Bisnis.com, JAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang menyambangi Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2026).
Dari pantauan Bisnis di lokasi, Nanik tiba di KPK pukul 10.35 WIB, dia didampingi oleh kedua wakilnya, yakni Agustina Arumsari dan Trenggono yang lebih dulu turun dari mobil kemudian disusul Nanik.
Setibanya di lobi, para Pimpinan BGN disambut oleh Deputi Bidang Pencegahan dan Monitoring KPK, Aminudin. Nanik hanya menyampaikan kedatangannya untuk melakukan kerja sama dengan lembaga antirasuah.
"Kerja sama," kata Nanik singkat ketika ditanya tujuan kedatangan sembari berjalan menuju ruangan pertemuan.
Rencananya para Pimpinan BGN akan melakukan pertemuan dengan Pimpinan KPK termasuk Deputi Bidang Pencegahan dan Monitoring KPK.
Untuk diketahui, Nanik resmi dilantik menjadi Kepala BGN oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (8/5/2026). Usai dilantik, Nanik membeberkan sejumlah langkah yang akan diambil terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk evaluasi sekolah penerima manfaat.
Baca Juga
- Komisi IX-Nanik Gelar Rapat Tertutup Bahas Anggaran BGN
- Nanik Cs Gelar Audiensi Dengan KSP, Bahas Efisiensi Program MBG
- Nanik Tunjuk Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari jadi Jubir
Nanik mengatakan bahwa langkah pertama yang akan dilakukan oleh BGN adalah fokus pada efisiensi anggaran. Tujuannya agar tidak membebani anggaran negara saat ini. Dengan catatan, BGN tidak mengubah target dari pemberian gizi kepada penerima manfaat.
"Efisiensi dilakukan melalui moratorium, bukan hanya titik baru, tapi dapur-dapur baru," katanya di Istana Negara usai dilantik pada Senin (8/6/2026). Saat ini, jumlah dapur operasional berdasarkan virtual account di BGN mencapai 27.877.
"Kami hentikan dulu ke situ, kami akan tata, apakah dapur ini sudah bisa melayani sebetulnya dengan penerima manfaat yang ada atau sebetulnya malah kelebihan," kata Nanik.
Dia menambahkan bahwa BGN pun tidak akan membuka pendaftaran dapur baru. Kemudian, BGN akan menata ketersediaan dapur, sebab, berdasarkan evaluasinya, dapur MBG terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Selain itu, BGN akan melakukan refocusing penerima manfaat. Sebab, terdapat evaluasi bahwa ada sekolah dengan keuangan memadai namun tetap menerima MBG.
"Kami refocusing penerima manfaat, apakah perlu, eh, rasanya tidak perlu ya sekolah-sekolah kaya, karena gizinya pastinya lebih bagus. Jadi, kami arahkan bener pada anak-anak atau yang benar-benar membutuhkan," ujarnya.
Selain itu, BGN akan melakukan kontrol kualitas. Ke depan, BGN tidak lagi mengejar kuantitas penyaluran MBG.





