Ribuan pasang mata terkesima saat kesenian Barong dan Jaranan tampil memukau di bawah langit senja kemerahan di kaki Gunung Ijen. Seni tradisi yang biasanya identik dengan keramaian jalanan kampung kini bertransformasi menjadi sebuah pertunjukan teatrikal yang anggun, tertata, dan penuh karisma dalam pergelaran bertajuk "Senja di Agrowisata Tamansuruh (AWT)" pada Minggu (5/7).
Lewat kurasi yang matang, kesenian rakyat ini berhasil "naik kelas" menjadi atraksi estetis yang memadukan kesakralan budaya dengan kemegahan modern. Langkah ini sekaligus membuktikan bahwa warisan leluhur mampu memikat segmen pasar yang lebih luas, termasuk wisatawan luar daerah hingga generasi Zilenial.
Eksotisme Alam di Kaki Gunung IjenBerlokasi di kawasan Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, destinasi yang bertengger pada ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini menyuguhkan pengalaman berwisata yang menyegarkan. Berada tepat di kaki Gunung Ijen, para pelancong langsung disambut embusan udara sejuk.
Tidak hanya itu, penonton juga disuguhi panorama eksotis berupa kemegahan puncak Gunung Ijen di satu sisi, serta hamparan Selat Bali yang membiru di sisi lainnya.
Saat pertunjukan dimulai, keindahan lanskap perbukitan berlatar matahari terbenam berpadu sempurna dengan tata lampu panggung yang dramatis. Ditambah iringan pawai budaya, gemuruh ritme gamelan, serta atraksi obor yang memukau, kesenian Barong tampil elegan tanpa menanggalkan nilai-nilai sakralnya.
Suasana semakin meriah saat kelompok Barong Cempaka Putih melenggang ke area utama. Dinamika gerak penari dan tabuhan musik pengiring menyatu harmonis dengan kemegahan panggung terbuka di bawah langit senja Tamansuruh.
Paket Lengkap Liburan yang StrategisLangkah memilih AWT sebagai panggung pertunjukan dinilai sangat strategis karena destinasi ini memang sedang diproyeksikan sebagai kawasan wisata integratif. Di sini, pelancong dapat menikmati paket lengkap liburan, mulai dari keindahan alam di kaki gunung, aktivitas berkuda, wahana ATV yang memacu adrenalin, wisata kuliner lokal, hingga suguhan pagelaran seni profesional.
Pengalaman magis dan berbeda ini turut dirasakan oleh Purnomo Aji, seorang pelancong asal Kalibaru yang datang memboyong keluarganya ke lokasi acara.
"Biasanya saya menonton Barong dalam acara hajatan di jalanan atau lapangan kampung. Namun sore ini atmosfernya luar biasa berbeda. Dengan latar perbukitan, permainan lampu yang estetis, suasana yang kondusif, serta kesempatan berinteraksi langsung dengan seniman, rasanya sangat eksklusif," tutur Purnomo.
Hal senada juga diungkapkan oleh Rosy Angelina, pengunjung asal Jajag, Banyuwangi, yang datang bersama keluarga besarnya.
"Acaranya seru sekali. Saya membawa keluarga ke sini sangat terhibur dengan sajian tradisional, musik, dan juga ada UMKM-nya. Mudah-mudahan terus konsisten memberikan keseruan seperti ini, jadi wisatawan lokal tidak perlu jauh-jauh lagi kalau mau liburan," ujar Rosy.
Mendorong Roda Ekonomi KerakyatanProgram "Senja di AWT" sejatinya bukan sekadar menjadi tempat nongkrong biasa. Program ini merupakan strategi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk mendongkrak ekonomi kerakyatan sekaligus memicu perputaran roda ekonomi berbasis masyarakat. Event berkala ini melibatkan sedikitnya 50 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Tingginya animo masyarakat menjadi sinyal kuat bahwa warisan leluhur memiliki daya saing global jika dikelola dengan sentuhan kreatif dan manajemen panggung yang modern. Harapan besar pun muncul dari masyarakat agar ruang kolaborasi seni seperti ini terus tumbuh secara berkelanjutan.
"Semoga ke depan Agrowisata Tamansuruh bisa menjadi panggung untuk seniman lokal Banyuwangi untuk bisa berkembang," harap Ramadani, salah seorang pengunjung asal Giri, Banyuwangi.
Dengan konsistensi pengemasan ini, Barong dan Jaranan kini bukan lagi sekadar hiburan komunal. Keduanya telah berevolusi menjadi mahakarya budaya yang mempertegas jati diri daerah sekaligus menjadi motor penggerak industri pariwisata.





