Menolak Kedangkalan Digital: Menakar Ulang Konsep Diri dan Citra Perempuan di Tengah Arus Algoritma Media Sosial

terkini.id
3 jam lalu
Cover Berita

Terkini.id — Hari-hari ini, media sosial menawarkan sebuah ilusi bernama “kebebasan ekspresi” dan “pemberdayaan”. Kita disuguhi narasi bahwa setiap orang, khususnya perempuan, kini memiliki panggung yang sama untuk membangun citra diri atau personal branding. Ruang digital digadang-gadang sebagai ruang merdeka yang membebaskan perempuan dari sekat-sekat patriarki masa lalu. Namun, jika kita membedahnya lebih dalam, apakah perempuan benar-benar merdeka di ruang siber, atau jangan-jangan kita sedang merayakan bentuk penundukan gaya baru?

Realitas di lapangan justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Personal branding perempuan di era sekarang cenderung mengalami pendangkalan makna yang akut. Citra diri tidak lagi dibangun berbasis integritas intelektual atau karya yang substantif, melainkan bergeser menjadi sekadar kosmetik sosial sebuah topeng visual yang dipoles demi memburu pasokan likes, komentar, dan validasi semu dari netizen.

Kita harus berani jujur: banyak perempuan hari ini sedang dijebak oleh standar algoritma.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada bagaimana media sosial dan industri digital memperlakukan perempuan. Representasi perempuan di ruang publik digital hari ini masih terjebak dalam arus komodifikasi. Algoritma media sosial dirancang untuk menaikkan konten-konten yang mengeksploitasi aspek visual, tren estetik yang seragam, hingga gaya hidup konsumtif.

Ketika seorang perempuan tidak memiliki konsep diri yang kokoh, dia akan menyerap standar timpang ini mentah-mentah. Konsep diri mereka akhirnya dibentuk oleh apa yang diinginkan oleh pasar (the looking-glass self). Akibatnya, lahir kecemasan massal: perempuan sibuk mengubah penampilan, mematok standar kelayakan diri berdasarkan jumlah pengikut, dan mendefinisikan “keberdayaan” sebatas pencapaian materialistis belahan dunia digital. Branding diri pun kehilangan ruhnya; ia menjadi komoditas, bukan lagi representasi kapasitas diri yang autentik.

Di tengah kebisingan distorsi digital ini, Islam hadir menawarkan jawaban dan jalan keluar yang sangat revolusioner. Islam sejak awal kedatangannya telah memutus rantai objektifikasi manusia. Dalam kacamata Islam, kemuliaan dan kelayakan seorang individu baik laki-laki maupun perempuan sama sekali tidak diukur dari aspek material, fisik, rupa, atau seberapa populer ia di mata publik. Ukuran kemuliaan itu mutlak diletakkan pada kapasitas intelektual, moralitas, dan kualitas ketakwaannya (QS. Al-Hujurat: 13).

Konsep diri dalam Islam dibangun di atas kedaulatan berpikir yang merdeka. Ketika seorang perempuan muslimah memahami bahwa eksistensinya adalah sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi) dan hamba yang hanya tunduk pada Sang Pencipta, dia tidak akan sudi membiarkan nilai dirinya didikte oleh algoritma buatan manusia. Standar kelayakan dirinya sudah selesai di hadapan Tuhan, sehingga dia tidak lagi haus akan validasi eksternal yang melelahkan.

Dari sinilah personal branding menemukan kembali khitahnya. Bagi perempuan yang tercerahkan oleh nilai Islam, branding diri bukan sarana pamer eksistensi yang dangkal, melainkan sebuah pernyataan sikap politik dan ideologis. Ruang digital dan media massa digunakannya sebagai mimbar dakwah, etalase gagasan solutif, dan alat perjuangan untuk menebar kebermanfaatan.

Bagi Korps HMI-Wati (KOHATI), dekonstruksi konsep diri di era digital ini merupakan amanah ideologis yang mendesak. Perempuan dikodratkan sebagai madrasatul ula pendidik pertama dan utama bagi peradaban masa depan. Tugas yang teramat besar dan sakral ini tidak akan pernah bisa diemban oleh jiwa-jiwa yang rapuh, yang arah hidupnya masih ditentukan oleh ke mana angin tren media berembus.

Seorang perempuan tidak akan mampu mendidik generasi yang merdeka dan berdaulat, jika dirinya sendiri masih memelihara “mental jajahan” di bawah dikte pasar siber.

Personal branding kader perempuan harus menjadi antitesis dari kedangkalan industri media hari ini.

Sudah saatnya kita merebut kembali ruang kendali atas pikiran kita. Mari berhenti meletakkan kunci kelayakan diri kita di tangan algoritma. Mari isi ruang sunyi dialog batin kita dengan narasi yang memberdayakan, mengawinkan ketajaman intelektual dengan keanggunan moral. Karena pada akhirnya, sejarah tidak pernah mencatat para pengubah zaman sebagai orang-orang yang pasrah mengekor pada tren, melainkan mereka yang berani berdiri tegak memimpin narasi dan berkata: “Inilah aku, dan kitalah sutradara atas arah peradaban ini.”

Profil Singkat Penulis:

Khilfatul Ilmi Ketua Umum Korps HMI-Wati (KOHATI) Komisariat Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. Peserta Latihan Khusus Kohati (LKK) Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh KOHATI Cabang Wajo pada tahun 2026.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump Jadi Bulan-bulanan Netizen Usai AS Dihancurkan Belgia 1-4
• 10 jam lalumedcom.id
thumb
IHSG Ditutup Melesat 1,19% ke 5.986, Rupiah Ikut Menguat
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Bahlil: Ekspor Listrik Hijau ke Singapura Harus Saling Menguntungkan
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Sport Intelligence Jadi Strategi Baru Tingkatkan Prestasi Atlet Indonesia
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Prabowo-Modi Dukung Konektivitas Pelabuhan Sabang dan Kepulauan Andaman-Nikobar India
• 1 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.