Sekolah Swasta Makin Dilirik, Orang Tua Cari Ruang Tumbuh yang Nyaman untuk Anak

suarasurabaya.net
2 jam lalu
Cover Berita

Tren orang tua memilih sekolah swasta menunjukkan perubahan besar dalam peta pendidikan. Di tengah SPMB 2026 dan terbatasnya daya tampung sekolah negeri, sekolah kini tidak lagi hanya dinilai dari status negeri atau swasta, tetapi dari kemampuan memberi rasa aman, nyaman, dan ruang tumbuh bagi anak.

Isa Ansori DPP Koalisi Pegiat Pendidikan Ramah Anak Indonesia menilai, meningkatnya minat orang tua terhadap sekolah swasta merupakan sinyal positif. Menurutnya, masyarakat mulai melihat bahwa kualitas pendidikan tidak hanya dimiliki sekolah negeri.

“Menurut saya ini tren baik. Artinya masyarakat sudah mulai menyadari bahwa pendidikan baik tidak hanya ada di sekolah negeri. Banyak sekolah swasta yang mampu membuktikan bahwa mereka tidak kalah dengan sekolah negeri,” kata Isa dalam program Wawasan di Radio Suara Surabaya, Selasa (7/7/2026).

Namun, Isa mengingatkan, tidak semua keluarga memiliki keleluasaan yang sama dalam menentukan pilihan sekolah. Bagi sebagian orang tua, sekolah negeri tetap menjadi pilihan utama karena alasan biaya dan keterjangkauan.

“Tapi pertanyaannya begini, kemampuan memilih itu tidak dimiliki oleh banyak orang. Artinya, saya mau memilih negeri, saya mau memilih swasta, atau saya memilih swasta saja, itu tidak dimiliki oleh semua orang,” ujarnya.

Menurut Isa, pilihan orang tua terhadap sekolah sangat dipengaruhi oleh persepsi kualitas. Mulai dari tambahan pelajaran agama, pembentukan akhlak, program internasional, hingga lingkungan belajar yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan anak.

Meski begitu, ia menegaskan sekolah yang baik tidak selalu identik dengan biaya mahal atau fasilitas modern. Ukuran utama kualitas pendidikan, kata Isa, adalah kemampuan sekolah membantu anak bertumbuh dari titik awalnya.

“Menurut saya, memilih sekolah tidak harus mahal. Memang asumsinya yang mahal selalu baik, tapi menurut saya tidak selalu begitu,” jelasnya.

“Bagi saya, sekolah harus diukur dari kemampuannya menjadikan anak bertumbuh,” tambah Isa.

Ia menjelaskan, yang paling penting dari sebuah sekolah bukan hanya gedung, fasilitas, atau citra luar, melainkan atmosfer belajar yang dibangun di dalamnya. Atmosfer itu mencakup kualitas guru, pelayanan sekolah, proses belajar, dan kenyamanan anak selama berada di lingkungan sekolah.

“Fasilitas sekolah tidak selalu sangat menentukan. Sekarang kita bisa belajar dari mana saja. Tetapi layanan guru, proses layanan yang dilakukan guru, baik dalam proses belajar maupun proses penerimaan, itu sangat menentukan apakah anak bertumbuh atau tidak,” katanya.

Isa menyebut, rasa nyaman dan bahagia menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Anak yang merasa aman di sekolah akan lebih mudah berkembang dan mencapai potensi terbaiknya.

“Dari layanan itu akan tumbuh rasa nyaman dan bahagia. Rasa nyaman dan bahagia itu menjadi motivasi bagi anak untuk berkembang dan bertumbuh seperti yang diharapkan orang tua,” ujar dia.

Menurutnya, yang sebenarnya dibeli orang tua saat memilih sekolah bukan sekadar fasilitas, melainkan atmosfer belajar yang dibangun lewat kualitas guru dan layanan.

“Kalau kita memahami sekolah sebagai investasi, sesungguhnya kita sedang membeli atmosfer sekolah,” ujarnya.

Di tengah persaingan sekolah swasta yang semakin ketat, Isa juga mengingatkan agar sekolah tidak hanya mengandalkan pencitraan atau branding untuk menarik murid. Orang tua, menurutnya, perlu melihat rekam jejak sekolah, proses komunikasi, perkembangan murid, serta keberlanjutan pendidikan anak-anak setelah lulus.

“Yang harus kita awasi adalah proses bersaingnya. Apakah yang disampaikan itu fakta yang terjadi di dalam sekolah, atau hanya pencitraan?” kata Isa.

Menurutnya, sekolah swasta memang dapat menjadi pilihan strategis bagi orang tua, terutama ketika sekolah negeri tidak mampu menampung seluruh calon peserta didik. Namun, pemerintah tetap perlu hadir agar pilihan pendidikan berkualitas tidak hanya bisa dinikmati keluarga mampu.

“Jangan sampai sekolah menjadi tersegmentasi. Sekolah A hanya untuk kelompok A, sekolah B hanya untuk kelompok B. Itu bisa melestarikan kemiskinan,” tegasnya.

Di sisi lain, Isa mengingatkan sekolah negeri agar tidak berpangku tangan. Tren ini seharusnya menjadi dorongan bagi sekolah negeri maupun swasta untuk terus berinovasi.(iss/ham)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
SALAMA Jangkau 18.090 Anak, BPBD Makassar Perkuat Budaya Sadar Bencana Sejak Dini
• 14 jam laluterkini.id
thumb
Singkirkan Portugal, Sentuhan Emas Pemain Cadangan Spanyol Berbuah Manis
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sanggah Diintervensi Donald Trump, Presiden Gianni Infentino Pastikan FIFA Bekerja Independen 
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
UEFA Sebut Keputusan FIFA soal Balogun Rusak Kredibilitas Piala Dunia 2026
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Nadiem Makarim Laporkan 4 Hakim Tipikor ke Komisi Yudisial
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.