Jalan bisnis perusahaan yang berkecimpung dalam usaha energi baru terbarukan (EBT) kian mulus setelah pemerintah menargetkan membangun 100 giga watt (GW) pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Tak heran perusahaan berlomba-lomba melakukan diversifikasi bisnis hijau.
Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS 100 GW dalam tiga tahun ke depan sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi sekaligus mewujudkan swasembada energi.
Untuk mendukung proyek tersebut, pemerintah menyiapkan sekitar 28 ribu hektare lahan di Pulau Jawa. Sebanyak 8.500 hektare akan dimanfaatkan untuk pembangunan PLTS darat (ground mounted) berkapasitas sekitar 8,5 GWp yang dilengkapi battery energy storage system (BESS). Sementara itu, sekitar 10 ribu hektare akan digunakan untuk pengembangan PLTS terapung di sejumlah waduk dengan kapasitas hingga 10 GWp.
Kebijakan tersebut memberi angin segar bagi sejumlah emiten yang telah mengembangkan bisnis energi surya, seperti PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN), PT ABM Investama Tbk (ABMM), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) hingga PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR).
Melihat Proyek PLTS Emiten KEEN, ABMM hingga TOBAKEEN menjadi salah satu emiten yang paling aktif mengembangkan proyek tenaga surya.
Perseroan telah membangun PLTS Tempilang di Bangka Belitung yang dikembangkan melalui anak usaha PT Kencana Energi Solar. Selain PLTS pertama berkapasitas 1,36 megawatt peak (MWp) untuk memasok kebutuhan operasional pembangkit biomassa, perusahaan juga mengembangkan PLTS Tempilang 2 berkapasitas 4,1 MWp yang dilengkapi sistem penyimpanan energi berkapasitas 3,4 megawatt hour (MWh).
KEEN juga mengoperasikan PLTS Tobelo berkapasitas 10 MW di Halmahera Utara sebagai bagian dari ekspansi pembangkit energi terbarukan.
Selain itu, emiten portofolio bisnis Lo Kheng Hong ABMM juga memiliki bisnis PLTS. Lewat anak usahanya PT Cipta Kridatama, perseroan mulai mengoperasikan PLTS pada Februari 2025 bekerja sama dengan SUN Energy.
PLTS berkapasitas 643,8 kilowatt peak (kWp) di Jambi tersebut merupakan sistem microgrid surya dengan penyimpanan baterai berkapasitas 1 MWh. Listrik yang dihasilkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional kawasan tambang. Mulai dari mess karyawan, klinik, masjid hingga fasilitas olahraga.
Presiden Direktur Cipta Kridatama mengatakan proyek tersebut diperkirakan menghasilkan lebih dari 849 ribu kilowatt hour energi bersih setiap tahun serta mampu mengurangi emisi karbon sekitar 660 ton CO2 atau setara menanam lebih dari 10.900 pohon.
Sementara itu, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melakukan perluasan portofolio energi terbarukan. Pada Maret 2025, perusahaan menuntaskan pembiayaan proyek PLTS terapung di Tembesi, Batam. TOBA juga mulai mengoperasikan pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) di Lampung.
Melihat peluang tersebut, Analis Panin Sekuritas Cabang Pondok Indah Elandry Pratama menilai percepatan pembangunan PLTS memang menjadi katalis bagi perusahaan EBT.
“Saya melihat prospek sektor EBT semakin positif karena proyek PLTS 100 GW menjadi katalis jangka panjang bagi ekosistem EBT nasional,” ujar Elandry kepada Katadata, Senin (6/7).
Menurut dia, KEEN berpeluang memperoleh tambahan proyek apabila pemerintah segera membuka tender PLTS baru. Tambahan proyek tersebut berpotensi meningkatkan kapasitas pembangkit sekaligus memperbesar pendapatan berulang (recurring income).
Sementara itu, peluang juga terbuka bagi emiten PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Menurut Elandry, BREN berada di posisi strategis karena telah memiliki pengalaman sebagai produsen listrik swasta atau independent power producer (IPP) berbasis energi terbarukan. Selain mengembangkan pembangkit panas bumi, perusahaan diperkirakan berpeluang memperluas portofolio ke proyek PLTS skala besar.
Elandry menambahkan, apabila mayoritas proyek PLTS dibangun di Pulau Jawa, emiten yang memiliki akses pendanaan kuat, pengalaman sebagai kontraktor EPC serta kedekatan dengan jaringan transmisi listrik akan memiliki peluang lebih besar memenangkan proyek.
Hal serupa juga disampaikan Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia Azharys Hardian. Dia menyebut peluang KEEN sangat kuat untuk diuntungkan dari proyek tersebut.
Dia mengatakan, ada faktor pembeda dengan emiten lainnya, yaitu KEEN sudah mencatatkan track record riil dengan memiliki dua PLTS yang sudah terpasang dan beroperasi penuh dengan total kapasitas 6 MW.
"Kesiapan infrastruktur dan pengalaman operasional ini membuat KEEN selangkah lebih maju, ditambah lagi mereka sudah membidik target proyek PLTS baru sebesar 60 MW ke depan," kata Azharys.
DSSA dan BNBR Tangkap PeluangSelain BREN dan KEEN, Elandry juga menilai PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) layak diperhatikan karena mulai memperluas portofolio bisnis energi baru dan terbarukan.
Menurut dia, DSSA memiliki keunggulan dari sisi kekuatan neraca keuangan. “Sehingga berpotensi menjadi pemain penting dalam proyek skala besar apabila ekspansi EBT terus dipercepat,” kata Elandry.
Adapun DSSA memang tengah menseriusi bisnis EBT. Presiden Direktur DSSA Krisnan Cahya menyatakan peta bisnis DSSA ke depan fokus ke transisi hijau dan penguatan ekosistem digital.
Perseroan pun baru saja meresmikan pabrik manufaktur sel dan modul surya terintegrasi berkapasitas 1 GW per tahun di Kendal. Ini membuat DSSA berpotensi menangkap peluang lebih besar, meski baru masuk ke bisnis EBT.
Sementara itu, BNBR masih berada pada tahap pengembangan bisnis energi terbarukan. Potensi pertumbuhannya tetap terbuka, namun pasar diperkirakan masih menunggu realisasi proyek dan kontribusi pendapatan yang lebih signifikan sebelum memberikan penilaian yang lebih tinggi terhadap saham perseroan.
Sedana, Azharys melihat DDSA dan BNRB sebagai penantang baru juga memiliki potensi yang jauh lebih besar dalam jangka pendek-menengah. Dia menilai DSSA telah mengamankan kerja sama strategis dengan PLN untuk membangun pabrik solar panel di KEK Kendal dengan kapasitas produksi masif mencapai 1–2 GWp per tahun.
Di sisi lain, BNBR sebenarnya memiliki target yang tidak kalah besar lewat kemitraan dengan perusahaan asal Cina. Namun, tantangannya saat ini adalah kapasitas PLTS BNBR yang sudah benar-benar terpasang dan beroperasi secara komersial masih tergolong kecil.
"Kendati demikian, ke depan kedua emiten ini berpeluang kuat menjadi pemain kunci (key players) di industri PLTS domestik berkat visi kapasitas produksi tahunan mereka yang jumbo," kata Azharys.
Ke depan, DSSA akan fokus pada pengembangan Geothermal (panas bumi) 140 MW, manufaktur PLTS hingga 2 GWp per tahun serta ekspansi agresif di segmen PLTS Rooftop (Atap).
Sementara itu KEEN tengah membidik target pipeline PLTS sebesar 60 MW, PLT Hydro (air) sebesar 250 MW, di mana 180 MW di antaranya sedang dalam proses tender serta PLT Bayu/Angin (PLTB) sebesar 162 MW.




