebuah pesawat ringan menabrak gedung CITIC Tower (China Zun) di Beijing, yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari kompleks kepemimpinan Zhongnanhai. Pilot pesawat tewas di lokasi, sementara 13 orang lainnya mengalami luka-luka.

Menurut Wang Youqun, insiden tersebut kemungkinan membuat Xi sangat terkejut. Ia berpendapat bahwa jika pesawat itu menghantam Zhongnanhai, dampaknya akan jauh lebih besar bagi kepemimpinan PKT.

Wang juga menyebutkan bahwa sejak Xi menjabat, sedikitnya 1.021 pejabat tingkat pusat telah diselidiki atau dijatuhi hukuman dalam kampanye antikorupsi. Menurutnya, Xi kini terjebak dalam lingkaran yang terus berulang: merasa tidak aman, melakukan pembersihan politik, menjadi semakin tidak aman, lalu kembali melakukan pembersihan. Akibatnya, para pejabat hidup dalam ketakutan dan banyak di antara mereka menyimpan kebencian terhadap Xi, sementara Xi sendiri terus diliputi kecemasan mengenai keamanan pribadinya.

Pada Januari lalu, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT, Zhang Youxia, dan Kepala Departemen Staf Gabungan Liu Zhenli dilaporkan “jatuh dari kekuasaan”. Penulis berpendapat bahwa setelah menyingkirkan kedua tokoh tersebut, Xi terus khawatir akan adanya pihak di militer yang membalas dengan cara yang sama.

Dalam pidatonya pada peringatan 1 Juli, Xi menegaskan bahwa PKT harus selalu siap menghadapi “angin kencang dan ombak besar”, bahkan “gelombang badai yang dahsyat”. Ia juga menekankan perlunya terus melanjutkan perjuangan anti korupsi serta mempertahankan kepemimpinan mutlak partai atas militer.

Pakar hukum yang bermukim di Australia, Yuan Hongbing, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa penggunaan berulang istilah seperti “gelombang badai” dan “risiko serta tantangan” dalam pidato yang seharusnya bersifat perayaan menunjukkan bahwa Xi menyadari PKT sedang menghadapi krisis besar, baik dari dalam maupun luar negeri.

Yuan menilai bahwa sejak membangun sistem kekuasaan yang semakin otoriter, Xi secara bertahap mengubah PKT menjadi alat kekuasaan pribadinya. Menurutnya, Xi menikmati seluruh keuntungan politik seorang diri dan tidak lagi memberikan ruang bagi keluarga-keluarga elite PKT lainnya untuk berbagi kepentingan. Kondisi itu memicu perlawanan kuat di dalam partai hingga Xi kini semakin terisolasi dan kehilangan banyak sekutu politik.

Ia juga berpendapat bahwa meskipun Xi mempertahankan kekuasaannya melalui aparat keamanan, sistem pengawasan, dan disiplin partai yang sangat besar, sentralisasi kekuasaan justru memicu ketidakpuasan luas di berbagai faksi dan birokrasi. Banyak pejabat menjadi pasif, enggan mengambil tanggung jawab, sehingga efisiensi pemerintahan menurun dan menunjukkan bahwa fondasi kekuasaan Xi sedang menghadapi tekanan besar.

“Sentimen kebencian terhadap Xi Jinping di kalangan pejabat PKT semakin meningkat. Ia kini menjadi sasaran kritik dari berbagai pihak,” kata Yuan.

Sebagai contoh, Yuan mengatakan bahwa di kalangan birokrat di Beijing kini beredar sebuah kutipan dari kitab klasik Shangshu bagian Tang Shi. Kisah tersebut menceritakan raja terakhir Dinasti Xia, Xia Jie, yang dikenal sebagai penguasa lalim. Dalam legenda itu, Xia Jie mengibaratkan dirinya sebagai matahari yang tidak akan pernah terbenam. Rakyat yang menderita kemudian melontarkan kutukan terkenal:

“Kapan matahari itu akan lenyap? Kami rela binasa bersamamu.”

Menurut Yuan, kutipan tersebut kini sering dijadikan sindiran terhadap situasi politik saat ini.

Sementara itu, akademisi dan aktivis demokrasi yang berbasis di Australia, Qin Jin, mengatakan bahwa masyarakat seharusnya tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan Xi, tetapi juga melihat apa yang dilakukannya. Ia berpendapat bahwa sistem PKT sendiri merupakan sumber utama korupsi. 

Menurut Qin, kampanye antikorupsi yang dijalankan Xi justru tidak menghilangkan korupsi, bahkan Xi disebut sebagai pelaku korupsi terbesar karena dituduh menggunakan kekuasaan politik untuk mengalihkan kekayaan negara menjadi kepentingan keluarga Xi.

Komentator independen Du Zheng juga pernah mengutip pernyataan seorang mantan pejabat senior PKT yang tidak disebutkan namanya kepada media Taiwan Up Media. Pejabat tersebut mengatakan:

“Ketika Xi baru berkuasa, orang-orang masih memiliki sedikit harapan kepadanya. Sekarang hampir tidak ada lagi yang memujinya. Semua orang mengkritiknya, bahkan banyak yang berharap Partai Komunis runtuh.”

Di akhir artikelnya, Wang Youqun berpendapat bahwa PKT telah menanggung “hutang sejarah” selama lebih dari satu abad yang kini harus dibayar. Menurutnya, inilah akar dari krisis ekonomi, sosial, dan politik terdalam yang pernah dialami PKT. Wang menilai Xi setiap hari khawatir akan muncul seseorang yang menjadi “penggali kubur” bagi PKT. Namun, katanya, bisa jadi justru Xi sendirilah yang pada akhirnya menjadi “penggali kubur” partai tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
5 Berita Populer: Rieke Diah Pitaloka Comeback; Prilly Jadi "OLLG" TBA
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Pendukung Brasil-Norwegia tunjukkan kekompakan di New Jersey
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Duka Pascagempa Venezuela, La Guaira Dipenuhi Bangunan Rusak dan Tim Penyelamat Terus Berjuang
• 15 jam laludetik.com
thumb
Wali Kota Appi Susuri Lorong, Pastikan Air PDAM Mengalir ke Rumah Warga
• 3 menit laluharianfajar
thumb
Persis Solo Cuci Gudang! 18 Pemain Resmi Dilepas, 10 Legiun Asing Angkat Kaki
• 19 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.