Jakarta: Dinamika geopolitik global dinilai tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui pengelolaan sumber daya alam dan penguatan fondasi ekonomi domestik.
Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier mengatakan dampak konflik geopolitik terhadap Indonesia lebih banyak dirasakan melalui sektor ekonomi, mulai dari harga minyak, nilai tukar rupiah, hingga ketergantungan terhadap impor.
"Kalau geopolitik orang selalu mengasosiasikan dengan perang di Selat Hormuz dan sebagainya. Yang penting bagi kita adalah apa pengaruhnya terhadap Indonesia," kata Fuad dalam seminar nasional bertajuk Konflik Geopolitik dan Ancaman Krisis Politik Pemerintahan Prabowo di Universitas Nasional (UNAS), Jakarta, Selasa, 7 Juli 2026.
Menurut Fuad, salah satu dampak paling nyata dari gejolak global adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Hal tersebut terjadi karena Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap barang impor sehingga perubahan kurs dolar berimbas langsung terhadap harga kebutuhan masyarakat.
Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk memperkuat ketahanan ekonomi melalui optimalisasi pengelolaan sumber daya alam dan devisa hasil ekspor.
"Kalau dolar hasil ekspor masuk ke negara, stok devisa kita akan kuat dan rupiah akan stabil. Kita punya nikel, batu bara, timah, dan berbagai komoditas lainnya yang nilainya sangat besar," kata Fuad.
Fuad juga berpandangan bahwa penguatan ekonomi nasional merupakan langkah penting agar Indonesia tidak mudah terdampak oleh gejolak eksternal yang dipicu konflik geopolitik maupun perubahan kebijakan ekonomi global.
Sementara itu, akademisi UNAS Hilmi Rahman Ibrahim mengatakan ketidakpastian geopolitik merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari dalam hubungan internasional.
Menurutnya, setiap negara perlu membangun daya tahan nasional karena konflik dan persaingan antarnegara akan terus berlangsung.
"Kalau kita bicara tentang uncertainty is certainty, ketidakpastian itu adalah kepastian. Jadi jangan pernah berharap konflik geopolitik akan berakhir. Dalam hubungan internasional, negara akan terus mencari pengaruh dan kekuasaan," kata Hilmi.
Ia menambahkan tantangan tersebut seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi ekonomi dan tata kelola pemerintahan agar mampu menghadapi perubahan situasi global.
Menurut Hilmi, persoalan geopolitik perlu disikapi secara realistis sebagai bagian dari dinamika internasional, bukan semata-mata dipandang sebagai ancaman.
"Setiap negara yang tidak siap menghadapi ketidakpastian akan tergilas. Karena itu, yang harus dibangun adalah kesiapan dan ketahanan nasional," pungkas Hilmi.




