Oleh: Jaslan Tanniapa*
Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan antropolog Bustan Basir Maras, membuka pengetahuan baru, hubungan saling silang antara Upacara Pa’bandangang-Peppio (UPP) di Kajuangin-Malunda, Sulbar, dengan epos I La Galigo, salah satu kitab sastra dengan kisah terpanjang di dunia, melebihi epos Ramayana, Mahabrata dan Homerus. Dengan demikian, peserta FGD memiliki wawasan baru atas penelitian yang dilakukan oleh Bustan.
FGD ini dilaksanakan pada Sabtu, 4 Juli 2026, Pukul 08.00-11.00. di Gazebo Café dan Korumta Pustaka, sebuah ruang santai dan dialektika kebudayaan Komunitas Rumah Kita (Korumta) dengan berbagai ivent kebudayaan di pantai Mekkatta-Malunda-Sulbar. Peserta FGD dihadiri oleh berbagai kalangan dan lapisan masyarakat, termasuk dua narasumber yang menjadi pelaku utama UPP, Bapak M. Aman dan Bapak Sulaiman Ferdiansyah. Kedua-duanya tokoh masyarakat Kayuangin dan mantan Kadus Kayuangin. Hadir pula tokoh masyarakat lainnya, tokoh pendidik, tokoh pemuda, penggiat budaya, sejumlah siswa dari sekolah SMA 1 Malunda, SMA 1 Tapalang, SMK 6 serta sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi, Unsulbar, STAIN Majene dan lain-lain. Bustan menuturkan, ia melakukan penelitian ini kurang lebih tiga bulan di Sulbar, baik di Kajuangin sendiri dan beberapa kampung lain di sekitarnya. Seperti Pettabeang, Mosso, Bambangan, Mekkatta, Taan, Pao-pao dan Allamungan Batu-Malunda. Selain riset lapangan, Bustan juga melakukan riset pustaka dan wawancara sejumlah tokoh. Riset pustaka ia lakukan disejumlah perpustakaan, baik Perpusip Majene, Mamuju, Provinsi, Perpust Unsulbar bahkan di laboratorium I La Galigo di Unhas Makassar. Dalam forum ini Bustan menuturkan, selama tiga bulan terakhir ia menemukan adanya keterkaitan saling silang secara tidak langsung antara epos I La Galigo dan UPP. Sejak tahun 2008 Bustan aktif menggali informasi tentang UPP hingga kini. Dalam FGD sebagai bagian penting dalam riset ini, respon beragam dari peserta dan narasumber membuahkan berbagai informasi baru. Folklor Sawerigading yang beredar di luas di masyarakat Malunda dan sekitarnya, menjadi informasi penting untuk melengkapi data penelitian Bustan dalam konteks saling silang dengan Peppio. Peserta FGD mengharapkan kegiatan seperti ini agar sering di laksanakan. “Kita harus turun dan mengedukasi generasi milenial dan gen z, agar tahu bahwa ada kegiatan kebudayaan eksotik yang belum banyak diketahui di Malunda” kata Jerniati, salah seorang guru pengajar seni budaya SMK 6 Malunda.“Generasi milenial dan gen z adalah harapan regenerasi kita, agar kebudayaan ini tidak hilang terkikis oleh waktu. Ini salah satu upaya kita agar generasi kita tidak rapuh. Jangan sampai mereka tidak mengenal budayanya sendiri, sementara budaya luar tersimpan rapi menyelinap di saku-saku baju dan celana mereka, lalu bersembunyi di genggamannya” lirih M. Ali, Ketua Korumta dengan nada metaforis.
“Ucapan terima kasih pada semua pihak yang telah turut mensukseskan acara ini. Special thanks atas dukungan Kemenkebud melalui Platform Indonesiana dan LPDP, atas dukungannya. Juga pada supporting lokal, teman-teman yang berhimpun di Korumta dan Gazebo atas kerjasamanya” ucap Bustan memungkasi seluruh rangkaian FGD-nya. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ust. Saidung Tanreale, S.Pd.i. menambah hikmat suasana, dilanjut dengan istirahat dan makan siang bersama. Selebihnya ada obrolan semangat pelestarian budaya Sulbar-Nusantara dari meja makan yang satu ke meja yang lain, ditingkahi lagu “Malunda” dan “Mesa Kada” dari vocal Ali-Korumta serta dentingan gitar klasik yang ritmis mengharu biru suasana, menggerus semangat baru para peserta untuk lebih berpihak pada kebudayaan lokal milik kampung halaman dan bangsa sendiri.*Jaslan Tanniapa adalah Ketua Korumta Periode ke Lima dan peserta Sekolah Menulis Stanifa Institute dan Korumta.





