PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) memperkuat kesiapsiagaan penanganan kondisi darurat di area perairan dengan membekali personel Emergency Response Team (ERT) melalui program sertifikasi kompetensi penyelaman (diving license) berstandar internasional.
Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan tim dalam mendukung operasi penyelamatan bawah air secara aman dan efektif.
Deputy Director of Operation (DDO)/KTT NHM, Rara Dodo Lawolo, mengatakan sertifikasi tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kapabilitas tim ERT menghadapi tantangan operasional di wilayah perairan.
"Pencapaian ini merupakan tonggak sejarah yang signifikan bagi NHM, mengingat untuk pertama kalinya tim kami berhasil memperoleh sertifikasi penyelaman Open Water secara resmi. Pelatihan tersebut sangat relevan dengan karakteristik operasional di NHM yang mencakup area perairan luas, seperti fasilitas pelabuhan dan polishing pond. Meskipun diharapkan situasi darurat tidak terjadi, tim kami siap jika diperlukan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7/2026).
Pelatihan berlangsung selama tujuh hari dan mencakup sesi teori serta praktik di sejumlah lokasi di Halmahera Utara. Kegiatan diawali di ERT Station Gosowong pada 26 Juni 2026, dilanjutkan praktik di Pelabuhan Barnabas, Pulau Bobale, hingga Pulau Pawole, Tobelo.
Program ini diikuti lima peserta yang terdiri atas empat personel ERT dan satu perwakilan Departemen Government Relation (Govrel) & Permitting dengan pendampingan instruktur dari Professional Association of Diving Instructors (PADI) Asia Pacific, Tommy Chandra.
Ia menambahkan, kompetensi tersebut tidak hanya ditujukan untuk mendukung kebutuhan operasional internal perusahaan, tetapi juga diproyeksikan sebagai bentuk kontribusi NHM dalam mendukung misi kemanusiaan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan oleh masyarakat maupun pemerintah.
Di akhir pelatihan, instruktur PADI, Tommy Chandra memberikan evaluasi terhadap kemampuan para peserta. Menurutnya, penguasaan dasar penyelaman di level Open Water dan kenyamanan saat berada di bawah air jauh lebih penting dibandingkan mengejar jenjang sertifikasi berikutnya.
"Saya sangat menyarankan para peserta untuk memiliki peralatan pribadi guna memastikan konsistensi dan kenyamanan maksimal. Perbedaan spesifikasi pada setiap alat dapat memengaruhi ketenangan penyelam. Dengan alat milik sendiri, mereka akan lebih familiar dengan posisi teknis seperti inflate dan deflate, sehingga dapat lebih fokus pada operasi penyelamatan," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya penggunaan dive computer sebagai standar keselamatan untuk memantau kedalaman serta batas aman penyelaman (no decompression limit) guna meminimalkan risiko medis saat melakukan penyelaman.
Salah satu peserta pelatihan dari Departemen Govrel & Permitting, Gugus Agam Satria, mengaku pelatihan tersebut memberikan manfaat nyata bagi para penyelam.
"Pelatihan ini membuat penyelam lebih tenang, lebih sadar terhadap risiko, dan lebih percaya diri saat melakukan aktivitas bawah air," ujarnya.
Senada dengan itu, Kapten ERT NHM, Muhammad Ifan mengatakan sertifikasi tersebut menjadi bekal penting bagi tim dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat di lingkungan perusahaan.
"Selain meningkatkan kemampuan teknis penyelaman, kami juga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai prosedur serta teknik Open Water Rescue yang aman, efektif, dan sesuai standar. Kompetensi ini akan menjadi bekal penting dalam mendukung kesiapsiagaan serta penanganan keadaan darurat, khususnya pada operasi penyelamatan di lingkungan perairan perusahaan," ujarnya.
Dengan personel yang kini telah mengantongi lisensi penyelaman profesional, NHM terus memperkuat sistem manajemen keadaan darurat sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan pekerja sekaligus mendukung operasional perusahaan agar berjalan lebih aman dan andal.
(prf/ega)





