EtIndonesia.com — Rangkaian prosesi pemakaman kenegaraan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memasuki hari kedua pada 5 Juli. Upacara yang dipusatkan di Teheran kembali dihadiri oleh ribuan pelayat dan dijaga dengan pengamanan yang sangat ketat. Namun, di balik besarnya prosesi tersebut, berbagai kontroversi mulai bermunculan, mulai dari absennya sosok yang disebut-sebut sebagai calon penerus Khamenei, perdebatan mengenai jumlah pelayat, hingga munculnya laporan mengenai kekhawatiran pemerintah Iran terhadap potensi insiden keamanan berskala besar.
Tayangan yang disiarkan televisi pemerintah Iran memperlihatkan kehadiran tiga putra Ayatollah Ali Khamenei, yakni Mostafa Khamenei, Meysam Khamenei, dan Masoud Khamenei, yang tampak mengikuti jalannya prosesi penghormatan terakhir kepada sang ayah.
Namun, perhatian publik justru tertuju pada tidak hadirnya Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai salah satu figur paling berpengaruh di lingkaran elite kekuasaan Iran. Mojtaba juga kerap disebut oleh berbagai analis politik sebagai kandidat terkuat untuk melanjutkan posisi Pemimpin Tertinggi Iran.
Hingga akhir prosesi hari kedua, tidak ada penjelasan resmi dari pemerintah Iran mengenai alasan absennya Mojtaba Khamenei.
Pemerintah Iran Klaim Jutaan Orang Hadir
Dalam upaya menunjukkan persatuan nasional kepada masyarakat internasional, pemerintah Iran menyatakan bahwa prosesi pemakaman kenegaraan Ayatollah Ali Khamenei diperkirakan akan dihadiri sekitar 15 juta orang.
Sepanjang hari, sejumlah ruas jalan utama di Teheran memang dipenuhi lautan manusia yang mengikuti iring-iringan prosesi pemakaman. Aparat keamanan, personel militer, serta anggota milisi Basij juga terlihat berjaga di berbagai titik strategis ibu kota.
Meski demikian, klaim mengenai jumlah pelayat tersebut memunculkan keraguan dari sebagian warga maupun sejumlah media internasional.
Beberapa warga Teheran yang diwawancarai media asing mengaku bahwa mereka tidak ikut menghadiri prosesi tersebut karena merasa tidak memiliki keterikatan emosional terhadap acara tersebut. Sebagian lainnya bahkan menilai pemerintah sengaja membesar-besarkan jumlah peserta sebagai bagian dari upaya membangun citra politik.
Warga Iran Pertanyakan Klaim Jumlah Pelayat
Menurut laporan CNN, sejumlah warga Teheran mengungkapkan bahwa banyak masyarakat memilih tetap beraktivitas seperti biasa dan tidak mengikuti prosesi berkabung.
Seorang guru perempuan berusia sekitar 30 tahun mengatakan bahwa angka kehadiran yang diumumkan pemerintah sama sekali tidak realistis.
Menurutnya, klaim bahwa terdapat antara 10 hingga 20 juta pelayat tidak sesuai dengan kondisi yang terlihat di lapangan.
“Bahkan dalam kondisi paling ideal sekalipun, jumlah peserta tidak mungkin mencapai satu juta orang dalam satu hari,” ujarnya kepada CNN.
Beberapa warga lainnya bahkan menyebut prosesi tersebut lebih menyerupai pertunjukan politik daripada bentuk duka cita yang benar-benar spontan dari masyarakat.
Laporan Media: Pemerintah Siapkan Skenario Korban Massal
Di tengah berlangsungnya prosesi pemakaman, harian Jerman Die Welt melaporkan adanya dokumen internal yang menunjukkan bahwa pemerintah Iran sebenarnya telah menyiapkan berbagai skenario darurat apabila terjadi insiden selama acara berlangsung.
Mengutip dokumen rahasia serta sumber dari Pemerintah Kota Teheran, media tersebut menyebut otoritas Iran memperkirakan kemungkinan munculnya korban jiwa dalam jumlah besar, yakni sekitar 1.500 hingga 3.000 orang, apabila terjadi keadaan darurat.
Laporan serupa juga disampaikan oleh media berbasis oposisi Iran International.
Menurut laporan tersebut, Badan Manajemen Krisis Nasional Iran dikabarkan telah mengirimkan surat rahasia kepada Wakil Presiden Pertama Iran yang berisi analisis mengenai kemungkinan terjadinya korban massal selama prosesi pemakaman.
Meski demikian, dokumen tersebut tidak menjelaskan secara spesifik penyebab yang mendasari perkiraan tersebut.
Beberapa kemungkinan yang disebut dipertimbangkan meliputi:
- Risiko terjadinya desak-desakan akibat membludaknya massa.
- Potensi serangan keamanan secara mendadak.
- Kemungkinan munculnya aksi protes.
- Ancaman keadaan darurat lainnya selama prosesi berlangsung.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Iran dikabarkan telah mempersiapkan sekitar 3.000 liang kubur di kompleks pemakaman Behesht-e Zahra, yang disebut mampu menampung korban apabila benar-benar terjadi insiden besar.
Namun demikian, hingga saat ini informasi mengenai dokumen tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, sehingga kebenarannya masih belum dapat dipastikan.
Trump: Iran Menginginkan Stabilitas Setelah “Dihajar”
Sementara itu, perkembangan di Iran juga menjadi perhatian Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam pidato yang disampaikannya di kawasan Mount Rushmore pada 3 Juli, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memberikan tekanan yang sangat besar terhadap Iran sehingga, menurutnya, pemerintah Teheran kini sangat menginginkan stabilitas.
Trump mengatakan pemerintahannya sengaja memberikan waktu sekitar satu minggu kepada Iran untuk menyelenggarakan pemakaman Ayatollah Ali Khamenei sebelum mengambil langkah berikutnya.
Ia juga mengaku menyaksikan tayangan warga Iran yang menangis selama prosesi pemakaman.
Pemandangan tersebut, menurut Trump, sempat membuat dirinya terkejut.
“Saya kira semua orang membenci Khamenei,” ujar Trump.
Namun beberapa saat kemudian, ia menambahkan dengan nada sinis bahwa kemungkinan tangisan tersebut hanyalah sebuah sandiwara.
Pernyataan itu kembali memperlihatkan tajamnya perang retorika antara Washington dan Teheran yang terus berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara.
Seruan Anti-Amerika dan Anti-Israel Kembali Menggema
Selama prosesi pemakaman berlangsung, berbagai slogan anti-Amerika Serikat dan anti-Israel kembali menggema dari atas panggung utama maupun di tengah kerumunan massa.
Pembawa acara secara terbuka menyerukan slogan-slogan yang mengecam Amerika Serikat dan Israel serta mengutuk Presiden Donald Trump.
Di sejumlah titik, massa juga terdengar meneriakkan seruan balas dendam terhadap Amerika Serikat sebagai respons atas kematian Ayatollah Ali Khamenei dan konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Muncul Laporan Dugaan Rencana Pembunuhan Trump
Di sisi lain, laporan yang beredar dari C14 mengklaim bahwa sebuah dokumen intelijen terbaru menyebut Pasukan Quds, yaitu unit operasi luar negeri Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), telah membentuk kelompok baru bernama Unit Mukhtar.
Menurut laporan tersebut, kelompok itu diduga menjalin kerja sama dengan sejumlah kartel narkoba di Meksiko serta sebagian unsur diaspora Iran di luar negeri.
Laporan tersebut juga mengklaim bahwa kelompok tersebut sedang menyusun rencana untuk melakukan pembunuhan terhadap Presiden Donald Trump beserta sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat lainnya.
Namun hingga kini, klaim tersebut belum memperoleh konfirmasi resmi maupun verifikasi independen, sehingga kebenarannya belum dapat dipastikan.
Iran Tegaskan Akan Terus Melawan Israel
Sementara itu, penasihat militer senior Iran, Yahya Rahim Safavi, kembali mengeluarkan pernyataan keras mengenai arah kebijakan Iran pasca kematian Ayatollah Ali Khamenei.
Safavi menegaskan bahwa Iran akan melanjutkan apa yang disebutnya sebagai “pertempuran hidup dan mati” melawan Israel.
Ia juga menyatakan bahwa Iran dan Israel tidak lagi memiliki kemungkinan untuk hidup berdampingan secara damai di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, Safavi menegaskan bahwa Iran akan membalas kematian Ayatollah Ali Khamenei serta tetap mempertahankan garis kebijakan yang selama ini dijalankan terhadap Israel.
Pernyataan tersebut kembali memperlihatkan bahwa meskipun Iran tengah menggelar prosesi berkabung nasional, ketegangan politik dan militer di kawasan Timur Tengah masih tetap tinggi.
Di tengah upaya pemerintah menampilkan citra persatuan nasional, munculnya berbagai laporan mengenai potensi ancaman keamanan, perdebatan mengenai jumlah pelayat, hingga retorika keras terhadap Amerika Serikat dan Israel menunjukkan bahwa situasi politik Iran masih berada dalam fase yang sangat sensitif dan penuh ketidakpastian. (***)





