GORONTALO, KOMPAS – Partai Demokrat mengintensifkan konsolidasi internal menjelang Pemilu 2029. Namun, seluruh kader diminta tidak terburu-buru berbicara mengenai kontestasi politik. Sebaliknya, mereka diminta lebih dahulu membawa solusi melalui kebijakan yang berpihak kepada rakyat.
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat memberikan arahan dalam Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Demokrat Gorontalo di Ballroom Hotel Fox, Kota Gorontalo, Minggu (5/7/2026), berharap organisasi Partai Demokrat semakin solid dan efektif, mulai dari tingkat DPD, DPC, PAC, ranting hingga anak ranting. AHY kemudian mengingatkan agar kader tidak terburu-buru membicarakan kontestasi politik mendatang.
"Yang harus kita pastikan terlebih dahulu, sebelum berbicara mengenai Pemilu 2029 yang masih cukup jauh, sebelum berbicara mengenai kontestasi politik lainnya, kita harus memastikan bahwa Partai Demokrat hadir untuk menghadirkan solusi," tegas AHY.
Musda tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Herman Khaeron, Gubernur Gorontalo sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan DPD Partai Demokrat Gorontalo Gusnar Ismail, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Umar Arsal dan Jansen Sitindaon, jajaran DPP Partai Demokrat, Ketua DPD Partai Demokrat Gorontalo Erwin Ismail beserta jajaran, serta para Ketua DPC Partai Demokrat se-Provinsi Gorontalo.
Ia mengatakan, solusi dimaksud dapat diwujudkan melalui kebijakan yang mampu meningkatkan daya beli masyarakat, membuka lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan pemerataan pembangunan serta pengurangan kesenjangan ekonomi, sosial, maupun antardaerah.
AHY juga menyinggung dinamika geopolitik global yang berdampak terhadap perekonomian. Karena itu, ia menilai setiap kebijakan harus berpihak kepada masyarakat, mendukung dunia usaha, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Dalam kesempatan itu, AHY secara khusus mengajak seluruh kader Demokrat di Gorontalo mendukung pemerintahan Provinsi Gorontalo di bawah kepemimpinan Gubernur Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie agar mampu meningkatkan perekonomian serta kesejahteraan masyarakat.
"Kita semua berharap pemerintahan ini sukses meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Mari kita pastikan dukungan solid ini bukan hanya untuk merapatkan barisan ke dalam, tetapi juga merapatkan barisan demi menyukseskan pemerintahan Provinsi Gorontalo," ujarnya.
AHY menegaskan, kemenangan elektoral bukanlah tujuan akhir Partai Demokrat. Menurutnya, kemenangan sejati justru diukur dari kemampuan partai meringankan beban masyarakat dan menjaga keberpihakan kepada rakyat.
"Pada akhirnya, kemenangan yang sejati adalah bagaimana kita mampu meringankan beban masyarakat. Bagaimana masyarakat menilai kita sebagai partai yang selalu berpihak kepada mereka," kata AHY.
Pada hari yang sama, pesan senada disampaikan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) saat memberikan materi dalam Bimbingan Teknis Nasional (Bimteknas) Gelombang II Anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia di Museum & Galeri SBY-Ani, Pacitan, Jawa Timur.
Dalam materi bertajuk Only The Strong, Ibas mengatakan penguatan kader tidak hanya bertujuan memperkuat organisasi partai, tetapi juga memastikan Demokrat terus menjadi bagian dari pembangunan nasional. Menurut Ibas, pengabdian kepada masyarakat harus menjadi orientasi utama seluruh kader.
"Kita ingin menjadi bagian dari pembangunan dan memastikan kesejahteraan rakyat benar-benar dirasakan. Itulah tujuan kita bernegara, tujuan dan cita-cita Partai Demokrat, menjadi bagian dari yang mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, menjaga kedamaian dunia, dan juga melindungi segenap tumpah darah Indonesia," ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa Demokrat memiliki pengalaman baik ketika berada di dalam pemerintahan maupun saat menjadi mitra kritis di luar pemerintahan. Karena itu, kader diminta tetap konsisten memperjuangkan kepentingan masyarakat dalam berbagai posisi politik.
"Partai Demokrat pernah menjadi bagian dari pemerintahan yang kita pimpin. Kita juga pernah menjadi bagian dari mitra kritis di luar pemerintahan. Kita juga hari ini mendukung pemerintahan yang bukan secara langsung kita pimpin. Lengkap. Tinggal bagaimana kita menjadi politisi-politisi yang istikamah memperjuangkan rakyat," kata Ibas.
Ibas juga mengajak seluruh kader mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, anggota DPRD sebagai ujung tombak partai harus menjaga integritas serta terus memperjuangkan aspirasi masyarakat.
"Kita itu harus aspiratif. Kalau tidak dipilih rakyat, kita juga tidak bisa menjadi anggota DPR. Jadi kembali kepada rakyat. Aspirasi mereka kita perjuangkan. Fraksi di semua tingkatan, tolong bantu rakyat," tuturnya.
Dihubungi secara terpisah, Senin (6/7/2026), peneliti senior Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, menilai konsolidasi yang dilakukan partai politik jauh sebelum Pemilu 2029 merupakan langkah yang wajar sekaligus diperlukan mengingat persaingan diperkirakan semakin ketat.
Menurut Lili, perubahan komposisi pemilih yang didominasi generasi milenial dan Gen Z membuat partai tak bisa hanya mengandalkan kerja politik menjelang pemilu. "Kalau partai tidak jauh-jauh hari melakukan konsolidasi, suaranya bisa tergerus atau bahkan terlempar dari Senayan," ujarnya.
Namun, ia mengingatkan konsolidasi sebaiknya tidak hanya berorientasi pada perebutan kekuasaan, melainkan juga diarahkan pada penyelesaian persoalan bangsa.
"Saya setuju, konsolidasi harus menekankan solusi atas persoalan bangsa, bukan kontestasi politik gincu dan pencitraan. Politik gincu harus ditinggalkan karena tidak membawa perubahan bagi kemajuan bangsa. Rakyat jangan dihipnotis dengan politik pencitraan, tetapi diajak bersama-sama mengatasi persoalan bangsa," katanya.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia Arifki Chaniago pun berpandangan, narasi yang dibangun AHY menunjukkan upaya Demokrat membedakan strategi politiknya dari partai lain.
Menurut Arifki, Demokrat ingin membalik logika politik dengan menempatkan pengabdian sebagai modal utama sebelum berbicara mengenai elektoral. ”Biasanya partai mulai sibuk ketika pemilu sudah dekat. Sekarang justru pesannya, jangan sibuk mengejar suara kalau belum menyelesaikan suara rakyat," katanya.
Ia menilai konsolidasi sejak dini memang penting, tetapi yang harus dibangun bukan sekadar mesin politik, melainkan rekam jejak pengabdian kepada masyarakat.
Di tengah kejenuhan publik terhadap politik yang dipenuhi polemik, lanjut Arifki, partai yang mampu menghadirkan solusi berpeluang memperoleh kepercayaan lebih besar dibandingkan partai yang terlalu cepat berbicara mengenai koalisi ataupun pembagian kekuasaan.
Meski demikian, Arifki mengingatkan narasi tersebut tetap harus dibuktikan melalui kerja nyata. "Demokrat ingin mengubah angle berkampanye lebih awal dengan solusi, bukan dengan berpolemik. Tetapi narasi itu tetap harus diuji. Bisa juga dibaca sebagai upaya menjaga posisi politik menjelang 2029, termasuk membuka ruang negosiasi dalam kontestasi mendatang," katanya.

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288895/original/060729500_1783342215-IMG-20260706-WA0287.jpg)



