Pemerintah mencatat realisasi investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sejak 2012 hingga kuartal I 2026 telah mencapai Rp 353,3 triliun. Program ini telah menyerap penyerapan 266 ribu tenaga kerja.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, sedikitnya tiga KEK berbasis industri manufaktur mengajukan perluasan kawasan. Ini karena kapasitas lahan yang tersedia hampir seluruhnya telah terisi.
Susi mengatakan, perkembangan tersebut menunjukkan investasi langsung di sektor manufaktur masih tumbuh kuat di tengah dinamika ekonomi global dan berbagai kekhawatiran mengenai sentimen investor terhadap Indonesia.
“Hari ini investasi secara akumulatif sudah kira-kira Rp 353,3 triliun. Kemudian tenaga kerjanya kira-kira 266.000,” kata Susi kepada wartawan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (6/7).
Ia menuturkan, pemerintah melihat fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski kondisi global masih penuh ketidakpastian. Di sisi lain, terdapat sejumlah catatan mengenai tingkat kepercayaan investor. Namun, kata Susi, perkembangan di kawasan ekonomi khusus justru menunjukkan tren yang berbeda.
“Kami meyakinkan bahwa di Kawasan Ekonomi Khusus, hampir semuanya, khususnya yang berbasis industri manufaktur, investasi terjadi peningkatan yang luar biasa,” katanya.
Susi menyebut, tiga kawasan industri, yakni KEK Gresik, KEK Kendal, dan KEK Galang Batang, saat ini tengah mengajukan perluasan kawasan kepada pemerintah. Permohonan tersebut diajukan karena kawasan yang ada telah dimanfaatkan secara optimal sehingga tidak lagi mampu menampung investasi baru.
“Ketiga KEK tersebut saat ini sedang kami proses untuk mengajukan perluasan kawasan. Rata-rata dua kali lipat dari yang ada sekarang karena yang ada sekarang sudah full utilized,” kata dia.
Susi mengatakan, pemerintah saat ini tengah menyiapkan pengembangan lahan baru agar dapat mengakomodasi antrean investasi yang masuk ke kawasan-kawasan tersebut.
“Beberapa investasi baru yang sudah mengantre di KEK sekarang sedang kami siapkan area pengembangannya, baik terkait perluasan lahan maupun pengembangan kawasan KEK,” ujarnya.
Pemerintah pun mencatat potensi investasi yang dapat masuk ke kawasan ekonomi khusus dalam beberapa tahun mendatang mencapai sekitar Rp 846 triliun. Angka tersebut dinilai menjadi indikator bahwa Indonesia masih menjadi tujuan menarik bagi penanaman modal asing langsung atau foreign direct investment (FDI), terutama di sektor manufaktur.
“Hampir semua KEK industri manufaktur besar mengajukan permohonan perluasan dan sudah mengonfirmasi potensi investasi sekitar Rp 846 triliun dalam beberapa tahun ke depan. Artinya, iklim investasi di Indonesia masih sangat kondusif dan masih sangat menarik bagi investasi secara langsung, khususnya di industri manufaktur,” katanya.
Selain sektor manufaktur, pemerintah juga terus memperkuat daya saing KEK di sektor jasa. Salah satunya, melalui pengembangan KEK Singhasari sebagai pusat pendidikan internasional dengan menggandeng sejumlah perguruan tinggi kelas dunia, termasuk King's College London dan Indian Institute of Management Bangalore.
Susi mengatakan, pemerintah berharap ekspansi kawasan industri dan penguatan sektor jasa di KEK dapat menjadi motor baru pertumbuhan investasi sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.




