Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (6/7/2026) di zona hijau meski pelaku pasar masih bersikap hati-hati menanti sejumlah data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri.
Penguatan indeks didorong oleh optimisme pasar di tengah penantian risalah rapat bank sentral Amerika Serikat (The Fed) serta data cadangan devisa Indonesia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup naik 40,29 poin atau 0,69 persen ke level 5.916,07. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga menguat 2,70 poin atau 0,46 persen ke posisi 584,48.
Maximilianus Nico Demus Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, pergerakan IHSG sepanjang perdagangan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.
“Sentimen eksternal dan internal membayangi pergerakan IHSG,” ujar Nico.
Dari pasar global, investor memilih menunggu publikasi risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Fed yang diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat dalam beberapa bulan ke depan.
“Dimana risalah ini memberikan rincian lengkap dari keputusan kebijakan moneter dan proyeksi ekonomi yang dibahas selama pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal,” ujar Nico dilansir dari Antara.
Sikap hati-hati investor juga dipengaruhi data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Penambahan tenaga kerja nonpertanian (non-farm payroll) pada Juni 2026 hanya mencapai 57.000, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 110.000.
Data tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi spekulasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada rilis indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) China periode Juni 2026.
Kedua indikator tersebut dinilai akan memberikan gambaran mengenai laju pemulihan ekonomi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.
Di dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati rilis data cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada Selasa (7/7/2026).
Data tersebut dinilai penting karena mencerminkan kemampuan Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memenuhi kebutuhan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri.
“Data itu menjadi perhatian pelaku pasar karena akan memberikan gambaran ketahanan dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, dan kemampuan membiayai kebutuhan impor dan membayar utang luar negeri,” kata Nico.
Menurutnya, pasar masih mewaspadai potensi penurunan cadangan devisa setelah posisi akhir Mei 2026 tercatat sebesar 144,9 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan akhir April 2026 yang mencapai 146,2 miliar dolar AS.
Di sisi lain, aksi ambil untung (profit taking) juga sempat membayangi perdagangan setelah IHSG mencatat penguatan selama tiga hari berturut-turut. Meski demikian, indeks tetap bertahan di zona positif sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan.
Secara sektoral, sembilan sektor mencatatkan penguatan. Sektor energi memimpin kenaikan dengan menguat 0,94 persen, disusul sektor teknologi sebesar 0,94 persen dan sektor barang konsumen nonprimer yang naik 0,91 persen.
Sebaliknya, dua sektor mengalami pelemahan. Sektor infrastruktur terkoreksi paling dalam sebesar 0,18 persen, diikuti sektor barang konsumen primer yang turun 0,05 persen.
Pada perdagangan hari ini, saham LAPD, NTBK, BELL, YUPI, dan SKBM menjadi emiten dengan kenaikan tertinggi. Sementara FORU, KDTN, ECII, LUCY, dan DLTA tercatat sebagai saham dengan pelemahan terbesar.
Aktivitas perdagangan di BEI mencatat frekuensi transaksi sebanyak 1,61 juta kali dengan volume mencapai 18,59 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp9,42 triliun. Sebanyak 403 saham menguat, 259 saham melemah, dan 397 saham bergerak stagnan.
Di kawasan Asia, pergerakan bursa berlangsung bervariasi. Indeks Shanghai ditutup menguat 0,06 persen, indeks Kuala Lumpur naik 0,27 persen, dan indeks Strait Times Singapura bertambah 0,29 persen. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang ditutup melemah tipis sebesar 0,01 persen. (ant/saf/ipg)




