Pedagang Seragam Sekolah di Purwokerto Keluhkan Penurunan Omzet

metrotvnews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Purwokerto: Pedagang seragam sekolah di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mulai merasakan dampak meningkatnya tren belanja daring. Akibatnya, penjualan pada momentum tahun ajaran baru tidak lagi seramai beberapa tahun sebelumnya.

Salah seorang pedagang seragam sekolah di kawasan Kebondalem, Liyanto, mengakui omzet penjualannya menjelang tahun ajaran baru kali ini meningkat sekitar 50 persen dibandingkan hari biasa.

"Tetapi, kondisinya jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu karena banyak masyarakat kini memilih berbelanja secara online (daring)," katanya, dilansir dari Antara, Senin, 6 Juni 2026. 
 

Baca Juga :

Pasar Petisah Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi dan Belanja Online

Ia mengaku telah melayani kebutuhan masyarakat sejak 1995. Berbagai produk yang dijual meliputi seragam sekolah, seragam dinas aparatur sipil negara (ASN), berbagai jenis seragam lainnya, perlengkapan sekolah, hingga alat tulis kantor (ATK).

Akan tetapi, kata dia, dalam tiga tahun terakhir penjualan terus mengalami penurunan seiring semakin banyak masyarakat beralih ke platform belanja daring. Menurut dia, kondisi tersebut membuat lonjakan pembeli menjelang tahun ajaran baru tidak lagi sebesar sebelumnya.

"Dampaknya terasa sekali. Dulu kurang satu minggu sebelum masuk sekolah pembeli sudah penuh sesak di toko, tetapi sekarang kondisinya sudah tidak seperti itu lagi karena banyak yang memilih belanja online," ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya mulai memperluas jenis dagangan dengan menjual lebih banyak alat tulis kantor (ATK) serta mencoba memasarkan produk secara daring sebagai upaya untuk menyesuaikan perubahan perilaku konsumen. Namun, langkah tersebut belum mampu sepenuhnya mengimbangi persaingan dengan toko daring.

Terkait dengan hal itu, dia mengurangi jumlah barang yang didatangkan dari sentra konveksi di Solo (Jawa Tengah) dan Bandung (Jawa Barat) karena penjualan yang melambat. "Sekarang, memang lesu. Kulakan juga dikurangi karena penjualannya tidak sebanyak dulu," ucapnya.

Lebih lanjut, Liyanto mengatakan satu setel seragam sekolah dijual dengan harga mulai Rp100 ribu. Pihaknya juga menyediakan layanan bordir nama untuk melengkapi kebutuhan siswa menjelang masuk sekolah.

"Kebutuhan seragam sekolah saat ini juga mengalami perubahan. Banyak sekolah memberikan keleluasaan kepada orang tua untuk membeli sendiri seragam, sedangkan yang umumnya diwajibkan hanya seragam batik sekolah dan seragam olahraga," jelasnya.

Salah seorang warga Desa Singasari, Kecamatan Karanglewas, Endang, mengaku tetap memilih membeli perlengkapan sekolah secara langsung di toko. Sebab, cara ini memudahkannya melihat kualitas barang sekaligus memastikan ukuran pakaian sesuai untuk anaknya yang akan masuk sekolah menengah pertama (SMP).

"Kalau beli online enggak bisa lihat sendiri dan enggak bisa mencoba karena kadang kebesaran atau kekecilan. Kalau di sini harganya murah dan bisa memilih," ujarnya.


Ilustrasi belanja online. Foto: Courtesy Insideretail.asia.


Dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Kabupaten Banyumas Gatot Eko Purwadi mengatakan kebutuhan seragam sekolah saat ini lebih banyak dipenuhi oleh toko yang menyediakan pakaian jadi dibandingkan melalui jasa penjahit atau konveksi skala kecil.

"Masyarakat cenderung memilih produk siap pakai karena lebih praktis dan harganya lebih kompetitif," paparnya.

Kendati demikian, dia mengakui DPKUKM selama ini belum memiliki data mengenai peningkatan atau penurunan permintaan seragam sekolah yang berdampak langsung terhadap pelaku usaha konveksi lokal. Pihaknya akan melakukan penelitian terhadap pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sektor konveksi dan tekstil guna mengetahui seberapa besar peningkatan atau penurunan omzet UMKM sektor tersebut.

"Kami akan mencoba memantau apakah setiap tahun ajaran baru memang ada tambahan omzet untuk pelaku usaha. Selama ini teman-teman pelaku usaha juga tidak pernah melaporkan apakah ada peningkatan pesanan atau tidak," tambahnya.

Gatot mengharapkan penelitian tersebut dapat memberikan gambaran mengenai peluang dan kendala yang dihadapi pelaku UMKM konveksi menjelang tahun ajaran baru.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
El Nino Datang Lagi, Begini Rekam Jejak Selama Hampir 50 Tahun
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Prakiraan Cuaca BMKG Besok 7 Juli 2026: Siklon Bavi Menguat, Sumbar dan Bengkulu Siaga Hujan Lebat
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
BNPB: Kebakaran TPA Jatiwaringin Baru Padam 40 Persen
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Tanggapan Lisa Mariana Usai Dituding Lakukan Penipuan Mencapai Ratusan Juta
• 5 jam lalucumicumi.com
thumb
Stand Bapenda Sumut 'Anti Celingak-Celinguk'! Sutan Tolang Lubis Garansi "Tanya Apa Saja, Langsung Dijawab'
• 3 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.