Mengais Nafkah dari yang Terbuang

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Sembari menyeka air mata, ingatan Puji kembali ke masa-masa ia berada di kampung halamannya di Demak, Jawa Tengah. Di sana, Puji menjadi buruh tani. Tapi penghasilan yang ia terima tak seberapa.

“Gajinya tidak cukup untuk anak (cucu) sekolah. Jadi saya memutuskan untuk merantau ke sini (Jakarta),” kata Puji kawasan Tebet, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Tiba di Jakarta, Puji mula-mula bekerja sebagai tukang cuci dan digaji bulanan. Namun skema gaji bulanan itu tak cocok baginya. Ia memilih mencari uang harian dan memutuskan beralih pekerjaan sebagai pemulung.

“Kalau begini, asal dapat barang, ditimbang jadi duit,” ucapnya.

Puji menjadi pemulung bukannya tanpa perhitungan. Suasana hatinya sempat bergolak. Wajar karena selama ini pekerjaan tersebut lekat dengan stigma negatif di kaum urban.

Pemulung kerap dianggap pekerja rendahan karena kumuh dan dituding penyebab ketidakamanan. Stigma buruk yang mengabaikan peran penting mereka dalam pengelolaan sampah. Bagi Puji, label negatif itu tak menyurutkannya mengais rezeki.

“Meskipun begini saya tidak nyolong, tidak maling. Saya ikhlas, dalam batin saya yang penting halal,” kata Puji lirih.

Puji biasanya memulai hari sekitar pukul 7 pagi dengan menarik gerobaknya ke tempat tertentu, lalu mulai berkeliling membawa karung. Ketika karungnya sudah terisi penuh, ia kembali ke gerobak dan bersiap untuk keliling lagi. Rutinitas itu ia lakukan setiap hari dari pagi sampai sore.

Bagi tubuhnya yang sudah renta, berkeliling di jalanan Jakarta dengan cuaca terik dan penuh polusi tak jarang membuatnya tumbang.

“Badan kadang fit, kadang tidak. Kalau lagi tidak enak badan ya [baru jalan] agak siang. Kadang tidak jalan juga, namanya orang sudah tua,” ucapnya.

Untungnya Puji kerja tak ikut orang. Sehingga ketika kelelahan, Puji bisa bebas beristirahat. Di samping itu, keluarga jadi motivasinya untuk tetap semangat.

“Mudah-mudahan saya dikasih sehat. Karena aku nggak mau ngerepotin anak-anak,” ujar Puji.

Sampah Galon bak Berlian

Bertahun-tahun sebagai pemulung, Puji sudah hafal betul mana sampah yang berharga dan mana yang tidak. Dari berbagai limbah rumah tangga yang dibuang ke bak, sampah galon plastik punya nilai yang tinggi.

“Kayak galon Le Minerale itu yang ada duitnya. Kalau [sampah plastik] yang lain-lain ya kadang dibawa, kadang tidak,” kata Puji.

Menurut Puji, sampah galon plastik bila dijual bisa dihargai Rp 4 ribu/kg. Setiap 1 kg berisi sekitar 5 galon Le Minerale ukuran 15 liter. Harga dari pengepul untuk setiap kg sampah galon tersebut lebih tinggi dibanding sampah plastik biasa atau kardus yang di kisaran Rp1.000–1.500 per kg.

Bagi para pemulung seperti dirinya, kata Puji, sampah galon bak berlian yang jadi rebutan. Bahkan ia pernah menyaksikan antar pemulung sampai bersitegang karena berebut sampah galon.

“Berharga banget, apalagi [sampah] galon. Ratusan orang (pemulung) nyari, bukan saya sendiri. [Semisal] kalau sudah ada dia (pemulung) dari sana, kita harus belok ke sini. Jangan sampai ketemu karena sudah rezeki dia. Tapi kalau yang nggak nyadar juga bisa berantem,” jelasnya.

Sehari-hari, Puji mendapat sekitar 5 kg sampah galon atau sekitar Rp 20 ribu. Ditambah dengan sampah-sampah lainnya yang bisa dijual ke pengepul, Puji bisa mengantongi Rp 50 ribu setiap harinya. Terkadang ia bisa mendapat lebih sampai Rp 60 ribu per hari jika terdapat pemilik rumah yang memberikan sampah-sampah galonnya secara cuma-cuma.

“Kadang kalau ada yang ngasih, kayak rumah orang kaya kan pada ngumpulin [sampah galon], dikasih [ke saya], kadang-kadang [dapat] sampai Rp 60 ribu,” cerita Puji.

Sebaliknya, jika Puji kesulitan mendapat sampah galon itu, pendapatannya bisa turun sekitar Rp 35-40 ribu per hari.

Bagaimanapun, Puji bersyukur dari memulung sampah ia bisa menyambung hidup secara mandiri. Dari Rp 50 ribu yang didapat setiap hari, Puji menyisihkan Rp 30 ribu untuk sewa kontrakan. Sisanya ia pakai makan sehari-hari dan memberi uang jajan untuk cucu-cucunya.

Terpenting bagi Puji, di masa tua, ia tak ingin merepotkan ketiga anaknya yang seluruhnya sudah menikah.

“Bagi orang kaya [galon plastik] sampah, buat saya bisa nyambung hidup sampai sekarang dari [sampah galon] Le Minerale,” ucap Puji.

Untung Ratusan Ribu dari Sampah Galon

Berkah dari galon bekas juga turut dirasakan Prayogo, pengepul sampah di Jakarta. Jika di tangan kebanyakan orang sampah galon sekali pakai hanya dianggap sampah yang memenuhi sudut ruangan, namun bagi Prayogo, benda-benda plastik berukuran besar itu adalah ‘emas’ yang menggerakkan roda ekonominya.

Di dunia pengepulan, galon-galon ini punya sebutan khusus: bodong. Menurut Prayogo, galon plastik seperti produk Le Minerale memiliki kasta yang berbeda dibanding sampah plastik lainnya. Nilai jualnya jauh lebih tinggi dan stabil.

“[Sampah] galon itu dipisah, karena galon itu harganya lebih tinggi dibanding emberan (sampah plastik biasa),” ujar Prayogo saat ditemui di lapaknya.

Perhitungannya sederhana. Prayogo membeli galon kosong dari para pemulung seharga Rp 4.000 per kilogram, lalu menjualnya kembali ke pengepul besar seharga Rp 5.000 per kilogram.

Artinya dari setiap kilogram sampah galon, ia bisa mengantongi untung Rp 1.000. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan sampah plastik jenis emberan yang hanya memberi keuntungan sekitar Rp 600 per kilogram.

“Kalau emberan kita beli Rp 1.300, tapi kalau kita [jual] ke lapak lebih besar cuma dapat Rp 1.900. Jadi kita paling ngambil untung Rp 600. Tapi kalau galon kita bisa ngambil Rp 1.000 per kilo,” jelasnya.

Untung Rp 1.000 per kg mungkin terlihat kecil. Namun jika dihitung berdasarkan volume yang disetor ke lapak yang lebih besar, Prayogo bisa mengantongi ratusan ribu. Dalam dua hari sekali, Prayogo mampu mengirimkan minimal tiga hingga empat kuintal galon plastik.

“Lumayan bisa dapat Rp 400 ribu. Jadi memang di antara barang yang kita miliki khususnya untuk barang plastik, memang galon yang lebih tinggi dari keuntungan,” kata Prayogo.

Prayogo mulai terjun ke dunia sampah pada sekitar 2017–2018 melalui program Bank Sampah dari kelurahan setempat. Sebelum itu Prayogo menarik ojek. Ia lalu mencoba peruntungan baru tanpa memiliki pengalaman sedikit pun di bidang pengolahan sampah.

Karena ketidaktahuannya, Prayogo sempat menjadi korban kecurangan. Ia pernah merugi besar saat membeli kardus yang ternyata sengaja dibasahi agar timbangannya berat. Ia juga pernah tertipu saat membeli tembaga yang ternyata berisi aluminium dan kawat di dalamnya. Akibatnya, ia sempat terlilit utang hingga Rp 13 juta.

“Merugi itu jadi suatu pengalaman buat saya. Buat pembelajaran,” ujarnya.

Motivasi terbesar Prayogo untuk bangkit adalah keempat anaknya. Di saat usahanya yang belum stabil, ujian berat kembali datang. Anak pertamanya didiagnosa menderita leukemia akut. Selama hampir dua tahun, Prayogo harus berjuang membiayai pengobatan anaknya di RS Cipto Mangunkusumo yang mencapai Rp 8 juta per bulan.

Meski anak pertamanya akhirnya berpulang, Prayogo bersyukur karena seluruh biaya pengobatan dan perawatan selama sakit bisa tertutup dari hasil usahanya mengumpulkan sampah.

Kini, kerja kerasnya membuahkan hasil manis bagi anak-anaknya yang lain. Berkat pundi-pundi rupiah dari galon dan plastik bekas, Prayogo berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang pendidikan tinggi.

“Alhamdulillah anak nomor dua kuliah sudah lulus, yang anak nomor tiga masih kuliah saat ini semester tiga. Anak saya yang terakhir masih SMA kelas dua. Jadi disyukuri, intinya kita masih bisa membiayai anak-anak,” tuturnya dengan nada syukur.

Mengalirkan Kehidupan

Bukan hanya Puji dan Prayogo yang merasakan manfaat ekonomi dari sampah galon plastik. Banyak pemulung yang sengaja mengincar galon plastik karena hasilnya yang menjanjikan.

“Karena galon-galonnya Le Minerale ini jujur sangat membantu. Karena apa? Dia mudah didapat, harganya cukup tinggi. Jadi benar-benar membantu,” ucapnya.

Prayogo pun sering mendengar pengakuan haru dari para pemulung yang datang ke lapaknya untuk menyetor sampah galon. "Mereka bilang ke saya, ‘Pak, saya mendingan cari galon ini. Satu karung saja hasilnya sudah bisa buat beli beras sama lauk buat makan sekeluarga,’” cerita Prayogo.

Bagi Prayogo, tumpukan galon plastik yang ia gepengkan setiap hari bukan sekadar sampah. Galon-galon plastik itu merupakan jembatan harapan bagi para pemulung maupun pengepul seperti dirinya.

Jembatan harapan yang mampu mengubah hidupnya dari seorang pengojek menjadi bapak yang mampu mengantarkan anak-anaknya meraih gelar sarjana. Dari galon kosong itulah rezeki banyak orang terus mengalir.

“Yang jelas galon-galon [bekas] ini sangat membantu kehidupan,” tutupnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral Pungutan Warga Pindah di Sememi Surabaya, DPRD Minta Pemkot Verifikasi
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
BPBD Makassar Targetkan Program SALAMA Hadir di 100 Sekolah pada 2026
• 7 jam lalupantau.com
thumb
8 Klub akan Bertanding di Piala Presiden 2026, Hadiah Naik Jadi Rp6 Miliar
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
TNI: OPM Kerap Jadikan Masyarakat Sebagai Tameng Saat Berhadapan dengan Aparat
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Pramono Janji Segera Umumkan Tarif Baru Transjakarta
• 7 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.