Pasuruan (beritajatim.com) – Inovasi penguatan ekonomi berbasis perdesaan kini terus berkembang pesat melalui pengelolaan unit usaha ritel modern yang mandiri dan terintegrasi. Keberhasilan ini menempatkan wilayah Wonokerto, Kecamatan Rembang sebagai pelopor dalam tata kelola perdagangan komunal yang mampu menggerakkan potensi pasar lokal secara maksimal.
Model bisnis yang digerakkan oleh masyarakat ini terbukti efektif dalam memotong rantai distribusi kebutuhan pokok sehingga harga jual menjadi lebih kompetitif. Dampak positifnya tidak hanya meningkatkan pendapatan asli desa, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi pemuda produktif di wilayah sekitar.
“Jadi, untuk berjalan seperti yang ada pada saat ini, itu mulai September 2025. Yang sebelumnya kita alakadarnya, karena memang masih sedikit supplier yang masuk ke Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Tapi semenjak tanggal 21 September, kita sudah menjadi seperti halnya yang diketahui saat ini, dengan berbagai macam produk kebutuhan masyarakat itu ada di sini,” urai Kepala Desa Wonokerto, Sugiyono.
Dirinya menjelaskan bahwa KDMP Wonokerto kini mengelola kawasan distribusi makanan dan pokok pertama dan satu-satunya yang sukses beroperasi di Kabupaten Pasuruan.
Keunikan sistem pengelolaan tempat belanja desa ini rupanya berhasil memikat perhatian dari jajaran aparatur pemerintah daerah lain di dalam maupun luar pulau. Mereka sengaja datang berbondong-bondong untuk mempelajari mekanisme manajemen pergudangan serta pola kemitraan yang diterapkan di lokasi tersebut.
“Alhamdulillah mulai tahun 2025 kita sudah kedatangan banyak tamu dari wilayah Jawa Timur, dan yang paling jauh itu di Kalimantan Selatan. Kalau wilayah Jawa Timur, itu kurang lebih dari Madiun, Blitar, kemudian Probolinggo, dan masih banyak lagi,” tambahnya.
Kehadiran para studi banding dari luar pulau ini menjadi bukti nyata bahwa sistem ketahanan pangan desa binaannya layak diadopsi secara nasional.
Selain memasok barang dari distributor besar, pihak manajemen juga memberikan ruang khusus bagi para pelaku industri kreatif rumahan untuk memajukan produk lokal. Mulai dari minuman sinom segar, keripik pisang renyah, telur asin berkualitas, hingga kopi khas lereng pegunungan dipajang rapi di rak lini depan swalayan.
Kemitraan strategis ini dapat terwujud secara harmonis berkat afiliasi aktif yang dijalin pihak koperasi bersama jaringan asosiasi UMKM Kabupaten Pasuruan. Ke depan, jangkauan serapan produk olahan pangan dari desa tetangga akan terus diperluas guna memicu pertumbuhan ekonomi makro di tingkat kecamatan.
“Kalau ini murni dari pengurus Koperasi Desa, dengan memberdayakan masyarakat Desa Wonokerto sebagai pegawai yang ada di Koperasi Desa Wonokerto ini. Kalau di minimarket sendiri itu ada empat, kalau di gudang tani juga ada empat, jadi total keseluruhan kurang lebih delapan karyawan dengan kisaran omzet rata-rata sekitar 200 sampai 260 juta per bulan,” pungkasnya.
Melalui pengelolaan yang profesional, unit usaha andalan Desa Wonokerto ini diharapkan mampu menjadi solusi finansial jangka panjang bagi kesejahteraan seluruh warga. (ada/aje)




