JAKARTA, DISWAY.ID - DPRD DKI Jakarta menyatakan kekhawatirannya terkait usulan kenaikan tarif bus Transjabodetabek menjadi Rp10 ribu.
Kenaikan tarif itu dinilai terlalu tinggi dan nerpotensi memicu masyarakat yang tinggal di wilayah penyangg kembali beralih menggunakan kendaraan pribadi.
Sebelumnya Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) mengusulkan pada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta agar tarif Transjabodetabek dinaikan menjadi Rp10 ribu.
BACA JUGA:DPRD DKI Tak Setuju Usulan DTKJ JakLingko Ditarif Rp2.000, MTZ: Seribu Saja Cukup
Hal ini dilakukan agar Pemprov DKI dapat menghemat subsidi transportasi untuk angkutan wilayah penyangga.
Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta, M. Taufik Zoelkifli (MTZ) berpendapat usulan kenaikan tarif tersebut terlalu mahal bagi warga Bodetabek.
"Kalau Jakarta sendiri yang menetapkan Rp10.000, saya khawatir tujuan awal mengurangi kendaraan pribadi dari luar kota tidak tercapai," ujarnya kepada wartawan pada Senin, 6 Juli 2026.
Menurutnya selama ini warga daerah penyangga memilih Transjabodetabek karena tarifnya sangat murah hanya Rp3.500.
Dia meminta agar Pemprov DKI berkoordinasi dengan kepala daerah Bodetabek untuk mencari jalan tengah agar wacana kenaikan tarif tersebut tidak terlalu membebani masyarakat.
BACA JUGA:Tak Naik Sejak 2005, DTKJ Usulkan Tarif Transjakarta Jadi Rp5.000
"Jadi saya menyarankan untuk Transjabodetabek, Jakarta perlu duduk bersama pemerintah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi supaya mereka juga ikut bertanggung jawab terhadap biaya layanan Transjabodetabek," ujarnya.
Sebelumnya Ketua DTKJ, Sugihardjo menilai usulan kenaikan tarif Transjabodetabek itu masih terbilang murah.
Pasalnya DTKJ juga akan mengusulkan jika tarif Transjabodetabek dibandling dengan Transjakarta.
Sehingga penumpang Transjabodetabek, tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk berpindah ke Transjakarta.
Adapun DTKJ akan mengusulkan tarif Transjakarta yang belum pernah mengalami kenaikan sejak 2004, ditingkatkan menjadi Rp5.000 per penumpang.
- 1
- 2
- »





